Global News Indonesia
Menu
BNI Dukung Program Wirausaha bagi Pensiunan Peserta Taspen - Gerakan Koperasi Pertanyakan Soal Dekopin , Pembahasan RUU Koperasi Segera Dirampungkan - Barisan Prabowo Sandi: Melalui Pemilu Inginkan Perubahan, Kebijakan ke Depan Harus Berpihak pada Rakyat - Kemenkop dan UKM Diharapkan Fokus Pada Upaya Reformasi Total Koperasi - Kemenkop dan UKM Berharap Kemitraan dengan India mampu perkuat eksistensi UMKM Hadapi Revolusi Industri 4.0 - Jadi Entrepreneur Jangan Mudah Menyerah - Peroleh SMM ISO 9001:2015, Kini RTGS, Remitansi, dan Garansi Bank BNI Berstandar Dunia - 3,9 Juta Pelaku UMKM Nikmati KUR BRI Senilai Rp.80,2 Triliun di 2018 - Sukses Salurkan Rp 7,3 Triliun di 2018, BNI Kembali Salurkan Bansos PKH Non Tunai Tahun 2019 - Capai Pertumbuhan Remitansi Dua Digit Pada 2018, BNI Jadi Pioneer Go Live SWIFT GPI di Indonesia

Kemenkop dan UKM Fokus Pelatihan Vocational di Daerah Bencana

Oktober 7, 2018 | koperasi dan ukm


JAKARTA:(Globalnews.id) – Plt Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Rully Nuryanto mengungkapkan bahwa sepanjang 2018 pihaknya sudah melakukan pelatihan vocational (keterampilan) di delapan wilayah yang terkena bencana. Seperti Kabupaten Pacitan (banjir), Kabupaten Tasikmalaya (gempa), Kabupaten Garut (banjir), Kabupaten Lombok Timur (banjir bandang), Kabupaten Bireuen (gempa), Kabupaten Karangasem, Bali (gunung meletus), Kabupaten Bangli (gunung meletus), dan Kabupaten Gunung Kidul (banjir). Total peserta pelatihan sebanyak 240 orang.

“Sesuai PP 21 Tahun 2008 tentang Penanggulangan Bencana, peran Kemenkop UKM lebih kepada upaya pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya, melalui pembinaan kemampuan keterampilan masyarakat yang terkena bencana”, kata Rully kepada wartawan di Jakarta, Jumat (5/10).

Rully menambahkan, materi pelatihan vocational disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dan sesuai dengan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Misalnya, di Pacitan pelatihan vocational bidang olahan pisang dan emping jagung, di Tasikmalaya bidang rias dan tata boga, di Garut bidang tata rias dan pengolahan makanan, di Lombok Timur bidang pembuatan terasi dan kue kering, di Bireuen bidang perbengkelan sepeda motor dan tata boga, di Karangasem bidang penyulingan minyak wangi dan dupa serta packaging, di Bangli bidang kerajinan anyaman bambu, dan di Gunung Kidul bidang kue kering dan kue basah.

Selain itu, lanjut Rully, dalam rangka percepatan pemulihan pasca bencana gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB), pihaknya sudah menggelar pelatihan vocational dengan peserta sebanyak 60 orang. “Sedangkan kegiatan pelatihan terpadu seperti pelatihan kewirausahaan, perkoperasian, dan vocational, yang bekerjasama dengan Dekranas dan PKK yang sedianya dilaksanakan pada 8 Oktober 2018 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, diundur pelaksanaannya mengingat kondisi Kota Palu pasca bencana dan tsunami masih belum kondusif. Karena, bantuan yang lebih diperlukan dalam hal logistik, medis, dan perbaikan infrastruktur yang rusak”, ungkap Rully.

Tahun depan, Rully menjelaskan, pihaknya tetap fokus dan sudah menetapkan program pelatihan vocational di daerah pasca bencana. Diantaranya, Kabupaten Karo, Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, Kota Mataram, Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala, dengan total peserta sebanyak 330 orang.

Di samping program pelatihan di wilayah terdampak bencana, pada 2018 ini juga Kemenkop UKM telah menggelar program pelatihan vocational di daerah perbatasan dan daerah tertinggal. “Di daerah perbatasan, kita bekerjasama dengan Badan Nasional Pengelola Daerah Perbatasan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta dinas koperasi UKM yang ada di wilayah perbatasan”, jelas Rully.

Untuk pelatihan vocational di daerah tertinggal, Rully menyebutkan, berdasarkan Perpres 131 Tahun 2015 tentang penetapan daerah tertinggal 2015-2019 sebanyak 122 kabupaten di 23 provinsi. “Kita menggelar program pelatihan di 13 kabupaten, seperti Bondowoso, Sorong, Raja Ampat, Gorontalo Utara, Boalemo, Sigi, Bima, Banggai Kepulauan, Nias Utara, Lombok Barat, Situbondo, Seluma, dan Halmahera Selatan. Materi pelatihan selain menjadi kebutuhan dan potensi masyarakat setempat, juga diharapkan bermanfaat bagi masyarakat disana untuk bisa memulai sebuah usaha”, imbuh Rully.

Yang tak kalah menarik adalah khusus di provinsi Papua dan Papua Barat, Kemenkop UKM sudah melakukan prlatihan vocational, kewirausahaan, hingga pelatihan perkoperasian. “Disini, kita memiliki tugas dalam peningkatan keterampilan berwirausaha untuk orang asli Papua dan kewirausahaan mama-mama Papua”, pungkas Rully.(jef)

Related For Kemenkop dan UKM Fokus Pelatihan Vocational di Daerah Bencana