Global News Indonesia
Menu
BNI Dukung Program Wirausaha bagi Pensiunan Peserta Taspen - Gerakan Koperasi Pertanyakan Soal Dekopin , Pembahasan RUU Koperasi Segera Dirampungkan - Barisan Prabowo Sandi: Melalui Pemilu Inginkan Perubahan, Kebijakan ke Depan Harus Berpihak pada Rakyat - Kemenkop dan UKM Diharapkan Fokus Pada Upaya Reformasi Total Koperasi - Kemenkop dan UKM Berharap Kemitraan dengan India mampu perkuat eksistensi UMKM Hadapi Revolusi Industri 4.0 - Jadi Entrepreneur Jangan Mudah Menyerah - Peroleh SMM ISO 9001:2015, Kini RTGS, Remitansi, dan Garansi Bank BNI Berstandar Dunia - 3,9 Juta Pelaku UMKM Nikmati KUR BRI Senilai Rp.80,2 Triliun di 2018 - Sukses Salurkan Rp 7,3 Triliun di 2018, BNI Kembali Salurkan Bansos PKH Non Tunai Tahun 2019 - Capai Pertumbuhan Remitansi Dua Digit Pada 2018, BNI Jadi Pioneer Go Live SWIFT GPI di Indonesia

Kemenkop Dorong Pelaku UKM Penyandang Disabilitas Naik Kelas

Juli 27, 2017 | koperasi dan ukm

BOGOR;(Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementrian Koperasi dan UKM Prakoso BS menekankan bahwa penyandang disabilitas memiliki persamaan hak yang sama dalam berwirausaha di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya kembali menggelar program rutin berupa pelatihan kewirausahaan bagi pelaku UKM penyandang disabilitas. “Mereka sudah memiliki unit usaha yang berkembang. Dengan pelatihan ini diharapkan mereka akan naik kelas dari usaha mikro ke kecil”, kata Prakoso dalam rilisnya pada acara Pelatihan Kewirausahaan Bagi Penyandang Disabilitas, di Megamendung, Kabupaten Bogor, Rabu malam (26/7).

Di acara yang dipadati puluhan penyandang disabilitas dari Bandung, Bogor, Karawang, Indramayu, Purwakarta, dan Banjar (Jawa Barat), Prakoso mengatakan, pelatihan yang diberikan diantaranya perkoperasian, manajemen usaha, laporan keuangan, kemasan, pengurusan perizinan, pemasaran, dan sebagainya. “Pelatihan kewirausahaan bagi kelompok strategis memang sesuai kebutuhan mereka. Bagi yang belum memiliki usaha, akan kita motivasi untuk mulai berwirausaha agar mampu hidup mandiri”, kata Prakoso.

Salah satu peserta, Hasan Basri, yang juga sebagai Ketua Himpunan Disabilitas Indonesia (HDI) Kota Bogor, mengatakan, dari total anggota HDI Kota Bogor yang mencapai 1000 orang, 20% diantaranya sudah dianggap berhasil dalam berwirausaha. “Rata-rata anggota kami bergelut di bidang usaha menjahit, kerajinan tangan, produsen tas, perbengkelan, batik, hingga sablon”, kata Hasan yang kehilangan kedua tangannya saat kecelakaan tegangan tinggi listrik pada 2006.

Hasan menjelaskan bahwa pelatihan kewirausahaan ini disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas. Diantaranya, tunarungu, tuna daksa (polio, fisik), tuna grahita (keterbelakangan mental), dan tunanetra. “Tujuan kami mengikuti pelatihan ini adalah ingin menimba ilmu kewirausahaan secara baik dan benar. Karena, selama ini kami memiliki unit usaha yang lahir secara otodidak. Kami ingin hidup mandiri seperti layaknya yang lain”, imbuh Hasan.

Hasan yang memiliki usaha produksi tas wanita di Tajur, Bogor, dengan merek HS Collection, mengungkapkan bahwa ilmu yang didapat dari pelatihan ini nantinya akan ditularkan ke seluruh aggota HDI Kota Bogor. “Ilmu ini juga akan kami gunakan untuk melatih keterampilan bagi penyandang disabilitas di daerah lain, bekerjasama dengan Dinas Sosial pemda setempat. Selain itu, kami juga terus memotivasi penyandang disabilitas untum termotivasi dan berani menekuni dunia usaha. Kesulitan awal kami adalah memacu rasa percaya diri para penyandang disabilitas. Alhamdulillah, perlahan namun pasti, mereka kini mampu hidup mandiri dengan penuh rasa percaya diri”, tandas Hasan lagi.

Hasan pun berharap agar pemerintah terus meningkatkan porsi dan kuota pelatihan bagi penyandang disabilitas. “Ke depan, kami membutuhkan pelatihan khusus untuk usaha sablon. Karena, kami sudah memiliki lengkap alat sablon dari seorang donatur, namun belum bisa mengoperasikannya”, ungkap Hasan.

Sedangkan peserta pelatihan lainnya, Agus Ruyadi asal Bogor yang tidak memiliki kaki secara sempurna, mengatakan bahwa dirinya baru menekuni usaha budidaya dan pengolahan obat herbal dari buah dan daun Tin sejak Februari 2017 ini, dengan merek Teteh Tin. “Di dalam kandungan buah Tin terdapat mineral dan vitamin yang sangat berguna bagi tubuh kita. Dan juga mampu menyembuhkan berbagai penyakit seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes, dan sebagainya. Memang, di Indonesia belum banyak masyarakat yang mengkonsumsinya. Tapi, saya yakin ke depan ini merupakan bisnis yang potensial. Pasalnya, California Fig-s Advisory sudah melansir kandungan nutrisi buah Tin ke seluruh dunia”, kata Agus.

Oleh karena itu, Agus berharap, pemerintah bisa memfasilitasi usahanya dalam pengurusan perizinan, hak cipta, merek, juga label halal dari MUI, bagi produknya. “Di pelatihan ini juga saya ingin mendapatkan pelajaran mengenai manajemen usaha yang sesungguhnya. Saya juga ingin memahami dan menguasai ilmu pemasaran secara online. Sehingga, saya bisa memperluas pangsa pasar bagi produk yang saya buat”, pungkas Agus.(fan)

 

 

Related For Kemenkop Dorong Pelaku UKM Penyandang Disabilitas Naik Kelas