Arsip Tag: Menkop dan ukm teten masduki

Jurus Jitu Menteri Teten Masduki Agar Koperasi Digandrungi Anak Muda

Jakarta :(Globalnews.id) – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki ternyata punya jurus jitu agar koperasi semakin digandrungi anak muda salah satunya mengintegrasikan program pengembangannya dengan Gerakan Revolusi Mental.

“Pemerintah terus menggelorakan gerakan Ayo Berkoperasi, yang terhubung dengan Program Gerakan Revolusi Mental. Tujuannya, untuk meningkatkan literasi perkoperasian dan menarik minat generasi muda untuk berkoperasi,” kata
MenKopUKM Teten Masduki dalam acara peringatan Hari Koperasi ke-75 tahun 2022 yang mengusung tema “Transformasi Koperasi Untuk Ekonomi Berkelanjutan” dengan tagline “Ayo Berkoperasi”, di Jakarta, Selasa (12/7).

Tema peringatan itu merupakan pengejawantahan dari upaya koperasi yang bertransformasi dari citra model lama dan konvensional menjadi model baru dan profesional. Sehingga, koperasi sejajar dengan badan usaha lain, memiliki sensitivitas usaha yang tinggi, dan diminati generasi muda.

“Sebagai agen pembangunan, generasi muda kita harus dibekali dengan pengalaman berusaha serta pembangunan karakter yang berbasis nilai gotong royong dan usaha bersama, yang keseluruhannya akan diperoleh melalui koperasi,” kata MenKopUKM.

Oleh karena itu, bagi Menteri Teten, dukungan regulasi menjadi langkah penting agar koperasi terus diminati, serta menciptakan ekosistem bisnis yang dinamis, adaptif, dan akomodatif bagi kepentingan anggota dan masyarakat.

“Pemerintah melakukan pembaruan regulasi perkoperasian berupa Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 8 Tahun 2021 tentang Koperasi dengan Model Multi Pihak, sebagai salah satu pilihan kelembagaan koperasi berbasis kelompok,” kata Menteri Teten.

Selain itu, kata MenKopUKM, penyusunan regulasi pengganti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian menjadi prioritas, dengan penguatan substansi pada pengembangan ekosistem perkoperasian.

Diantaranya, kebijakan afirmatif yang memberikan kesempatan koperasi bergerak di berbagai sektor usaha dan tumbuh besar, penerapan koperasi multi pihak terutama bagi pelaku start up, professional, dan generasi muda, penerapan tata kelola yang baik, perlindungan anggota, serta penanganan dan mitigasi terhadap koperasi bermasalah.

“Program pemberdayaan koperasi akan berjalan baik dan optimal dengan dukungan dari pemerintah, Gerakan Koperasi, pihak swasta, akademisi, dan stakeholders terkait lainnya,” ujar MenKopUKM.

*Fokus Pemberdayaan*

Lebih dari itu, MenKopUKM pun menekankan fokus pemberdayaan koperasi saat ini menyasar sektor riil, sebagai sektor yang memiliki koefisien tumbuh tinggi dan potensi nilai tambah yang besar.

Menurut Menteri Teten, itu sejalan dengan program yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, dikembangkan korporatisasi petani dan nelayan (pangan) melalui koperasi guna mendukung kemandirian pangan nasional berbasis keunggulan komoditas lokal.

“Beberapa pilot project sedang dijalankan sebagai manifestasi program korporatisasi petani dan nelayan (pangan) melalui koperasi,” kata MenKopUKM.

Pertama, pengembangan budidaya dan hilirisasi kacang koro, sebagai substitusi kacang kedelai yang sebagian besar masih diimpor. Kedua, hilirisasi sawit rakyat berbasis koperasi untuk melakukan pengolahan minyak makan merah sebagai alternatif minyak goreng;

Ketiga, pendampingan bagi koperasi perikanan untuk memperbaiki tata kelola manajemen usaha dan peningkatan kapasitas produksi, perluasan akses pasar, dan peningkatan nilai tambah produk olahan perikanan.

“Keempat, pendampingan bagi koperasi pengelola Rumah Produksi Bersama sehingga terjadi standarisasi produk pada komoditas minyak nilam, jahe, kayu/rotan, kelapa, dan daging sapi,” kata Menteri Teten.(Jef)

MenKopUKM: Kopi Jadi Komoditas Penggerak Koperasi dan UMKM Indonesia

Jakarta:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan bahwa komoditas kopi telah menggerakkan kinerja UMKM dan koperasi, baik dari sisi hulu dan hilir. Hal ini dibuktikan dengan 96 persen perkebunan kopi Indonesia dikuasai oleh 1,3 juta petani dan lebih dari 2.950 kedai kopi dikelola anak muda dan pelaku ekonomi kreatif.

