Menu
Ciptakan Bisnis yang Sehat, MenKopUKM Harap Koperasi-koperasi Kecil Segera Merger - Dukung TEI 2021, BNI Xpora Resmi Diluncurkan - Dongkrak Kinerja Ekspor, MenKopUKM Lepas Pengiriman Mangga Gresik ke Singapura - LABA BERSIH BTN PERIODE JANUARI- SEPTEMBER 2021 TUMBUH 35,32% MENJADI Rp 1,52 TRILIUN - Rakornas Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2021: Akselerasi Jejaring Kota/Kabupaten Kreatif Bangkit Lebih Kuat Pascapandemi - Batik Sampang Ikut Meriahkan APKASI Otonomi Expo 2021 - KemenKopUKM dan Mabes Polri Koordinasi Terkait Kasus Perizinan Usaha Makanan Beku - MenKopUKM Sebut Darussyifa Al-Fithroh Sukabumi Sebagai Prototype Ponpes Modern - Sinergitas Kominfo dan MUI Dorong Strategi dan Inovasi Pembelajaran Untuk Bangkit dari Pandemi - Kementerian Kominfo Dukung Digitalisasi UMKM di Majelis Taklim Muslimat NU

MenkopUKM: Banpres Produktif Sangat Dibutuhkan Usaha Mikro.

November 14, 2020 | koperasi dan ukm

Denpasar:(Globalnews.id)- Dampak pandemi Covid-19 kepada UMKM tidaklah seragam. Ada UMKM yang sedang menerima kredit bank maupun lembaga pembiayaan lainnya, usahanya mengalami penurunan produksi maupun penjualan. Terhadap mereka telah dialokasikan program restrukturisasi pinjaman dan subsidi bunga.

Selanjutnya, ada juga UMKM yang sudah berkoperasi dan terdampak Covid-19. Disini juga sudah diberikan alokasi anggaran untuk tambahan modal kerja kepada koperasi melalui LPDB KUMKM.

Ada pula pelaku usaha mikro yang belum dapat mengakses pembiayaan perbankan. Bahkan, tidak sedikit yang belum punya rekening di bank. Sehingga, Banpres Produktif untuk Usaha Mikro ini sangat dibutuhkan bagi pelaku usaha mikro.

Hal itu dipaparkan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, pada penyerahan Banpres Produktif untuk Usaha Mikro Provinsi Bali, di Denpasar, Sabtu (14/11).

“Saat ini, Banpres Produktif telah disalurkan kepada 9,3 juta pelaku usaha mikro di seluruh Indonesia dengan jumlah bantuan sebesar Rp22,38 triliun,” ucap Teten.

Tak hanya itu, Teten juga menyebutkan bahwa pemerintah memahami pandemi Covid-19 menimbulkan dampak yang cukup besar. Tak terkecuali bagi UMKM sektor pariwisata di Bali yang sangat bergantung pada kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.

“Sektor pariwisata hampir semua terhenti akibat pandemi. Makanya, kontraksi di Bali masih tinggi, yaitu negatif 12 persen. Tapi, begitu turis datang lagi, saya meyakini bahwa perekonomian Bali bakal langsung melesat lagi,” tandas MenkopUKM.

Oleh karena itu, Teten berharap, Banpres Produktif sebesar Rp2,4 juta ini bisa bermanfaat digunakan untuk yang produktif.

“Karena selama ini Bali memberikan kontribusi besar pada perekonomian nasional, khususnya di sektor pariwisata, maka Banpres Produktif untuk Usaha Mikro di Bali termasuk yang kita prioritaskan. Bali itu Showroom Indonesia ke dunia internasional,” ujar Teten.

Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, dari usulan sebanyak 214.118 pelaku usaha mikro, telah berhasil divalidasi dan disahkan sebanyak 131.693 orang. Sehingga, total alokasi Banpres Produktif untuk Usaha Mikro untuk Bali sebesar Rp316 miliar.

“Awalnya, Bali hanya mendapat alokasi 90 ribuan pelaku usaha mikro. Namun, kami terus melobi karena kami memang butuh,” ungkap Koster.

Di samping Banpres Produktif, Pemprov Bali juga tak tinggal diam dalam membantu Koperasi dan UMKM di masa Pandemi. Untuk koperasi tiingkat Kabupaten/Kota diberikan bantuan sebesar Rp10 juta, sedangkan tingkat provinsi sebesar Rp30 juta.

“Total ada 4.000 koperasi yang kami bantu. Namun, itu semua belumlah cukup. Karena itu, kami mengharapkan tahun depan, akan lebih banyak lagi UMKM yang mendapatkan Banpres Produktif ini,” harap Koster.

Merasa Terbantu

Sementara itu, sejumlah penerima Banpres Produktif untuk Usaha Mikro mengaku terbantu dengan adanya bantuan dalam bentuk hibah sebesar Rp2,4 juta itu.

Salah satunya adalah Made Susilawati (28), seorang penjual baju adat Bali khusus baju buat anak, yang beralamat Banjar Raketan, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung provinsi Bali

Made mengaku terbantu dengan Banpres yang terima dari BNI pada Oktober 2020. Made menjadi nasabah PNM yang kemudian dibantu diusulkan melalui BNI untuk mendapatkan Banpres.

“Sudah tiga tahun saya berjualan. Sebelum Covid, jualan saya lumayan hasilnya. Omsetnya bisa sampai 7 atau 8 juta perbulan. Namun, setelah Covid, penjualan anjlok menjadi hanya Rp4 jutaan perbulan,” ungkap Made.

Penyebabnya, antara lain karena upacara adat dikurangi sesuai Protokol Kesehatan dalam menjaga jarak. Juga, belajar daring yang membuat murid jarang memakai baju atau kebaya adat.

“Namun, kalau untuk upacara lahiran, masih yang membeli. Saya juga terbantu dengan penjualan online. Dana Banpres itu saya gunakan untuk menambah modal,” pungkas Made.(Jef)

Related For MenkopUKM: Banpres Produktif Sangat Dibutuhkan Usaha Mikro.