Global News Indonesia
Menu
Djakarta Lloyd Berangkatkan 500 Pemudik Gratis - Bank DKI Dukung Sistem Pembayaran Railink - Berangkatkan 12 Ribu Nasabah, BRI Life Beri Ketenangan Perjalanan Mudik - 12.200 Orang Ikut Dalam Program Mudik Bareng BRI - Direksi BNI Kunjungi Karyawan di Outlet yang Buka Saat Libur Lebaran - Sambut Lebaran 2018 dan Tahun Ajaran Baru, BNI Bagikan 7.200 Paket Santunan Anak Yatim - Mudik Gratis Bareng BUMN 2018, BNI Bersinergi dengan Garuda dan KAI Angkut 1.250 Pemudik - BRI Jalin Kerjasama Pembiayaan Rumah Bagi Anggota POLRI - Bank DKI Raih Penghargaan The 1st Trendsetter e-Money dari Infobank - Jiwasraya Berangkatkan 1000 Pemudik Gratis

BCA Gelar Khazanah Batik Pesona Budaya

Mei 23, 2017 | news
(darikiri ke kanan) Rektor Universitas Pekalongan Suryani, Ketua Yayasan Batik Indonesia Nita Kenzo.Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur Edukasi & Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif Poppy Savitri,

(darikiri ke kanan) Rektor Universitas Pekalongan Suryani, founder Galeri Batik Jawa Indigo  Nita Kenzo, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur Edukasi & Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif Poppy Savitri,

JAKARTA:(Globalnews.id)- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menggelar acara diskusi bertajuk Khasanah Batik Pesona Budaya guna meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap batik.

Acara yang di gelar melalui Forum Kafe BCA ini dihadiri oleh Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, Direktur Edukasi & Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif Poppy Savitri, Rektor Universitas Pekalongan Suryani dan founder Galeri batik Jawa Indigo,  Nita Kenzo.

Jahja mengatakan Forum Kafe BCA VI ini digelar untuk memberikan rekam jejak falsafah batik kepada generasi muda supaya dapat mengenal lebih dekat batik dari masa ke masa. Melalui hal tersebut diharapkan batik dapat menjadi salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan.

“Kafe BCA VI membahas kedalaman rasa, makna, jiwa, cinta dan harmoni yang “tertulis” dalam kain batik sebagai karya seni yang orisinal. Sebagai kain peradaban, kain batik memiliki makna filosofis yang terkandung dalam setiapmotif, desain dan teknik pewarnaan yang melambangkan kearifan lokal bangsa Indonesia,” kata Jahja di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

lebih lanjut Jahja mengatakan aspek sosial budaya yag terangkum di balik sehelai kain Batik menawarkan nilai tambah yang tinggi di pasar domestik maupun internasional.

Sepanjang 2015 lalu, nilai ekspor batik mencapai angka US$178juta atau menigkat 25,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Saat ini batik asal Indonesia banyak menyasar Jepang, Amerika Serikat dan Eropa sebagai destinasi ekspornya. Beragam inisiatif yang dilakukan BCA lanjut Jahja berkontribusi menyediakan wadah bagi peningkatan kualitas para perajin Batik serta kemajuan budaya dan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. (jef)

Dalam Forum KAfe BCA VI tersebut juga sekaligus diluncurkan buku “Batik Pekalongan : Dari Masa ke Masa:. Buku yang ditulis oleh Budi Mulyawan itu didukung penuh oleh BCA sebagai salah satu inspirasi bagi kemajuan teknik membatik di Indonesia.

53144-batik-indigo

Batik Indigo

Dalam acara itu juga ditampilkan fashion show, dari roduk ramah lingkungan yang kini mulai diminati oleh banyak masyarakat di seluruh dunia, yaitu  batik Indigo dari Yogyakarta.

Menurut Nita Kenzo, batik Indigo adalah batik yang proses pewarnaannya menggunakan daun nila atau Indigofera tinctoria.

Sehingga batik-batik yang dihasilkan memiliki warna biru alami. Saat ini, kain batik indigo juga banyak digunakan untuk berbagai model pakaian yang lebih modern dan kekinian.

“Ini yang membuat Galeri Batik Jawa menggunakan tanaman indigofera dalam pembuatan batiknya. Kami mencoba mengembalikan batik ke pewarna alam, dan terbukti di Eropa, batik Indigo mulai banyak digandrungi karena mereka senang produk go green,” ungkap Nita

Sebenarnya, lanjut dia, penggunaan warna alam, khususnya indigofera sudah digunakan sejak dulu, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Sayangnya, pemanfaatan pasta indigofera ini di ekspor ke luar negeri, dan tidak digunakan di negara kita sendiri.

Untuk terus memproduksi kain batik indigo, kata Nita, Galeri Batik Jawa pun bekerja sama dengan para petani tanaman indigofera, sehingga membuka pekerjaan baru bagi petani yang mau menanam indigofera.

“Saat ini di dunia international, sudah ada anjuran untuk tidak lagi menggunakan pewarna yang bersifat sintetis, karena bisa merusak lingkungan, sehingga produk ramah lingkungan pun makin diminati. Inilah kesempatan Indonesia untuk mengenalkan batik Indigo,” tambahnya.

Tak hanya proses pewarnaannya yang unik, dengan adanya proses batik yang rumit, penuh makna dan filosofi, kental akan nilai-nilai budaya, batik Indigo bisa menjadi nilai lebih dari produk batik Indo ke depannya.(jef)

 

 

Related For BCA Gelar Khazanah Batik Pesona Budaya