“Di tengah pandemi, tiap-tiap negara tengah mencari keunggulan domestiknya masing-masing. Ini penting agar Indonesia tidak terus-menerus mengekor ke negara-negara maju. Kopi dan rempah adalah komoditas unggulan negara kita yang harus dikelola dengan baik, dikuasai inovasi teknologinya, punya nilai tambah, menyejahterakan petani, dan berkelanjutan,” kata MenKopUKM Teten Masduki dalam acara Sarasehan Kebangkitan Kopi Rempah Nusantara yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IKA FAPERTA IPB University) di IPB Convention Center, Bogor, Sabtu (21/5).

Namun, menurut Menteri Teten terdapat tiga tantangan untuk pengembangan kopi rakyat, di antaranya lemahnya kelembagaan usaha yang umumnya masih perorangan, rendahnya produktivitas dan kualitas produk UMKM dan koperasi, serta kesulitan akses pembiayaan dan pasar.

“Dalam hal ini, KemenKopUKM memberikan dukungan dari hulu dan hilir. Dari hulu, kami ingin melakukan penguatan kelembagaan usaha melalui korporatisasi petani kopi berbasis koperasi dan pengembangan model bisnis terintegrasi hulu-hilir dari mulai produksi, akses pembiayan, rantai pasok, dan pemasarannya,” ucap Menteri Teten.

Lebih lanjut, Menteri Teten menambahkan bahwa pihaknya sudah melakukan beberapa piloting terkait korporatisasi petani ini. Salah satunya ialah Koperasi Produsen Baitul Qiradh Baburrayyan di Aceh Tengah yang diusahakan untuk menguasai pasar ekspor 345,6 ton Kopi Arabica Gayo ke pasar Amerika Serikat dan Eropa.

“Ini akan menjadi satu-satunya koperasi yang memiliki akses penjualan kopi langsung ke Starbucks,” kata Menteri Teten.

Selain itu, terdapat juga Koperasi Klasik Beans-Sunda Hejo di Jawa Barat yang mengonsolidasikan petani perhutanan sosial dan akan memasok kopi specialty untuk kebutuhan dalam negeri dan mancanegara.

“Juga ada Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo) yang menjadi satu-satunya koperasi wanita di Asia Tenggara yang masuk dalam Organic Product Trading Company (OPTCO) Cafe Femenino. Petani kopi perempuan berjumlah 409 orang dan mengelola lahan sebanyak 342 hektare. Sebanyak 70 persen produksi diekspor ke Amerika Serikat, 20 persen ke Eropa, dan 10 persen ke Australia,” kata Menteri Teten.

Dari sisi hilir, KemenKopUKM mendorong konsumsi kopi di dalam negeri, di mana anak muda menjadi kunci. Hal ini dilakukan dengan perluasan kedai kopi ke daerah secondary city melibatkan komunitas kreatif dan basis pesantren.

Berdasarkan riset Toffin dan Majalah MIX Marcoom pada 2019 jumlah kedai kopi di Indonesia tumbuh hingga 2.950 gerai dan angka tersebut mengalami kenaikan tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Menteri Teten, kopi telah disinergikan ke dalam prioritas 2022, yaitu pemulihan transformatif, di mana afirmasi 70 persen program kementerian untuk anak muda, perempuan dan usaha ramah lingkungan, termasuk kopi.

“Kami juga mematok 40 persen pembiyaaan LPDB ke sektor rill agar memacu pembiayaan perbankan dan nonperbankan lebih terkonsolidasi ke dalam ekosistem sektor produktif, termasuk kopi. Kami targetkan 20 juta UMKM sudah masuk ke dalam ekosistem digital, termasuk kopi,” kata Menteri Teten.

“Kopi tak lagi sekadar minuman, apalagi diracik dengan rempah nusantara. Kopi telah menjelma menjadi kebutuhan hidup, memasok energi, dan menjadi bahasa universal bagi semua kalangan tanpa batas,” ujar Menteri Teten.

Berdasarkan Laporan International Coffee Organization (ICO), Indonesia telah menempati peringkat 4 produsen kopi terbesar di dunia dengan total produksi 12 juta karung kopi berukuran 60 kg pada 2014-2019.

