Global News Indonesia
Menu
Kemenkop dan UKM Fasilitasi KUKM Potensial Ekspor untuk Ikut TEI 2018 - Koperasi Miliki Peran Strategis untuk Pemerataan Ekonomi Daerah - Indonesia Siap Edukasi UMKM dengan Fintech - BNI ITB Ultra Marathon, Momentum Cintai Kampus dengan Olahraga & Reksadana - Berperan Untuk Ekonomi Dunia yang Lebih Baik - Kemenkop dan UKM Sebut Banyak Peluang Anak Muda di Era Revolusi Industri 4.0 - Kemenkop dan UKM Ingatkan Dekopin Evaluasi Pelaksanaan Tugas dan Rekomendasi Hasil Kongres Koperasi - Presiden Jokowi Bersama Para Menteri Kabinet Kerja Apresiasi Kopi Solidaritas - BNI Mendapat Dukungan dari Standard Chartered, DBS, UOB dan HSBC - Bantu Korban Bencana, BNI Ajak Psikolog Beri Pertolongan Pertama Psikologi Pascabencana

Masa Depan Industri Pariwisata Ubud Bali, Butuh Entrepreneurship Berbalut Kearifan Lokal 

Juli 21, 2018 | news

UBUD BALI:(Globalnews.id)- Meski masih menjadi destinasi utama dunia,  namun industri pariwisata (tourism) Bali dituntut melakukan inovasi dan jangan hanya mengandalkan anugerah keindahan dan budaya yang selama ini melekat di pulau Dewata.

“Industri pariwisata Bali harus terus bergerak,melakukan inovasi untuk mengantisipasi tren masa depan pariwisata yang cenderung ke hal hal seperti ramah lingkungan, sustainibility, kesehatan atau wealth,’ ujar Staf Khusus Menkop dan UKM, Hermawan Kartajaya dalam Ubud Royal Festival ke-5 di Museum Puri Lukisan,Ubud,Gianyar Bali, Sabtu (21/7) .

Hadir dalam kesempatan itu Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga,  Ketua Panitia Ubud Royal Weekend kelima, Tjokorda Arta Ardhana Sukawati yang juga KetuaUmum PHRI Gianyar, dan plt Deputi Pengembangan SDM, Rully Nuryanto,.

“Yang namanya entrepreneurship itu harus menyesuaikan dengan perkembangan terkini, misalnya bagaimana mengantisipai Gunung Agung yang selalu batuk tiap empat tahun sekali, agar jangan terlalu berpengaruh pada Bali,” ujarnya. Juga tren kesehatan dalam industri pariwisata, dimana mulai banyak muncul tempat yoga, dan terapi kesehatan, yang semuanya butuh sentuhan kearifan lokal budaya Bali.

Dikatakan Hermawan, Ubid memang dikenal sellau menjaga kearifan lokal, namun tidak pernah menolak modernitas dan teknologi. Hal ini juga yang menjadikan Ubud sekalu dikagumi wisatawan baik dalam dan luar negeri. Ubud Royal Weekend yang ke lima ini, juga diisi seminar workshop, festival, pameran dan kuliner.

Merek Terkemuka

Dalam kesempatan tersebut  Menkop dan UKM Puspayoga berkenan menyerahkan penghargaan kepada lima brand/merek terkemuka di Ubud yang dinilai mampu memberikan kontribusi dalam pengembangan pariwisata di Ubud dan Bali pada umumnya.

Kelima brand itu adalah, pertama, Ubud Homestay Association (UHSA), yang berinisiatif membentuk wadah kepada pemilik homestay di Ubud, memberikan pelatihan agar homestay itu mampu bersaing dengan hotel lokal maupun internasional,tapi tetap menjaga tradisi masyarakat Bali.

Kedua, Angelo Store, yang dinilai bisa menanfaatkan sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan untuk menjaga keselarasan bumi, dan juga memberdayakan komunitas lokal yang ada.

Ketiga, Babi Guling Bu Oka yang dari tahun 1970 sampai sekarang, mampu menjaga konsitensi kelestarian kuliner khas Bali yaitu base genep, sehingga tetap dicintai dan dicari wisatawan. Babi guling Bu Oka, juga turut serta memperkuat differensiasi Ubud dengan kulinernya yang khas.

Keempat, Guest Pro, yang dinilai berjasa dalam pengembangan solusi teknologi pariwisata yang berasal dari Ubud untuk membantu perusahaan tourism dan hospitality agar dapat bersaing.

Kelima, Nyawan bag, yang berinovasi dalam mendukung dan melestarikan budaya Bali dengan cara membuat inovasi tas dan clothing yang dapat digunakan khusus segmen kesenian dan upacara Bali (niche market) dan mengakomodir kebutuhan dan keinginan seniman Bali. (jef)

Related For Masa Depan Industri Pariwisata Ubud Bali, Butuh Entrepreneurship Berbalut Kearifan Lokal