Global News Indonesia
Menu
Standardisasi dan Sertifikasi Produk KUMKM Diperlukan Agar Jadi Usaha yang Berkelanjutan dengan Skala yang Lebih Besar - RA Suhardani Bustanil Arifin Raih Mahakarya Budaya dari MURI - Di Hadapan Mahasiswa UIN Walisongo, Rano Karno Bicara Strategi Bisnis Millenial - Perkuat Ekspor Indonesia, BNI Rangkul Mitra Bisnis di Singapura - Kemenkop dan UKM Perkuat Pengawasan Koperasi Melalui Peningkatan IT - OASE Bersama Kemenkop dan UKM Sinergi Program Pemberdayaan Masyarakat di Malaka - BNI Pertahankan Keunggulan Layanan Trade Finance - Marketing Bagian Penting Pemasaran Produk KUKM - Kepedulian Pemda diharapkan untuk Majukan Koperasi - Menteri Puspayoga Launching Desa Terang 2018 di Lampung

Mayoritas UMKM Belum Mendapatkan Manfaat dari Teknologi Digital

Juli 8, 2018 | koperasi dan ukm


JAKARTA:(Globalnews.id)-Mayoritas pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) belum mendapatkan manfat dari teknologi digital. Padahal, potensi ekonomi UMKM di Indonesia sangatlah besar.

Saat ini ada 62,92 juta unit usaha atau 99,92% dari total unit usaha di Indonesia adalah UMKM dengan kontribusi terhadap PDB mencapai 60% serta penyerapan tenaga kerja 116,73 juta orang atau 97,02% dari total angkatan kerja yang bekerja.

“Kenapa mayoritas pelaku UMKM belum mendapat manfaaat digital teknologi? itu karena sebagian besar pelaku UMKM belum sepenuhnya melek teknologi digital,” ujar Staf khusus Menkop dan UKM, Agus Muharram, dalam sambutannya pada Digital Revolution Summit The Payoneer Forum, di Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Ikut hadir dalam acara yang dipenuhi anak muda itu, itu Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani, Payoneer Marketing Manager South East Asia, Maya Williams dan Sunil Tolani, Co Founder &CEO IDAFF, serta praktisi internet lainnya.

Agus mengutip data Delloite Access Economics, menunjukkan lebih dari sepertiga UKM tti di Indonesia (36%) masih offline, sepertiga lainnya (37%) hanya memiliki kemampuan online yang sangat mendasar seperti komputer atau akses broadband. Hanya sebagian kecil (18%) yang memiliki kemampuan online menengah (menggunakan web atau medsos) dan kurang dari sepersepuluh (9%) adalah bisnis online lanjutan dengan kemampuan e-commerce.

Data dari McKinsey Global Institute malah menunjukkan hanya 5 persen UKM yang sudah mampu bertransaksi online.” Padahal keterlibatan UKM secara digital bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2 persen. Bahkan, diprediksi bisa memiliki pertumbuhan pendapatan antara 23-80 persen jika trampil memanfatkan teknologi digital.

Kampung Digital

Lebih lanjut Agus mengatakan, pemerintah menyadari masih terdapat permasalahan atau tantangan yang dihadapi UMKM terlebih di era globalisasi dan ekonomi digital, diantaranya terkait peningkatan kapasitas SDM, akses dan penguasaan teknologi informasi, pembiayaan, dan pendanaan alternatif, manajemen bisnis modern, akses pasar global dan integrasi mata rantai regional dan global.

Untuk itu, pemerintah dan khususnya Kemenkop dan UKM terus menerus melakukan upaya mewujudkan KUMKM yang berdaya saing berbasis digital. ” Dan tentunya memastikan ekonomi digital mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas khususnya KUMKM,” tegasnya.

Ia memberi contoh pengembangan Kampung Digital yang merupakan sinergi dan kolaborasi berbagai pihak (pemerintah, BUMN, Perguruan Tinggi, swasta, media dan masyarakat), dalam membangun dan mewujudkan KUMKM yang maju, mandiri dan modern.

Sementara untuk peningkatan kapasitas SDM KUMKM, pemerintah bekerjasama dengan berbagai pihak menfasilitasi pelatihan technopreneur, fasilitasi pemasaran produk KUMKM melalui pengembangan e-commerce dan sebagainya.

Literasi Digital Kurang

Sementara itu Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani mengakui, masih rendahnya literasi digital terhadap UMKM. Karena itu pihaknya bekerjasama dengan instansi lain melakukan berbagai program secara masif agar UMKM bisa dengan baik mengenal dan menggunakan digital ekonomi.

” Perekonomian global sedang melakukan transformasi besar-besaran, kalau tak terlibat kita akan tertinggal,” kata Semuel.
Apalagi pertumbuhan pengguna internet di Indonesia sangatlah besar, dari 32 juta pada lima tahun lalu menjadi 143,26 juta pada 2016.

” Pada 2030, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kelima, jika kita bisa memanfaatkan digital ekonomi. Diatas kita ada Cina US India dan Jepang. Dibawah kita ada Rusia, Jerman, Brazil, Meksiko dan Inggris,” katanya.

Semuel memberi contoh beberapa program yang sudah berjalan antara lain loket e commerce, menggodok peraturan perlindungan konsumen, agar data pengguna internet agar tak disalahgunakan pihak lain.

Selain itu juga dilakukan pembangunan infrastruktur 5 ribu BTS, dengan tujuan seluruh wilayah Indonesia bisa mengakses internet.
Pembangunan jaringan logistik dan keamanan pengguna internet.
“Kita juga memggalakkan produk dalam negeri agar bisa dijual online, karena saat ini baru sekitar 10 persen saja barang dan jasa di internet, yang asli produk dan jasa buatan Indonesia.

Ia menjelaskan saat ini UMKM yang menggunakan jasa internet mendekati 4 juta, sementara pada 2020 ditargetken menjadi 8 juta UMKM.” Semua orang bisa masuk digital ekonomi, karena intinya digital ekonomi adalah sharing ekonomi siapapun yang terlibat memberi nilai tambah akan mendapat bagian,” katanya.

Semuel berharap akan muncul Unicorn baru dari Indonesia (Nexticorn), menyusul nama-nama Unicorn seperti Gojek, Bukalapak dan Tokopedia. (jef)

Related For Mayoritas UMKM Belum Mendapatkan Manfaat dari Teknologi Digital