Menu
Menkop dan UKM: Transformasi UMKM ke Ekonomi Digital Jadi Keniscayaan - Menkop dan UKM: Pelaku UMKM Harus Tahan Banting   - DWP KemenkopUKM Berbagi Peduli Untuk Masyarakat Terdampak Bencana di Kabupaten Garut - MenkopUKM Minta UMKM di NTT Berkoperasi - Kemenhub Siap Antisipasi Pergerakan Saat Libur Panjang Agar Tak Terjadi Lonjakan Kasus Covid-19 - Libur Panjang Pekan Depan, Kemenhub Prediksi Penumpang Pesawat Naik 20 Persen - Pentingnya Memperkuat Posisi UMKM dalam Rantai Pasok - Hari Santri 2020, LPDB-KUMKM Gandeng Santri Dalam Upaya Pendampingan Dana Bergulir - Pemerintah Wajibkan K/L Belanja Produk UMKM Minimal 40 Persen Dari Pagunya - KUARTAL III/2020, LABA BTN MELESAT 39,72%

Mengangkat Derajat UMKM dengan Teknologi

Agustus 17, 2020 | koperasi dan ukm

Jakarta:(Globalnews.id)-Perkembangan teknologi digital berdampak positif pada kehidupan manusia di segala sendi. Salah satunya adalah pada dunia usaha. Teknologi ini berperan penting dalam mengangkat derajat pelaku UMKM jadi lebih baik lagi.

Menyadari pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mengembangkan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) menggandeng Penggagas Pahlawan Digital UMKM Putri Tanjung, meluncurkan program “Pahlawan Digital UMKM”.

Salah satu target pencapaian dari program ini adalah mengumpulkan 10 pemenang terbaik
yang akan menjadi mitra Kementerian Koperasi dan UMKM untuk melaksanakan digitalisasi UMKM. Selain itu, program ini juga membuka peluang agar para inovator digital dapat dipertemukan dengan modal ventura untuk mendapatkan investasi.

Pahlawan Digital UMKM resmi diluncurkan pada Sabtu, 15 Agustus 2020 pukul 14.00 WIB di Jakarta. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dan Putri Tanjung meluncurkan program ini secara langsung melalui akun YouTube KemenkopUKM dan Instagram Live akun @kemenkopukm, @pahlawandigital, dan @putritanjung.

Peluncuran program bertajuk “Inovasi untuk UMKM Go Digital” ini diselenggarakan dalam
rangka memberikan apresiasi kepada para inovator digital UMKM dan menjaring inovator baru lainnya. Selain Teten dan Putri, CEO Titipku Henri Suhardja, CEO Wahyoo Peter Shearer, dan Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi juga turut sebagai pembicara.

Menteri Teten menekankan pentingnya peran teknologi dalam mengakselerasi UMKM agar dapat berjualan secara daring. Akselerasi ini diperlukan melalui inovator-inovator muda agar 64 juta UMKM di seluruh Indonesia dapat meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan. “Kementerian Koperasi dan UKM memberikan insentif kepada para inovator muda agar mereka dapat membantu pelaku UMKM secara lebih luas,” ujarnya.

Di antara sejumlah inovator muda yang telah berkiprah dalam pemberdayaan UMKM antara lain Wahyoo dan Titipku. Wahyoo adalah platform digitalisasi UMKM yang meningkatkan daya jual warteg. Titipku fokus pada pemberdayaan pedagang pasar agar go digital.

Sang inovator

Terinspirasi dari kisah Sang Bunda yang berjibaku saat menjalankan usaha kateringnya, Peter pun menciptakan aplikasi Wahyoo. Ia tak tega melihat ibunya yang terlihat lelah karena harus belanja ke pasar, memasak, menyiapkan dan mengantarkan pesanan makanan ke konsumen.

Ibunya harus bangun pada pukul 02.00 atau 03.00 pagi. Melakukan semua pekerjaan dengan karyawan yang cuma seorang. “Aduh, badan Mama pegal-pegal dan sakit,” keluh, Sang Mama yang ditirukan Peter.

“Kalau sakit, kan akhirnya tak bisa kerja juga. Inilah yang menggerakkan saya. Apa yang dialami Ibu saya dialami juga oleh banyak pemilik usaha makanan tradisional lainnya.
Mereka memiliki masalah yang sama,” kata Peter.

Kondisi ini, menurut dia, harus dibenahi. Kemajuan teknologi digital sekarang ini, harusnya bisa membantu mereka. “Karena teknologi hadir untuk memudahkan pekerjaan kita. Tak hanya mempermudah, tapi teknologi juga bisa membuat mereka mendapatkan lebih banyak lagi customer (pelanggan).”

Peter menjelaskan, Wahyoo adalah aplikasi laksana operating system bagi pemilik warung makan. Pemilik warung hanya fokus pada bagaimana memasak yang enak dan melayani pelanggan, sisanya akan dibereskan oleh Wahyoo. Dengan begitu, pemilik warung makan dapat meningkatkan kualitas hidupnya karena sebagian beban mereka berkurang.

Secara sederhana, Wahyoo menawarkan konsep yang disebut P3K (Pelatihan, Pembimbingan, Pendapatan dan Kemudahan). “Kami membimbing bagaimana mereka seharusnya mengelola warung laiknya restoran. Sehingga mereka mengerti apa yang namanya pembukuan, pemasaran dan ekspansi bisnis,” jelas Peter.

