Menu
Firman Rendi: Banpres Produktif Merupakan Energi Baru Bagi Usaha Saya - 36 Perusahaan Raih Predikat Best Insurance 2020 - LPDB-KUMKM Amankan Uang Negara Senilai Rp6,8 Miliar - Ekosistem Digital Bantu Percepatan Penanganan Covid-19 - MenkopUKM Perkuat Kemitraan Koperasi Dengan TaniHub Dalam Menyerap Hasil Pertanian - MenkopUKM Resmikan Logo Baru LPDB, Wujudkan Layanan Berkualitas - MenkopUKM: Transformasi Digital Koperasi Harus Dipercepat - Optimalkan Pemulihan Perekonomian Masyarakat Melalui Dana Bergulir, LPDB-KUMKM Gandeng Kejari Kota Bandung - MenkopUKM Dorong Petani Bangun Korporatisasi Petani Melalui Koperasi - KemenkopUKM: Banpres Produktif Harus Tepat Sasaran, Pencairan dan Pemanfaatan

Penyerapan Dana PEN Sektor KUMKM Sudah 8 ,3 Persen Atau Senilai Rp10,24 Triliun

Juli 16, 2020 | koperasi dan ukm

Jakarta:(Globalnews.id)- Realisasi belanja program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk sektor koperasi dan usaha mikro kecil menengah (KUMKM) hingga periode 16 Juli 2020 mencapai Rp10,24 triliun. Realisasi ini meningkat menjadi 8,3 persen dari sebelumnya yang hanya 6,82 persen pada 9 Juli 2020. Total pagu anggaran program PEN untuk sektor ini mencapai Rp123,46 triliun.

Deputi Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Edi Satria menjelaskan untuk realisasi penempatan dana pemerintah pada bank anggota Himbara pada periode tersebut sudah mencapai Rp9,98 triliun atau 12,67 persen dari total pagu Rp78,78 triliun. Sementara untuk penyaluran pembiayaan investasi yang disalurkan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir ( LPDB ) KUMKM untuk koperasi sudah mencapai Rp247,9 miliar dari pagu yang ditetapkan Rp1 triliun.

“Penyaluran kredit modal kerja baru yang melalui LPDB atau BLU (Badan Layanan Umum) kami hingga 16 Juli 2020 naik 24,79 persen atau naik Rp8,3 miliar menjadi Rp247,9 miliar,” kata Edi dalam konferensi pers update kinerja program PEN pada Sektor KUMKM, Kamis (16/7).
Terkait dengan penempatan dana pemerintah pada anggota bank Himbara, Edi merinci bahwa hingga periode 16 Juli 2020 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) telah terdistribusikan sebesar Rp8,12 triliun. Kemudian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp1,03 triliun, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp780 miliar dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) sebesar Rp34 miliar.

Penempatan dana ini diharapkan dapat ditingkatkan ekskalasi nilainya hingga tiga kali lipat sehingga peran perbankan pada program PEN khususnya bagi sektor KUMKM bisa semakin banyak dirasakan manfaatnya.

“Tugas kami dari program PEN ini adalah memastikan program berjalan dengan baik dan tepat sasaran, maka kami buka hotline untuk masyarakat yang mau melaporkan atau yang mengadu apabila terdapat hambatan dalam mengakses stimulus pemerintah yang dilakukan melalui program ini,” tutur Edi.

PEN Bank BNI

Sementara itu Pimpinan Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 BNI Bambang Setyatmojo, menuturkan bahwa pihaknya aktif melakukan upaya pendampingan pada pelaku UMKM yang terdampak Covid-19. Hingga hari ini program restrukturisasi kredit yang dilakukannya sudah melebihi target.
Kini total restrukturisasi kredit bagi pelaku usaha mikro dan kecil sudah mencapai Rp18,5 triliun, dari target Rp18 triliun. Jumlah pelaku usaha mikro dan kecil yang mendapatkan fasilitas relaksasi akibat covid-19 mencapai lebih dari 100 ribu pelaku usaha.
Sementara itu terkait dengan pemanfaatan dana pemerintah yang ditempatkan di perseroan, Bambang meyakini bahwa pihaknya bisa meningkatkan manfaat atau me leverage  dana tersebut hingga tiga kali lipat. Jatah yang diberikan kepada 
BBNI melalui program penempatan dana pemerintah sebesar Rp5 triliun. Oleh sebab itu diharapkan dalam beberapa waktu ke depan bisa meningkat nilainya menjadi Rp15 triliun.
“Terkait optimalisasi dana PEN kita akan naikkan hingga tiga kalinya artinya jadi Rp15 triliun. Nah dari total itu sekitar Rp12,5 triliun nanti akan kami arahkan khusus pada UMKM dan sisanya ke corporate yang punya tenaga kerja banyak namun terdampak covid-19,” ujarnya.(jef)

Related For Penyerapan Dana PEN Sektor KUMKM Sudah 8 ,3 Persen Atau Senilai Rp10,24 Triliun