Menu
Seskemenkop dan UKM Apresiasi LPDB dan Pemprov Sulsel - Kabar Gembira bagi Pemilik Kapal, Dokumen Bisa Jadi Agunan Kredit - Menkop dan UKM Teten Masduki: UMKM Harus Mampu Memahami Tren Market Dunia - Gandeng Sicepat Ekspres, Skeenshop.id Siap Beri yang Terbaik Bagi Pelanggan - Angkasa Pura I Raih Penghargaan RRI iConomics BUMN Brand Award 2020 "Millenial's Choice" - LPDB KUMKM Berikan Kelonggaran Penundaan Pembayaran Sampai 12 Bulan bagi Pedagang Terdampak Kebakaran Pasar Cempaka Putih - KemenkopUKM beri Pembekalan Peserta Magang Bagi Pemuda Untuk Mencetak Wirausaha Baru - Dukung Qanun LKS Aceh, BNI Syariah Total Tambah 13 Outlet Baru - KemenkopUKM Gulirkan Program Magang Untuk Cetak Wirausaha Baru - KemenkopUKM Siapkan Bantuan Program Buat Pedagang yang Terdampak Kebakaran di Pasar Cempaka Putih

Kembangkan Destinasi Wisata Alam Petungkriyono Melalui Koperasi dan Medsos

Agustus 9, 2020 | koperasi dan ukm

Pekalongan:(Globalnewsid) – Ternyata, kawasan Jawa Tengah masih menyimpan potensi besar di sektor pariwisata yang masih bisa dikembangkan. Salah satunya, wisata alam Petungkriyono, berjarak sekitar 50 kilometer dari Pekalongan.

“Untuk pengembangan itu, sebaiknya para pegiat atau pengelola destinasi di Petungkriyono untuk membentuk atau bergabung dengan badan hukum koperasi,” kata Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, pada acara pelatihan kewirausahaan di kawasan pariwisata, di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (8/8).

Di acara yang juga dihadiri Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Pekalongan Hurip Budi Riyantini, Arif mengatakan, dengan berkoperasi maka akan lebih mudah mengakses ke pembiayaan maupun program-program pemerintah lainnya.

“Koperasi di wisata alam Petungkriyono bisa menjadi koperasi yang besar karena memiliki potensi yang sangat besar,” ucap Arif.

Arif juga mengajak para pegiat wisata di Petungkriyono untuk promosi dan memasarkan wisata alam melalui teknologi informasi. Salah satunya, media sosial. “Dengan sering upload foto keindahan alam Petungkriyono di sosmed, akan semakin banyak yang tahu dan bakal datang berkunjung,” jelas Arif.

Arif meyakini dalam dua tahun ke depan wisata alam Petungkriyono bakal menjadi primadona baru wisatawan lokal dan mancanegara. “Apalagi, sarana jalan dari Pekalongan ke Petungkriyono sangat mulus. Manfaatkan itu sebagai sebuah keunggulan,” tukas Arif.

Sementara itu, Ketua BUMDes Bersama (BUMDesMa) Petung Jaya, Slamet Susanto, berharap agar pelatihan kewirausahaan dan perkoperasian yang digelar Kementerian Koperasi dan UKM di Petungkriyono dapat lebih mendorong dan menyadarkan masyarakat, khususnya Kelompok Sadar Wisata, akan manfaat media sosial dan koperasi.

Terlebih lagi, lanjut Slamet, sudah ada koperasi disana sebagai perintis. Yaitu, Kopisetara atau Koperasi Sentra Wisata Alam Nusantara. Nantinya, permodalan bagi pegiat pariwisata akan diperoleh dari koperasi. Koperasi juga yang akan mengelola sarana outbond di setiap destinasi di Petungkriyono.

Ke depannya, dalam kerangka pengembangan, koperasi yang akan menambah fasilitas bagi wisatawan seperti penyewaan motor, sepeda, dan sebagainya. “Kita juga akan mengembangkan pusat oleh-oleh khas Petungkriyono. Sayuran dan kopi hasil petani akan dijadikan souvenir bagi wisatawan,” ucap Slamet.

Bahkan, sejak marketplace kondang Tokopedia masuk ke Petungkriyono dengan memberi pelatihan dan edukasi masyarakat dari offline ke online, pemasaran Kopi Petung semakin meluas.

“Produk Petungkriyono seperti kopi dan gula semut, sudah dijual di tokopedia, shopee, bukalapak,” kata Slamet.