“Ketika pembukuan, pemasaran, dan ekspansi usaha ini berjalan, maka pendapatan pemilik warung otomatis akan meningkat. Pelanggan juga akan bertambah.”

Prinsip lain yang ditawarkan Wahyoo adalah kemudahan. Sebab, apa pun yang dilakukan pemilik warung semuanya berbasis aplikasi. Mulai dari belanja, hingga pencatatan utang-piutang.

Di lain pihak, Henri menjelaskan bahwa aplikasi yang ia buat merupakan platform digitalisasi UMKM. Pengguna aplikasi ini adalah anak-anak muda Indonesia yang dapat membantu UMKM go digital. Mereka mengunggah UMKM dengan membuatkan toko online di Titipku.

Titipku membantu UMKM, terutama yang mikro seperti pedagang pasar (konvensional), usaha kaki lima, maupun industri rumah tangga, juga mereka yang berjarak dengan teknologi digital.

“Berkat bantuan anak-anak muda ini, baik yang menjadi Penjelajah atau Jatiper (kurir), memudahkan promosi UMKM,” jelas Henri. “Intinya, Titipku ingin membantu promosi dan marketing UMKM secara digital.”

UMKM yang tergabung dalam Titipku cukup beragam, mulai fashion, kuliner, industri kreatif, hingga pedagang pasar. Tak hanya soal digitalisasi dengan memasukkan mereka ke market place, namun Titipku juga membantu UMKM sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Jika mereka butuh modal, kita bisa referensikan ke industri perbankan, koperasi atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Jika mereka butuh packaging atau branding, kami juga membantu mereka dalam hal desain secara gratis. Kami ingin membantu UMKM ‘naik kelas’,” tegas Henri.

Melihat peran Wahyoo dan Titipku serta platform digital lain yang terlibat dalam pendampingan terhadap UMKM, Teten optimistis Indonesia akan maju. “Para Pahlawan Digital maupun inovator-inovator muda ini mengabdi untuk bangsa dengan membantu UMKM,” kata Teten.

Bertahan di tengah pandemi

Teten tak menampik persaingan UMKM saat ini cukup sengit. Karenanya, ia menyarankan, kualitas produk maupun cara merespons pesanan itu menjadi penting. Inilah yang perlu terus dikembangkan dan dipertahankan oleh pelaku UMKM.

Menurut Teten, masih banyak UMKM yang tidak memiliki tempat usaha yang bagus. Bahkan sebagian besar melakukan kegiatan usaha di rumah masing-masing. Dengan masuk ke market place, maka permasalahan mereka bisa diselesaikan. “Pada masa Covid-19 ini kita jadi belajar betapa pentingnya jualan secara online,” tegasnya.

Neneng juga sepakat dengan Teten. Dalam kondisi saat ini, terutama di masa pandemi, UMKM harus adaptif terhadap perubahan dan cara menyelesaikan masalah. Di sinilah dibutuhkan pelatihan yang diberikan kepada pelaku UMKM maupun inovator muda.

Neneng mencontohkan pentingnya teknologi dalam mendorong UMKM di masa pandemi. Ia mengungkapkan, di masa pandemi Grab meluncurkan program “Terus Usaha” di 12 kota dengan 20 program digitalisasi. Grab juga bekerja sama 15 kota dan provinsi untuk membantu UMKM.

“Kenapa di 15 provinsi? Karena tak satu pun program yang one size fits all, tak ada satu program yang berlaku untuk semua. Kita sesuaikan dengan kultur kota-kota itu sendiri,” bebernya.

Salah satu program andalan Grab lainnya adalah Grab Accelerator, hasil kerja sama Grab dengan Google. Grab Accelerator merupakan program pendampingan UKM selama dua setengah bulan. Grab juga memberikan iklan gratis pada UMKM yang baru masuk di aplikasi Grab. Dengan demikian, para pengguna dapat mengetahui produk UMKM tersebut.

Pada masa pandemi, sejak Maret hingga Juli, sudah lebih dari 150 ribu merchant baru yang mendaftar di Grab. “Yang paling membanggakan kami adalah lebih dari 32 ribu pedagang pasar seluruh Indonesia jadi digital,” ungkap Neneng.

Segendang sepenarian, Putri juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Tak cuma UMKM, dalam kondisi pandemi, semua orang hendaknya berlaku adaptif. Mereka kudu kreatif dalam menggali cara-cara menyelesaikan masalah.

“Untuk menjadi adaptif, tentu saja kita butuh pelatihan maupun pendampingan. Di “Pahlawan Digital” pun, para inovator muda yang memiliki ide-ide yang bagus ini juga tetap butuh pendampingan. Dengan begitu, mereka bisa berkembang dan lebih adaptif serta dapat membantu lebih banyak lagi UMKM,” kata Putri.

Putri mendorong inovator muda untuk ikut dalam program “Pahlawan Digital UMKM” agar mereka dapat berkontribusi pada bangsa dan negara. “Jika banyak kaum muda yang membantu UMKM, maka UMKM akan maju, dan Indonesia akan berjaya,” ia menegaskan.(jef)

Related For Mengangkat Derajat UMKM dengan Teknologi