Global News Indonesia
Menu
Dua Tahun, Kerugian Ekonomi Akibat Pengendalian Impor Jagung Capai Rp52,16 Triliun - Peringati Hari Sampah, BNI Jadi Pionir Sustainable Financing - Produk Hasil Koperasi dan UKM Akan Berkembang Bila Pariwisata Maju - Impor Jagung Memang Turun, Namun Impor Gandum Naik - Kemenkop dan UKM Dukung Target Kunjungan 1 Juta Wisman ke Danau Toba - Menkop dan UKM Dorong Industri Jasa Boga Lestarikan Kuliner Tradisional - Hadapi Revolusi Industri 4.0 Menhub Dorong Revitalisasi Badan Litbang Perhubungan - Ajukan BNI Griya Kini Lewat Online, Ngak Pake Ribet - Kemenkop dan UKM Lakukan Sinergitas Kegiatan Pemulihan UMK Pasca Bencana di Provinsi NTB dan Sulteng - Lewat Reuni Akbar BNI Trisakti Festival Connect 2019, BNI Ajak Alumni Guyub & Melek Produk Bank

Revitalisasi Koperasi Konsumen Guna Saingi Peritel Modern

Mei 2, 2018 | koperasi dan ukm

JAKARTA: (Globalnews.id)- Koperasi konsumen disarankan untuk segera melakukan revitalisasi agar mampu bersaing dengan peritel modern yang semakin menjamur.

Kepala Bagian Data Kementerian Koperasi dan UKM Catur Susanto di Jakarta, Rabu, menilai keberadaan ritel modern yang semakin menjamur berpotensi besar menggerus keberadaan ritel kecil/tradisional seperti kedai dan lapak dan usaha toko atau waserda yang banyak dikelola oleh koperasi konsumen.

“Padahal Koperasi Konsumen merupakan populasi terbesar koperasi secara nasional apabila ditinjau dari jenisnya,” katanya.

Berdasarkan Online Data System (ODS) Koperasi sampai dengan 2 Mei 2018 jumlah koperasi konsumen di Indonesia tercatat sebanyak 93.759 unit atau 62,75% dari total populasi koperasi nasional bergerak pada jenis konsumen dengan jumlah anggota sebanyak 4,75 juta orang.

Dari koperasi jenis konsumen tersebut mayoritas dan diindikasikan sekitar 58,75% atau 55.223 unit mempunyai usaha Waserda atau Jasa Pertokoan.

Sementara berdasarkan Data Kementerian Perdagangan hingga saat ini terdapat hampir 23.000 pasar modern dan dari jumlah tersebut 14.000 merupakan usaha mini market.

“Apabila disadari secara jangka panjang dengan tumbuh dan menjamurnya ritel modern justru memberi dampak negatif secara mikro ekonomi, seperti usaha masyarakat lokal atau usaha koperasi akan cenderung tidak berkembang dan akan cenderung mati, lapangan pekerjaan masyarakat akan semakin sempit, dan perputaran ekonomi masyarakat lokal akan tergerus karena terdapat modal melayang,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan  adanya kebijakan dan penguatan baik aspek internal maupun ekternal.

“Untuk penguatan internal koperasi harus mempunyai kebijakan khusus mengenai anggota wajib belanja dengan transaksi minimal pada toko koperasi setiap bulan/tahun yang telah diestimasi besarannya,” katanya.

Di sisi lain juga berupaya memasukkan komponen transaksi/belanja minimal anggota dan kelipatannya sebagai salah satu komponen partisipasi anggota dan hal ini berpengaruh pada perhitungan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebagai bentuk point ekonomi.

“Koperasi juga perlu rebranding dan modernisasi bisnis retailnya terutama dalam hal Bukti Fisik di antaranya perhatian terhadap interior, perlengkapan bangunan, termasuk sistem pencahayaan, dan tata ruang yang lapang menjadi perhatian penting dan dapat mempengaruhi mood pengunjung,” katanya.

Bangunan juga harus dapat menciptakan suasana dengan memperhatikan “ambience” sehingga memberikan pengalaman kepada pengunjung dan dapat memberikan nilai tambah bagi pengunjung

Catur pun menyarankan untuk dilakukanya  monitoring dan evaluasi total bisnis retail koperasi melalaui 3 langkah utama yakni segmentasi pasar, penentuan pasar sasaran, dan penempatan produk yang tepat.

Ia menekankan pula pentingnya penguatan internal di antaranya berupa dukungan iklim kondusif dari pemerintah melalui kerangka regulasi tentang penataan bisnis ritel modern pada suatu kawasan dan batasan minimal lokasi retail modern melalui kebijakan pembatasan wilayah atau zonasi dan atau pembatasan jumlah peritel modern dalam wilayah tertentu secara nasional.

“Dukungan pemerintah melalui fasilitasi Pembentukan Koperasi Distribusi atau Koperasi Pemasok yang terdapat pada setiap provinsi atau regional yang memberikan ‘coverage’ bagi koperasi konsumen yang mempunyai usaha ritel untuk mengakses barang yang akan diperjualbelikan sehingga lebih bisa bersaing,” kata Catur yang juga Mahasiswa UB dan Pegiat Koperasi itu. (jef)

Related For Revitalisasi Koperasi Konsumen Guna Saingi Peritel Modern