Global News Indonesia
Menu
Standardisasi dan Sertifikasi Produk KUMKM Diperlukan Agar Jadi Usaha yang Berkelanjutan dengan Skala yang Lebih Besar - RA Suhardani Bustanil Arifin Raih Mahakarya Budaya dari MURI - Di Hadapan Mahasiswa UIN Walisongo, Rano Karno Bicara Strategi Bisnis Millenial - Perkuat Ekspor Indonesia, BNI Rangkul Mitra Bisnis di Singapura - Kemenkop dan UKM Perkuat Pengawasan Koperasi Melalui Peningkatan IT - OASE Bersama Kemenkop dan UKM Sinergi Program Pemberdayaan Masyarakat di Malaka - BNI Pertahankan Keunggulan Layanan Trade Finance - Marketing Bagian Penting Pemasaran Produk KUKM - Kepedulian Pemda diharapkan untuk Majukan Koperasi - Menteri Puspayoga Launching Desa Terang 2018 di Lampung

LPDB-KUMKM Mulai Salurkan Dana Bergulir dengan Pola Baru

Maret 27, 2018 | koperasi dan ukm

j

SURABAYA: (Globalnews.id)- Lembaga Pengelola Dana Bergulir – Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB- KUMKM) mulai menyalurkan dana bergulir dengan pola baru yang melibatkan lembaga penjaminan (Jamkrindo dan Jamkrida) sebagai pihak yang pertama menganalisa kelayakan proposal.

“Ini adalah jawaban dari berbagai pertanyaan selama ini, bagaimana sebenarnya paradigma baru yang dibangun dimana
kami membangun kolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi didukung dinas kab/kota, Jamkrindo dan Jamkrida,” ujar Dirut LPDB-KUMKM, Braman Setyo, dalam Rakor Pengalihan Dana Bergulir Serta Sosialisasi dan Bimtek Program Inklusif LPDB -KUMKM tahun 2018, di Surabaya, Selasa (27/3).

Dalam kesempatan itu, Braman Setyo menyerahkan secara simbolis dana bergulir ke BPRS Buana Mitra Perwira, kab Purbalingga, Jateng sebesar Rp 6 miliar dan BPR Surya Yudha, Wonosobo Jateng senilai Rp 7,5 miliar.

Acara itu juga dihadiri Dirut Bank Jatim Suroso, Kadinas Koperasi dan UKM Jatim Maspurnomo Hadi, Sekretaris Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM Halomoan Tamba, Direksi LPDB KUMKM dan 300 peserta dari dinas koperasi dan UKM Selindo, 45 koperasi dari 5 kota di Jatim.

Braman Setyo menegaskan, penyaluran dana bergulir kepada dua BPR/BPRS itu menjadi awal dimulainya akselerasi/percepatan pencapaian penyaluran 2018, dimana ditargetkan sebesar Rp 1,2 triliun.

” Kami optimis pada semester I 2018, sudah bisa tersalurkan 50 persen dari target, bahkan mungkin sampai akhir tahun bisa melebihi target karena banyaknya permintaan masuk, ” ujarnya.

Meski banyak permintaan, namun LPDB KUMKM tidak akan gegabah menyalurkan dana itu, hanya untuk sekedar mencapai target.

” Yang lebih penting adalah kolaborasi sistem yang dibangun bersama ini harus ditaati,” tegasnya.

Braman Setyo juga menargetkan agar penyaluran dana LPDB KUMKM ini bisa merata di seluruh Indonesia. ” Selama ini 70 persen dana tersalur berkutat di Jawa. Karena itu perlu ada pemerataan dengan harapan dana yang berasal dari APBN ini bisa dinikmati semua wilayah, dan tetap harus diingat dana ini bukanlah charity atau bansos, karena ini dana dari pajak rakyat dan harus dikembalikan ke negara,” tegasnya.

Libatkan Dinas

Kadinas Koperasi dan UKM Jatim Maspurnomo Hadi menyambut baik pola baru yang diterapkan dalam penyaluran dana bergulir ini.

” Saya mohon semua penyaluran sekarang harus diketahui dinas provinsi. Jadi kita tahu siapa penerimanya alamatnya dimana dan seterusnya. Kalau dulu, kami ndak tahu data koperasi penerima dana bergulir. Ujug-ujug (tiba-tiba) saja, kami dipanggil kejaksaan, ” kata Maspurnomo.

Ia memaparkan Jatim termasuk terbanyak jumlah koperasinya, dimana dari
31.680 koperasi di Jatim, ada 4.505 koperasi atau 15 persennya yang hidup segan mati tak mau.

” Adalah tugas kami untuk membina koperasi sakit, maka itu semua harus mematuhi kolaborasi sistem yang sudah terbentuk ini agar jangan ada masalah di kemudian hari,” katanya.

“Kami bersama Bank Jatim, Jamkrida melakukan terus melakukan monitoring pinjaman yang diberikan,” katanya.

Kualitas Proposal Rendah

Sementara itu Direktur Keuangan LPDB KUMKM Ahmad Nizar mengatakan, tingginya permintaan dana bergulir ke LPDB kUMKM selama ini ternyata belum diikuti dengan kualitas proposal yang memadai.

” Tingginya permintaan itu terwujud pada banyaknya proposal masuk misalnya
pada 2017 ada
1.107 proposal yang masuk. Namun setelah disaring tahap pertama tinggal 759 proposal, tahap kedua menurun menjadi
121 proposal, tahap ketiga jadi 24 dan dari 24 itu hanya 4 proposal yang layak diberikan dana bergulir,” jelasnya.

Lalu pada 2018 sampai Februari ada 40 proposal yang masuk, dan hanya 1 yang lolos, selebihnya 39 proposal dikembalikan untuk diperbaiki.

” Karena itu kami melihat pentingnya dilakukan sosialisasi dan program inklusif ini agar mereka bisa memenuhi persyaratan proposal yang layak,” pungkasnya.(***)

Related For LPDB-KUMKM Mulai Salurkan Dana Bergulir dengan Pola Baru