Menu
Bigbird Premium, Layanan Transportasi Aman, Nyaman dan Mewah - PMI Harap Sinergi Permodalan dengan LPDB untuk Pemuda Papua - Kemenkop dan UKM Cari Masukan Skema Pembiayaan Murah dan Ramah - DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN SDM AKAN MEREFORMULASI DAN REFORMASI SISTEM PELATIHAN - BRI Bagikan Dividen Rp. 20,6 Triliun - Kemenkop dan UKM Dukung Pekerja Dirikan Koperasi - Kemenkop dan UKM Siapkan Langkah Digitalisasi Koperasi - 2020, BTN OPTIMISTIS RAIH LABA RP3 TRILIUN - Teten Dorong Penggemar Burung Dirikan Koperasi Komunitas Kicau Indonesia - Toge Mas Toge Sukses Berkat KUR BNI

Stop Impor Cangkul, Kab Tulungagung Jadi Pilot Project Sentra Produksi

Februari 15, 2020 | koperasi dan ukm


TULUNGAGUNG:(GLOBALNEWS.ID)- Kementerian Koperasi dan UKM berkolaborasi bersama Kementerian Perindustrian, Badan Litbang Logam, Sekretariat Kabinet (Setkab), Bank BRI, dan Krakatau Steel, menggelar pelatihan kewirausahaan bagi perajin cangkul di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kemarin.

Tulungagung pun dijadikan sebagai Pilot Project pengembangan usaha cangkul. “Kita bersama-sama melaksanakan keterpaduan dan sinergitas Pilot Project peningkatan kapasitas SDM pelaku usaha bidang kerajinan logam, khususnya cangkul atau pacul”, kata Asdep Pengembangan Kewirausahaan Kemenkop dan UKM Nasrun, dalam rilisnya.

Nasrun menandaskan, kegiatan seperti ini perlu dipelihara dan terus ditingkatkan. “Perajin pacul mendapatkan pelatihan selama tiga hari dengan materi seperti manajemen usaha, kualitas produksi, dan literasi keuangan. Sehingga, produksi pacul dapat terstandarisasi dengan sertifikasi SNI”, ucap Nasrun.

Menurut Nasrun, program pelatihan ini akan terlihat hasilnya dalam tiga bulan ke depan, dimana produksi dan kualitasnya akan meningkat. Meningkat begitu juga kualitasnya, “Oleh karena itu, komitmen semua lintas pelaku harus tetap dijaga, terutama PT Krakatau steel sebagai pemasok raw material atau bahan baku”, kata Nasrun seraya meyebutkan, urusan kualitas produksi dan teknologi dibina Kementerian Perindustrian.

Salah satu kelemahan IKM, lanjut Nasrun, adalah rendahnya penguasaan teknologi, pasar, hingga permodalan. Sehingga, produknya tidak kompetitif. “Saya optimis Indonesia dapat mewujudkan pemenuhan produksi pacul dalam negeri buatan dalam negeri. Hal ini sejalan dengan program dan arahan Menteri Koperasi dan UKM agar Indonesia mampu menyediakan produksi barang subsitusi (pengganti) impor”, jelas Nasrun.

Lebih jauh, Nasrun mengajak para pelaku usaha untuk membentuk koperasi agar memiliki kekuatan. Artinya, dengan berkoperasi maka mereka akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam berusaha, dan pembiayaan semakin mudah.

“Saya mengajak seluruh perajin cangkul agar menyepakati satu brand dan merk atau one branding. “Dengan kesamaan produk dan desain, juga kualitas dan harga yang sama. Tujuannya, agar sentra produk pacul di Dusun Kiping, Gondang, Tulungagung, bisa dikenal secara nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Tulungagung Maryoto Birowo mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung segala langkah yang diambil pemerintah pusat dalam pengembangan usaha cangkul di wilayahnya.

“Jika melihat proses produksi yang masih menggunakan cara tradisional, secara kualitas sebenarnya sudah bagus. Namun, pemilihan bahan baku dan untuk memenuhi kebutuhan pasar, mereka diharapkan mampu meningkatkan produksi dengan standar SNI”, pungkas Bupati Tulungagung.(jef)

Related For Stop Impor Cangkul, Kab Tulungagung Jadi Pilot Project Sentra Produksi