Bagi Slamet, hal terpenting untuk maju dan berkembang adalah harus kreatif dan berinovasi. Lihat saja, sebelum tahun 2004, kawasan Petungkriyono seluas 7000 hektar, belum cukup dikenal banyak orang.

Namun, setelah mendapat sentuhan kreatif, nama Petungkriyono sebagai wisata alam mulai menggema hingga ke mancanegara.

Pada tahun itu, Slamet baru mulai memoles dan mengembangkan Desa Curug Muncar sebagai kawasan wisata. Setelah mendapat respon positif, baru pada 2008, seluruh potensi desa-desa yang ada di Petungkriyono ikut dikembangkan. “Kita bekerjasama dengan Perhutani sebagai pemilik lahan,” kata Slamet yang alumni IPB jurusan kehutanan (ekowisata) angkatan 38.

Kawasan Petungkriyono memiliki sembilan desa. Yaitu, Yosorejo, Simego, Gumelem, Telogohendro, Telogopakis, Kasimpar, Kayupuring, Curug Muncar, dan Songgodadi. “Semua desa di Petungkriyono memiliki potensi air terjun atau curug yang indah untuk dinikmati wisatawan,” ucap Slamet.

Selain air terjun dan keindahan alam hutannya, Petungkriyono juga memiliki potensi lainnya seperti camping ground, budaya masyarakat, peninggalan sejarah (tugu Belanda), dan Situs Gedong (megalitikum batu-batu besar). “Juga ada peninggalan Linggayoni, yaitu kepercayaan orang Hindu masa lalu tentang kesuburan tanah di Petungkriyono,” kata Slamet.

Bahkan, dalam waktu dekat, akan ada fasilitas wisatawan penggila Paralayang di Desa Yosorejo. “Sedang kita persiapkan,” tukas Slamet seraya menyebutkan, untuk mengelola destinasi Petungkriyono, setiap desa memiliki dua Kelompok Sadar Wisata, dan BUMDesMa sebagai holdingnya.

Diakui Slamet, jumlah wisatawan yang datang ke Petungkriyono terus meningkat, terutama pada musim liburan dan akhir pekan. Di Curug Lawe saja ada sekitat 2.000 orang perbulan. Bahkan, di Welo Asri sudah mencapai 3000-4000 orang perbulan. Bahkan, di era New Normal saat dibuka, pengunjung ke Petungkriyono tercatat overload.

“Di Welo Asri ada permainan River Tubing meluncur di sungai memakai ban seperti Goa Pindul di Yogyakarta”, kata Slamet.

Turis Asing

Khusus untuk turis asing, biasanya mereka melakukan wisata pengamatan hewan di hutan. Di hutan Petungkriyono ada beberapa jenis hewan primata (monyet dan Lutung Owa Jawa), serta jenis-jenis burung. “Biasanya ramai turis asing itu awal September,” imbuh Slamet.

Terkait fasilitas bagi wisatawan, Slamet mengakui belum sempurna seperti kawasan wisata terkenal lainnya. Baru ada lima homestay sederhana di setiap desa. Totalnya, ada 45 homestay di Petungkriyono. “Baru ada satu semacam resort, rumah pohon, dan rumah kayu di kawasan Curug Lawe,” aku Slamet.

Meski begitu, jalanan menuju Petungkriyono meski menanjak terjal dan menurun tajam, terbilang bagus dan mulus. Bahkan, rencananya, jalan menuju Petungkriyono dari Pekalongan akan masuk menjadi jalan provinsi.

Dampak Ekonomi

Slamet mengakui, sejak Petungkriyono dikenal sebagai destinasi wisata, dampaknya terhadap ekonomi masyarakat sekitar sudah dirasakan. “Banyak warga yang membuka homestay, warung makan, toko kelontong, dan sebagainya, untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan,” kata Slamet.

Hanya saja, Slamet menjelaskan, masih butuh proses lagi untuk membangkitkan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan wilayahnya sebagai destinasi wisata. “Masih butuh proses dari masyarakat petani menjadi kawasan wisata,” tukas dia.

Padahal, selain potensi wisata, Slamet juga melihat potensi lainnya seperti perkebunan kopi (arabica dan robusta), peternakan sapi, hingga sayur-sayuran. Nantinya, akan dikembangkan wisata edukasi bagi para siswa, terkait peternakan sapi.”Peluang masih banyak di Petungkriyono yang bisa dikembangkan dengan berkoperasi,” pungkas Slamet.(jef)

Related For Kembangkan Destinasi Wisata Alam Petungkriyono Melalui Koperasi dan Medsos