Menu
MenkopUKM Minta UMKM di NTT Berkoperasi - Kemenhub Siap Antisipasi Pergerakan Saat Libur Panjang Agar Tak Terjadi Lonjakan Kasus Covid-19 - Libur Panjang Pekan Depan, Kemenhub Prediksi Penumpang Pesawat Naik 20 Persen - Pentingnya Memperkuat Posisi UMKM dalam Rantai Pasok - Hari Santri 2020, LPDB-KUMKM Gandeng Santri Dalam Upaya Pendampingan Dana Bergulir - Pemerintah Wajibkan K/L Belanja Produk UMKM Minimal 40 Persen Dari Pagunya - KUARTAL III/2020, LABA BTN MELESAT 39,72% - Export Revolution, Gebrakan Penetrasi Pasar Luar Negeri Bagi UKM dan Petani Indonesia Melalui Indonesian Grocery KOPITU - MenkopUKM: Menjadi Wirausaha di Masa Pandemi Adalah Pilihan Tepat - BNI Syariah Gandeng Universitas Islam Bandung (UNISBA) terkait Layanan Perbankan

MenkopUKM Inginkan Ada Integrasi Pembiayaan, Produksi dan Pemasaran Melalui Koperasi

Juli 25, 2020 | koperasi dan ukm

Bandarlampung:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki berharap pelaku usaha anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) juga bisa bergabung dengan jenis koperasi lain seperti koperasi produksi, pengolahan, hingga koperasi pemasaran, untuk meningkatkan usahanya.

“Saya ingin ada integrasi antara pembiayaan, produksi, pengolahan, hingga pemasaran, dengan berkoperasi”, ucap Teten, saat mengunjungi KSP Kopdit Mekar Sai di Kota Bandarlampung, Sabtu (25/7).

Teten mencontohkan di sektor pertanian, harus dilengkapi dengan industri pengolahan. Jadi, koperasi tidak sekadar memberikan pembiayaan saja terhadap UKM yang menjadi anggotanya. “Petani yang menjadi anggota Kopdit Mekar Sai, bila sudah besar bisa saja membuat atau bergabung dengan koperasi pertanian”, kata Teten.

Menurut Teten, yang petani butuhkan itu modal kerja, modal investasi, hingga modal talangan. Disini, koperasi harus bisa menjadi offtaker bagi produk pertanian para petani”, kata MenkopUKM.

Teten mengakui, pihaknya terus melakukan penataan koperasi di Indonesia. Sehingga, koperasi bisa betul-betul melindungi anggota ketika hasil produk melimpah namun tidak bisa diserap pasar.

Misalnya, ketika harga bawang merah jatuh, bisa diolah untuk produk bawang goreng. “Koperasi juga harus melindungi anggota dari kekuatan pasar terkait fluktuatif harga. Koperasi memiliki bargaining kuat untuk nego harga”, tandas MenkopUKM.

Teten pun menekankan konsolidasi UMKM bisa dijalankan melalui koperasi. “Masyarakat UMKM butuh pembiayaan yang mudah dan murah. Karena, koperasi bukan sekadar lembaga pembiayaan saja melainkan juga lembaga bisnis, sosial, dan pendidikan”, ujar Teten.

Untuk itu, Teten berharap Kopdit Mekar Sai yang sudah berusia 28 tahun dan memiliki anggota sebanyak 18 ribu orang itu ke depan bisa dikembangkan lagi dengan memasuki sektor lain seperti pertanian, perikanan, peternakan, bahkan pariwisata (wisata alam). “Karena, idealnya, koperasi itu bukan sekadar menjadi rantai ekonomi dari pelaku usaha besar”, tandas MenkopUKM.

Tak Terdampak Covid-19

Sementara Ketua Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai Antonius Suharyono Daud menjelaskan, pihaknya terus menggelontorkan pembiayaan sektor pertanian untuk menjadikan petani menjadi seorang agripreneur. Sehingga, mampu menciptakan benih dan produk pertanian berkualitas.

“Di lapangan, kita terus melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan. Kita membantu masyarakat untuk sadar memiliki cita-cita finansial yang baik”, tukas Suharyono seraya menyebutkan bahwa aset Kopdit Mekar Sai sudah mencapai Rp571,47 miliar.

Selain itu, Suharyono juga menyebutkan, koperasi dan para anggotanyabsudah bisa melakukan transaksi atau pembayaran melalui sistem digital. “Pemasaran produk para anggota juga sudah online”, tukas Suharyono. Tahun ini, Kopdit Mekar Sai mulai menggarap pelaku startup dengan mentoring dari Universitas Lampung.

Terkait pandemi Covid-19, Suharyono mengungkapkan bahwa pihaknya tidak terpengaruh. Pasalnya, meski tanpa Covid-19, pihaknya sudah memiliki mekanisme relaksasi dan restrukturisasi bagi anggota anggota koperasi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Halim menegaskan, pihaknya mendorong pelaku UMKM untuk mengembangkan produk khas masing-masing wilayah di Lampung, seperti beras, udang, perikanan darat, buah-buahan, dan sebagainya.

“Para petani yang sudah tergabung dalam kelompok akan saya dirong untuk berkoperasi. Bahkan, saya akan mendorong pengembangan koperasi pemasaran di Lampung”, tandas Chusnunia.

Bagi Chusnunia, koperasi pertanian dan pemasaran harus menjadi jawaban bagi kesejahteraan petani. “Saya berharap ekonomi Lampung tetap bisa survive, harga produk pertanian bagus untuk petani, hingga menghasilkan produk yang berkualitas”, pungkas Chusnunia.(jef)

Related For MenkopUKM Inginkan Ada Integrasi Pembiayaan, Produksi dan Pemasaran Melalui Koperasi