Selain itu, meskipun produksi kopi mengalami penurunan saat pandemi, namun harga kopi dunia naik 1,02 persen dari 748,6 juta dolar AS menjadi 756,2 juta dolar AS di tahun 2021. Dalam jangka panjang, konsumsi kopi dunia diperkirakan akan terus meningkat, paling sedikit tumbuh minimal 2 persen pertahun, sedangkan di daerah Asia Timur dan Tenggara tumbuh di atas 5 persen.

Kepala Subdirektorat Pemasaran Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Normansyah Hidayat Syahruddin menambahkan, produksi kopi Indonesia pada 2021 telah mencapai 670 ribu ton. Dia pun menegaskan bahwa Indonesia telah menjadi negara produsen kopi keempat terbesar dunia.

“Kami pada awal 2022 juga sudah melakukan gerakan menanam kopi serentak di Kabupaten Bandung. Kami fokus untuk melakukan korporasi perkebunan. Ini bentuk penguatan lembaga petani yang diharapkan membuat konsisten ekspor pasokan produksi kopi dan daya jualnya,” ujar Normansyah.

Di tempat yang sama, Ketua IKA FAPERTA IPB University Octen Suhadi menegaskan bahwa pihaknya senantiasa menjadi pelopor kebangkitan kopi nusantara. Dia juga berharap, IPB University dapat membalikan kejayaaan kopi nusantara.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB University Ernan Rustiadi menuturkan bahwa komoditas kopi telah membuat petani bukan hanya sebagai penghasil buah segar saja, tapi juga mendapatkan nilai tambah.

“Petani kopi saat ini bukan hanya penghasil buah segar saja, tapi juga dapat menghasilkan gabah kopi, mengolah ceri menjadi green bean, roasting untuk jadi kopi bubuk dan bahkan ada yang punya kafe sendiri. Ini dinikmati petani nilai tambahnya. Ini karena hilirisasi kopi yang baik di Indonesia,” kata Ernan.(Jef)

MenKopUKM Dorong Ekspor Kelapa Melalui Koperasi


Jakarta:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendorong daya saing dan ekspor kelapa agar dikembangkan melalui koperasi, terintegrasi dari sektor hulu ke hilir melibatkan offtaker, terhubung ke pembiayaan, dan mengunakan teknologi.

Hal tersebut disampaikan Teten Masduki dalam acara Inovasi Pengembangan UMKM Kelapa Terpadu Berdaya Saing dan Berkualitas Ekspor, Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi, Selasa, 9 November 2021.

Teten mengatakan, potensi industri kelapa sangatlah besar, baik di pasar domestik maupun di pasar dunia.

“Hampir semua dari kelapa, mulai dari daun, buah, hingga serabutnya berguna dan bernilai tinggi. Dalam hal penyumbang devisa negara, agribisnis kelapa berada pada peringkat 4 setelah sawit, karet, dan kakao,” kata Teten.

Pada triwulan II tahun 2020, ekspor kelapa Indonesia tercatat sebesar 988,3 ribu ton atau senilai 519,2 juta dollar AS. Volume ekspor ini tercatat meningkat 16-17 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Kami berharap produk kelapa dan olahannya terus dikembangkan khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan (Sulawesi Utara) ini,” katanya.

Pada 2020, produksi kelapa di Indonesia 2,8 juta ton sesuai data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Lima provinsi dengan produksi kelapa terbesar yaitu: Riau (14,20%), Sulawesi Utara (8,92%), Jawa Timur (8,54%), Maluku Utara (7,52%), dan Sulawesi Tengah (6,96%).

Sulawesi Utara memiliki produktivitas 1,2 ton kopra/ha/tahun atau lebih tinggi dari produksi nasional yaitu 1,0 ton kopra/ha/tahun.

Tantangan pengembangan kelapa di Sulawesi Utara antara lain sebagian besar tanaman kelapa sudah tua/tidak produktif serta terserang hama dan penyakit alih fungsi lahan.

Ada 6 produk kelapa dan olahan indonesia yang tinggi nilai ekspornya di dunia yakni kopra diolah dengan nilai ekspor 309,4 juta dollar dengan pangsa pasar 25,5% dan Indonesia merupakan peringkat 1 di dunia.

Kopra mentah nilai ekspor 236,3 juta dollar dengan pangsa pasar 22,92%, Indonesia merupakan peringkat 2 di dunia setelah Filipina.

