Global News Indonesia
Menu
Tahun 2020 diyakini jadi era kebangkitan brand lokal Indonesia - Optimalisasi Perekonomian Domestik Jadi Tumpuan Pertumbuhan Ekonomi - Kemenkop dan UKM Genjot Potensi Daerah Tasikmalaya - BNI Hong Kong Promosikan Investasi dan Ekspor Indonesia - Dipimpin Kemenkop dan UKM, Stakeholders Selaraskan Strategi Nasional Pengembangan UMKM - ICEE Indonesia 2019, Gairahkan Pasar Elektronik Indonesia Menuju Industri 4.0 di Segmen Consumer Electronics - Kemenkop dan UKM Rumuskan Formula Tepat Sistem Pelayanan Publik - BNI Ajak Pegawai Cerdas Tangani Sampah - Kemenkop dan UKM Siap Bangun Rumah Produksi Bersama buat UMKM di Destinasi Wisata Labuan Bajo NTT - Menkop dan UKM Bersama Stafsus Presiden Bahas Pengembangan Produk UMKM

Jika 10% UKM Naik Kelas, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Capai 6,5 %

November 27, 2019 | koperasi dan ukm

JAKARTA:(GLOBALNEWS.ID)-Kementerian Koperasi (Kemkop) dan UKM berkomitmen mendorong usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk naik kelas. Hal itu diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada tren yang positif di tengah tantangan global yang semakin berat.

UMKM selama ini dianggap paling tahan terhadap resistensi ekonomi sehingga keberadaannya perlu untuk terus dikuatkan.
Demikian dikatakan Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik, dalam diskusi dengan tema “Menjaring Kemitraan, Perkuat UMKM Naik Kelas” di Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Data dari Kemkop dan UKM, kontribusi UMKM dalam struktur produk domestik bruto (PDB) cukup signifikan yaitu 60,34%. Sektor ini juga memberikan ruang bagi penyerapan tenaga kerja nasional hingga 97% dan 14,17% dari total ekspor. Sementara jumlah UMKM sendiri saat ini mencapai 64,2 juta UMKM dengan total investasi mencapai 58,18%.

Abdul mengatakan, potensi sektor UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau PDB nasional terus bertumbuh sangat besar. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa melesat sehingga tidak stagnan di sekitar 5% yaitu dengan mendorong UMKM naik kelas.

Menurutnya, apabila ada UMKM yang naik kelas sekitar 2,5% dari jumlah total maka kenaikan PDB berpotensi mencapai tumbuh Rp 486 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 5,88%. Sementara jika ada 10% UMKM yang naik kelas peluang PDB akan tumbuh sebesar Rp 936 triliun atau setara PDB 6,59%.

Kemudian, Abdul mengatakan, jika ada UMKM yang tumbuh besar sebesar 10% maka potensi pendapatan negara akan tumbuh sekitar Rp 1,872 triliun atau setara pertumbuhan PDB sebesar 8%.

“UMKM naik kelas itu penting, sebab persentase UMKM yang naik kelas itu akan menentukan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Masalahanya, UMKM kita ini masih banyak yang belum percaya diri,” kata Abdul.

Dijelaskannya, beberapa persoalan yang kerap dihadapi oleh UMKM diantaranya adalah SDM dan Manajemen yang terbatas dan kurang memanfaatkan teknologi dalam hal produksi hingga pemasaran.

Inovasi dari rata-rata UMKM selama ini juga masih minim sehingga bisnis UMKM kerap jalan di tempat. Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kadang menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktifitasnya. Persoalan terakhir yaitu keterbatasan akses pemasaran dan juga penyediaan bahan baku.

Untuk mengatasi berbagai persaolan tersebut, Abdul Kadir Damanik menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan enam strategi jitu. Pertama, Kemenkop dan UKM komitmen untuk memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sektor produksi atau jasa. Kedua adalah dengan memberikan dukungan pembiayaan ketika UMKM tidak dapat mengakses pembiayaan melalui perbankan. Ketiga, Kemkop dan UKM juga menjamin akan terus memberikan kemudahan serta kesempatan berusaha.

Strategi keempat yaitu meningkatkan daya siang produk UMKM dengan mendorong UMKM memiliki standar kualitas mutu tertentu. Kelima, pengembangan kapasitas manajemen SDM pelaku UMKM dengan terus melakukan pendampingan baik secara online ataupun offline.

Keenam, Kemkop dan UKM akan terus bersinergi dengan Kementerian dan Lembaga terkait dan stakeholder lainnya agar lima strategi tersebut dapat berjalan sesuai harapan. “Dari itu (strategi) kita harapkan bisa ada perubahan dimana UMKM bisa menjadi bagian dari global value chain. Kemudian juga bisa tetap melahirkan enterpreneur baru. Itu yang akan kita tuju dalam 5 tahun kedepan,” pungkas Abdul.

Di tempat yang sama, Ketua Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel), Suryo Hadiyanto, menambahkan untuk bisa menscale up koperasi dan UMKM perlu ada terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pengurus koperasi atau pelaku UMKM itu sendiri. Menurutnya koperasi dan UMKM wajib memanfaatkan perkembangan teknologi untuk dapat memasarkan produk-produknya. Dengan begitu pangsa pasar dari koperasi dan UMKM juga akan semakin luas.

Setidaknya, Kisel melakukan tiga terobosan yaitu dengan membuat sebuah aplikasi, memperluas channel dan platform baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan bahwa produk-produk dan layanan dari Kisel tersertifikasi atau memenuhi standar yang ditentukan. Dengan begitu daya saing dan tingkat kepercayaan customer terhadap produk dan layanan dari Kisel terjamin.

“Kita bangun people, sistem dan teknologi. Kita juga sertifikasi SDM kita sebab bagaimanapun sebagai institusi kalau kita sendiri tidak bisa berikan standar mutu tingkat internasional, nggak mungkin customer kita percaya. Dengan punya sertifikasi itu bahkan semua unicorn mau kerjasama dengan kita, karena mereka firm dan yakin Kisel udah ikuti standar dunia,” kata Suryo.

Suryo menjelaskan, Kisel saat ini beranggotakan 6.797 orang yang merupakan karyawan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kisel sendiri memiliki tiga unit bisnis utamanya yaitu Sales and Channel (S&C), General Services (GS), dan Telco Infrastructure & Power Engeenering.

Dari tiga unit bisnis ini Kisel berhasil mendirikan lima perusahaan yaitu PT Kinarya Alih Daya Mandiri (KAM), PT Kinarya Alih Selaras (KST), PT Kinarya Selaras Piranti (KSP), PT Kinarya Selaras Solusi (KSS) dan PT Kinarya Mandiri Konstruksi.

Suryo menyatakan, Kisel menargetkan pada tahun 2020 membidik target omset hingga Rp7 triliun. Dengan digitalisasi usaha dan inovasi yang terus dilakukan oleh Kisel saat ini bisa mencapai omset sebesar Rp6 triliun. “Tahun 2020 nanti kita harap bisa sentuh Rp7 triliun, kalau bisa kita optimalkan lagi agar bisa mencapai Rp8 triliun,” pungkas Suryo. (jef)

Related For Jika 10% UKM Naik Kelas, Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bisa Capai 6,5 %