Global News Indonesia
Menu
Tingkatkan Kapasitas UMKM Pengrajin, Kemenkop & UKM dan Kemenperin Sinergi dengan Dekranas dan TP PKK - Kemajuan UKM Jadi Tanggung Jawab Bersama - E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi - Kejar Target Rasio Elektrifikasi, BNI Salurkan Kredit ke PLN Rp 1,1 Triliun - BNI Rintis “Aku Saudagar Muda” Cetak Siswa SMK Berjiwa Bisnis - Kemenkop dan UKM bersama TopKarir Atasi Masalah Pengangguran di Indonesia - BNI Berikan Solusi Keuangan Menyeluruh Bagi Semen Indonesia Group - Dua Ruas Tol yang Dibiayai BNI Diresmikan - Program Perhutanan Sosial, Dukungan BNI Sentuh 2.000 an Petani Jabar - Menteri Puspayoga Ajak Lulusan Unas Jadi Pengusaha

Indonesia Siap Edukasi UMKM dengan Fintech

Oktober 14, 2018 | koperasi dan ukm

NUSA DUA: (Globalnews.id)-Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM menyatakan siap untuk mengedukasi para pelaku UMKM di Tanah Air dengan materi fintech sebagai salah satu bahan bahasan besar dalam pertemuan tahunan IMF-WB.

“Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah meningkatkan literasi masyarakat terhadap produk keuangan digital,” kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati di Nusa Dua Bali, Minggu.

Ia mengatakan teknologi finansial atau fintech berpeluang menjadi platform untuk meningkatkan akses pendanaan bagi segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta keuangan syariah.

Fintech kata dia, juga memiliki fleksibilitas dengan layanan dan produk yang lebih mudah menjangkau konsumen dibandingkan dengan layanan jasa keuangan konvensional.

“Tingkat penetrasi fintech yang tinggi akan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama segmen yang tidak memiliki akses terhadap keuangan, seperti UMKM,” katanya.

Di Indonesia segmen UMKM berperan besar dalam perekonomian karena menyerap 60 persen dari lapangan pekerjaan dan berkontribusi hingga 40 persen dari PDB.

“Maka keberadaan dan penggunaan Fintech saat ini akan sesuai dengan tuntutan masyarakat Indonesia dengan posisi geografis yang berbentuk kepulauan dan tersebar luas,” katanya.

Terlebih karena Fintech bisa bergerak di berbagai lini jasa keuangan, bukan hanya P2P lending. Ada sektor lainnya, seperti pembayaran, asuransi, tabungan, pengelolaan investasi, hingga pengumpulan dana.

Bank Indonesia mendefinisikan Financial technology/FinTech sebagai hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melalui transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran dalam hitungan detik saja.

Yuana melihat saat ini banyak orang membeli produk keuangan secara digital tapi tidak memahami cara menggunakannya.
Oleh karena itu, literasi mengenai produk-produk jasa keuangan harus terus ditingkatkan.

“Kami secara khusus memberikan apresiasi kepada OJK atas terselenggaranya seminar fintech ini dan berharap dapat mengedukasi masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi,” katanya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar acara Seminar Fintech Talk di Hotel Ayana, Bali, Jumat 12 Oktober 2018, sebagai salah satu rangkaian acara dalam pertemuan IMF-WB.

Pada kesempatan itu hadir Ketua OJK Wimboh Santoso, Professor Columbia University Joseph Stiglitz, Professor Stanford University John B. Taylor, Chancellor of the Exchequer UK Philip A. Hammond, Tsing Hua National Institute of Financial Research Ma Jun.(jef)

Related For Indonesia Siap Edukasi UMKM dengan Fintech