Kelapa parutan kering nilai ekspor 178,8 juta dollar AS dengan pangsa pasar 24,28%. Indonesia merupakan peringkat ke-2 di dunia setelah Filipina. Gula kelapa, nilai ekspor 79,1 juta dollar dengan pangsa pasar 3,99%. Indonesia merupakan peringkat 9 di dunia. Kelapa segar dalam batok, nilai ekspor 58,7 juta dollar dengan pangsa pasar 29,8%. Indonesia merupakan peringkat ke-2 di dunia setelah Thailand.

Sabut kelapa, nilai ekspor 9,2 juta dollar dengan pangsa pasar 1,2%, Indonesia merupakan peringkat 11 di dunia.

“Kita terus berjuang meningkatkan kontribusi ekspor UMKM. Saat ini masih 15,65% (Data KemenkopUKM Tahun 2019) masih jauh dibanding beberapa negara lainnya, seperti Singapura 41%, Thailand 29%, atau Tiongkok yang mencapai 60%. Pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM meningkat menjadi 17% di 2024,” kata Teten.

Faktor penunjang agar ekspor UMKM suatu negara meningkat dapat dilihat dari kinerja Indeks Kinerja Logistik (LPI), terkait optimalisasi ekspor, perlu upaya menekan biaya logistik, mempersingkat waktu pengurusan dokumen ekspor, dan kewajiban pabean.

Teten menambahkan, pembiayaan LPDB-KUKM saat ini 100% hanya untuk pembiayaan koperasi.

“Kami juga melalui Smesco Indonesia sebagai Centre of Excellence terus melakukan inovasi kebijakan agar dapat meningkatkan mutu dan daya saing UMKM dan koperasi Indonesia,” katanya.

Smesco Indonesia telah dilengkapi instrumen pendukung, antara lain BNI Xpora sebagai solusi digital bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) guna meningkatkan kapasitas bisnis dan ekspor ke pasar global. Kemudian Smesco Hub Timur untuk mengagregasi produk UMKM dan koperasi di wilayah timur Indonesia, baik untuk target pasar di dalam dan luar negeri.

Smesco Fulfillment Center untuk meningkatkan transaksi produk UKM dengan menyediakan layanan logistik dengan tarif murah dan terjangkau. Serta
Smesco Labo untuk skill enrichment bagi semua pelaku usaha/ industri kecil dan menengah. Fasilitas laboratorium yang sudah tersedia, seperti Mechanical Lab, Photography Lab, Food Lab, dan Handycraft Labo. Dan juga Pusat Layanan UKM merupakan layanan konsultasi online untuk UMKM ekspor melalui aplikasi Whatsapp yang sudah verified.

“Peran Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) sangat strategis dalam meningkatkan sinergi dan kolaborasi triple helix, yakni akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah pusat. Dan semoga makin banyak inovasi produk UMKM yang tercipta di Sulawesi Utara khususnya produk kelapa yang berdaya saing dan berkelas dunia,” kata Teten.

Teten juga menyampaikan ucapan selamat hari Dies Natalis ke-61 Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi.

“Semoga terus memperkuat kolaborasi, menciptakan inovasi, dan melakukan pendampingan agar UMKM dapat berdaya saing dan go global,” kata Teten.

Hadir secara daring pada kesempatan tersebut Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, Bupati Minahasa Selatan Franky D. Wongkar, serta Deputi Bidang Kemaritiman dan SDA Bappenas Arifin Rudiyanto.

Kemudian Rektor Unsrat Prof. Dr. Ellen Joan Kumaat, Msc, DEA, Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Prof. Dr. Robert molenaar, dan para Dosen, mahasiswa, dan pelaku UMKM peserta webminar. Sementara MenKopUKM didampingi Riza Damanik Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM.(Jef)

MenKopUKM Gencarkan Transformasi UMKM agar Siap Mengambil Peluang Usai Pandemi

Jakarta:(Globalnews.id)— Angka penyebaran Covid-19 secara nasional mulai menunjukkan tren penurunan. Oleh karena itu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki berharap tahun 2022 menjadi tahun pertama Indonesia lepas dari tekanan Covid-19. Sejalan dengan itu, pihaknya mencanangkan pemantapan UMKM jangka menengah dan panjang melalui transformasi UMKM.

“Di tahun 2022, kami akan terus mengawal agenda besar yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM,” kata Teten mewakili Wakil Presiden dalam Seri Webinar “UMKM Summit 2021” secara daring, Sabtu (6/11/2021).

