Global News Indonesia
Menu
Kemenkop dan UKM Targetkan Beri Bantuan Dana pada 2.500 WP di 2019 - 60 Persen dari Rp 140 Triliun Untuk Sektor Produktif, Tantangan Bagi Penyalur KUR 2019 - BNI Nikmati Peningkatan Transaksi e-Channel - Pekerja MInyak Asal Minang, Buka Warung Padang "Rendang and Co" di AS - Industri Kreatif Perfilman Kini MUlai Berbadan Hukum Koperasi - Presiden Pimpin Gerakan Kawal Musim Tanam OKMAR 2018/2019 di Garut, Jawa Barat - LPDB KUMKM Siap Menyalurkan Dana ke Lembaga Keuangan Desa - ​ Kemenkop dan UKM Masih Layani Pendaftaran Koperasi Baru Sampai 1 Maret 2019 - BNI Dukung Program Wirausaha bagi Pensiunan Peserta Taspen - Gerakan Koperasi Pertanyakan Soal Dekopin , Pembahasan RUU Koperasi Segera Dirampungkan

BNI Boyong Mitra Binaan ke Kuala Lumpur 

April 16, 2018 | ekbis
KUALA LUMPUR:(Globalnews.id)-  PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengajak 5 mitra binaannya untuk mengikuti pameran produk-produk unggulan bertarap internasional, yaitu Indonesia Creative Product Festival (ICPF) 2018. Para mitra binaan tersebut diajak untuk menembus pasar baru bagi produk – produk unggulannya, yaitu pasar Malaysia.
      Kelima mitra binaan BNI tersebut diajak di pameran ICPF 2018 mulai 13 April 2018 hingga 15 April 2018 di Putra World Trade Center, Tun Razak 4, Kuala Lumpur, Malaysia. Hadir pada acara penutupan ICPF 2018,Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Fajar Harry Sampurno serta Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis Kementerian BUMN RI  Hambra Pimpinan.
     Corporate Secretary BNI Kiryanto menuturkan, para mitra binaan BNI ini mendapatkan kesempatan luas untuk mempromosikan produk-produk unggulan mereka secara langsung kepada para calon pembeli dari Malaysia. Mereka dapat menggunakan booth pameran sebagai salah satu sarana untuk mempromosikan produknya.
      “ICPF 2018 dapat menjadi wadah dan media yang efektif bagi mitra binaan BNI untuk memperkenalkan inovasi yang mereka hasilkan dan menunjukkannya kepada calon pembeli atau calon investor yang ada di Pasar Asia khususnya Malaysia.  Membuka pasar baru merupakan hal yang sangat penting bagi UMKM Indonesia, karena sebagian besar dari mereka merupakan pengusaha mikro. Mereka tidak hanya menghadapi tantangan dalam akses modal, melainkan juga dalam membuka akses pasar yang belum maksimal,” ujarnya.
      BNI mengajak mitra-mitra binaan yang konsisten mengembangkan produk-produk unggulannya. Mitra yang diajak adalah Pertama, Fahaltex dari Tegal, Jawa Tengah; Kedua,  Sulaman Ambun Suri asal Payakumbuh, Sumatera Barat; Ketiga, Galeri Tenun Ikat Dayak asal Pontianak, Kalimantan Barat; Keempat, Aneka Rendang Asese asal Padang, Sumatera Barat; Kelima, Olahan Lele buatan Karyadimeja asal Sleman, Jawa Tengah.
       Fahaltex merupakan mitra binaan yang memproduksi Sarung Tenun Goyor, yaitu sarung yang berkualitas dan memiliki nilai seni tinggi. Proses pembuatan satu lembar kain membutuhkan 19 tahapan selama kurang lebih 15 hari. Proses pembuatannya rumit, membutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran untuk sampai menjadi selebar kain sarung yang layak jual. Fahaltex mempertahankan metode tenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dioperasikan dengan tenaga manusia, sehingga, kualitas sarung goyor tetap terjaga dari dulu sampai sekarang.
        Adapun Sulaman Ambun Suri didirikan pada tahun 1975 oleh Hj Anisman Asri. Sejak tahun 2015 hingga sekarang, perusahaan ini dikembangkan oleh Ida Arleni selaku generasi penerus. Sulaman Ambun Suri adalah usaha yang secara komprehensif dan konsisten dikelola, dikemas, dan dipasarkan dengan mengetengahkan keanekaragaman sulaman & bordiran khas Sumatera Barat (Minangkabau).
         Sementara itu, Galeri Tenun Ikat Dayak yang berkembang di Kota Pontianak, Kalimantan Barat dibangun dengan dasar pemberdayaan masyarakat penenun, khususnya kaum perempuan Dayak untuk melestarikan budaya menenun. Produk-produk yang dihasilkan berupa fashion, aksesoris, kain dan syal tenun serta aksesoris rumah tangga.
        Mitra binaan penghasil Aneka Rendang Asese yang didirikan di Padang Sumatera Barat pada 23 Maret 2003 awalnya hanya membuat rendang sesuai pesanan, namun seiring berjalannya waktu rendang Asese sering menerima orderan dan mulai mendaftarkan perizinan Industri Rumah Tangga (IRT). ASESE telah memproduksi 8 jenis rendang yang telah mendapatkan sertifikat SNI serta produk olahan lainnya. Bahan baku ASESE berasal dari prosuk lokal dengan mutu prima, ditangani dan diproduksi dengan cara pengolahan yang baik sesuai Pedoman Teknis Pengolahan rendang.
       Rumah Produksi Karyadimeja adalah produksi lauk kering siap saji yang lezat & bergizi. Bahan baku didatangkan dari hasil budidaya lokal Sleman yaitu ikan lele. Karyadimeja memberikan nilai tambah agar ikan lele-nya dapat disimpan lebih lama. Untuk proses produksinya Karyadimeja mempekerjakan ibu-ibu rumah tangga, dengan harapan dapat meningkatkan ketrampilan dan pendapatan. Pemasaran produk Karyadimeja dilakukan melalui media online.
       Kiryanto menuturkan, BNI merupakan salah satu BUMN yang konsisten menggelar program-program pengembangan pasar UKM, baik yang dilakukan secara offine maupun secara online. Program tersebut harus terus dilakukan, salah satu yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian BUMN adalah dengan membangun Rumah Kreatif BUMN (RKB). BNI telah membangun lebih dari 40 RKB di seluruh Indonesia. Fasilitas ini tidak hanya membantu dari akses pendanaan, namun lebih jauh lagi, yaitu bagaimana agar UKM yang memiliki potensi dapat diberdayakan dengan sebaik-baiknya sehingga produk-produk yang dihadilkan layak untuk dijual, baik secara kualitas, kuantitas, maupun secara kemasan ke pasar yang lebih luas melalui online. (jef)
tags: ,

Related For BNI Boyong Mitra Binaan ke Kuala Lumpur