Sebagaimana diketahui bahwa PP Nomor 7 Tahun 2021 merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun agenda besar tersebut antara lain pemanfaatan 30% infrastruktur publik untuk UMKM, 40% belanja pengadaan barang/jasa pemerintah untuk UMKM, kemitraan strategis UMKM dengan BUMN dan usaha besar, serta terwujudnya koperasi modern.

“Ekonomi Indonesia akan pulih jika sektor kesehatan bisa ditangani dengan baik. Salah satunya, melalui vaksinasi yang berjalan sesuai dengan rencana sehingga mampu mengendalikan Covid-19,” ujar Teten.

Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga menetapkan sejumlah target pada tahun 2022, antara lain meningkatkan kontribusi koperasi terhadap PDB sebesar 5,3%, kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar 63%, rasio kewirausahaan nasional sebesar 3,75%, kontribusi ekspor UKM sebesar 15,8%, serta Usaha Mikro yang bertransformasi dari informal ke formal sebesar 4%.

“Kita juga ingin Indonesia menjadi produsen halal dunia. Kami telah menetapkan prioritas ke depan yakni muslim fashion. Percepatan digitalisasi terus kami lakukan. Saat ini sudah 16,4 juta UMKM dan ditargetkan 2024 menjadi 30 juta UMKM,” papar Teten.

Selama hampir 2 tahun UMKM telah berjuang dan bekerja keras menghadapi pandemi Covid-19. Walaupun UMKM paling mudah goyah terhadap krisis, uniknya UMKM pulalah yang paling cepat beradaptasi.

Teten mengatakan sejak awal pandemi, hampir 94% UMKM mengalami penurunan permintaan. Namun di saat serangan varian delta, penurunan permintaannya hanya menjadi 37,2%. Pada puncak pertama pandemi Covid-19 sebanyak 53,7% UMKM mengalami penurunan pendapatan lebih dari 50%. Namun, pada gelombang kedua yang mengalami penurunan pendapatan tinggal 41,5%.

“Alhamdulillah, ekonomi Indonesia 2021 mampu menjaga tren positif berturut-turut, yakni triwulan II 7,07% (yoy), dan terbaru triwulan III 3,51% (BPS, 5 November 2021),” tegasnya.

Teten mengatakan, selain pandemi, pemerintah harus mempersiapkan UMKM agar mampu berkontribusi mengurangi dampak buruk dari perubahan iklim. Di mana dalam menjalankan usaha ke depan, UMKM harus memperhatikan dampak lingkungan dengan mulai menjalankan bisnis hijau.

Menurut Teten, dengan beralih ke bisnis hijau, maka bisa meningkatkan kualitas produk, mendapatkan akses ke pasar baru, terjadi peningkatan produksi, mendapatkan peluang lainnya, biaya input yang lebih rendah, serta produk atau layanan baru.

“Salah satu usaha ramah lingkungan dijalankan oleh Koperasi Japanese Consumer Cooperation Union (JCCU) merupakan koperasi maju di Jepang, yang menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dalam menghasilkan produk CO.OP Sustainable,” ujar Teten.

Tema CO.OP Sustainable adalah melindungi sumber daya laut, hutan dan organik, serta menggunakan sertifikasi dan logo yang menunjukkan produk tersebut ramah lingkungan. Produk-produk yang dihasilkan seperti Ikan merah tanpa tulang, kertas toilet daur ulang, minyak perilla organik, dan teh organik kagoshima.

“Mari kita majukan UMKM dengan menjalankan usaha yang produktif, berkualitas, dan ramah terhadap lingkungan,” imbuhnya.(Jef)

MenKopUKM: Banjar Creative Space Jadi Tempat Aktivitas Produktif Ekonomi Masyarakat

Badung:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyambut baik penggunaan balai banjar di Kabupaten Badung, Bali sebagai aktivitas produktif ekonomi masyarakat. Hal itu diwujudkan dengan pendirian Banjar Creative Space (BCS) sebagai pusat kreatif yang akan membangkitkan ekonomi masyarakat Kabupaten Badung.

“Balai banjar yang biasa digunakan sebagai sentra giat adat-budaya, sosial, dan keagamaan adalah pusat aktivitas masyarakat, sehingga sangat tepat juga dimanfaatkan pula untuk aktivitas produktif ekonomi warga,” ungkapnya dalam acara Pengukuhan Pengurus Komunitas Kreatif Banjar Samuan sekaligus Penandatanganan MoU Dengan Ekosistem Pendukung BCS di Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (30/10/2021).

Menurut Teten, sebanyak 4.600 balai banjar yang terdata di seluruh Provinsi Bali merupakan potensi jejaring infrastruktur dan sumber daya manusia untuk pengembangan UMKM.

Dengan adanya BCS, anak-anak muda kreatif yang ada di banjar dapat memaksimalkam potensi mereka untuk belajar, berlatih, berkreasi, berkolaborasi, dan membangun bisnisnya.

“Keberadaan Banjar Creative Space ini sangat penting untuk membangkitkan industri kreatif mengingat saat ini di Bali industri pariwisata sedang mengalami tantangan besar. Dari banjar juga harapannya akan muncul produk-produk unggul yang bisa di-scale up untuk didorong masuk ke pasar nasional dan internasional,” kata Teten.

Teten berharap, adanya BCS ini dapat menjadi motor yang mengakselerasi transformasi digital UMKM Badung. Pasalnya, di tengah pandemi dan di era disrupsi digital, kemampuan digital UMKM menjadi sangat krusial untuk dikembangkan.

Menurutnya, perlu ada pendekatan ekosistem dari hulu ke hilir untuk transformasi digital yakni mulai dari pelatihan, pendampingan, factory sharing, pembiayaan, dan akses pasar.

“Saya meyakini ini akan menjadi role model. Ini juga bisa menjadi inspirasi pemanfaatan banjar, pusat aktivitas warga untuk menghadirkan dampak bagi kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, Teten juga mengundang anak-anak muda kreatif di BCS untuk terus mengembangkan produk UMKM lokal dan nantinya dapat kolaborasikan dengan Smesco Hub Timur.

“Smesco Hub Timur di ITDC Nusa Dua ini menjadi ikhtiar untuk membantu produk-produk unggul Bali dan Indonesia timur masuk pasar ekspor. Produk berbasis agro, produk khas kesukuan, produk spa dan herbal akan menjadi produk prioritas yang difasilitasi oleh Smesco Hub Timur,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta menegaskan dengan adanya BCS, pihaknya siap mendukung program dari KemenKopUKM untuk mengembangkan UMKM hingga nantinya sukses melakukan ekspor.

“Inisiatif ini saya harapkan ke depan dapat membuat BCS menjadi penggerak ekonomi masyarakat di Kabupaten Badung. Semoga kami bisa jadi role model pemanfaatan fasilitas untuk ekonomi kreatif,” ujar Nyoman.

Penggagas BCS sekaligus Ketua Badung Economic Art Creative Hub (BEACH) Inda Trimafo Yudha menambahkan bahwa BCS merupakan bukti bahwa pihaknya bekerja keras untuk membangun ekosistem kreatif di Bali.

“Balai banjar akan dilengkapi dengan jaringan internet fiber optic yang tercover ke seluruh wilayah Badung. Ini potensi yang harus dimaksimalkan karena balai sejauh ini hanya dipakai untuk kegiatan keagamaan. Tidak setiap hari dipakai. Oleh karena itu, kami bicara dengan para pengurus banjar untuk membangun creative space,” tutur Inda.

Menurutnya, ada tiga hal yang akan dilakukan di BCS nantinya. Pertama ialah memunculkan UMKM yang kreatif, salah satunya melalui Smesco Hub Timur yang menjadi jendela untuk ekspor ke pasar nasional dan global.

“BCS ini menjadi pembibitan menuju Smesco Hub Timur,” ujarnya.

Kedua, BCS juga akan mencetak talenta kreatif dan ketiga, BCS dapat menjadi tempat bagi anak-anak SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi untuk belajar daring dengan fasilitas yang ada.(Jef)

Gandeng Ina Produk Indonesia, MenKopUKM Ingin Direktori Digital Perluas Pasar UMKM Tanah Air

Jakarta:(Globalnews.id)- Upaya percepatan digitalisasi produk UMKM terus dilakukan berbagai pihak. Kali ini sinergi terjadi antara Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) bersama Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kementerian BUMN serta PT Ina Produk Indonesia (InaProduct.com), dengan me-launching situs inaproduct.com.

Situs inaproduct.com ini berisikan direktori produk Indonesia. Mulai dari informasi lengkap pelaku dan brand lokal termasuk UKM dari nama usaha, alamat, kontak, produk, hingga foto pabrik/workshop yang dengan mudah diakses semua pihak. Sehingga mampu memperluas jaringan pemasaran baik lingkup dalam dan luar negeri.

Launching situs ini diresmikan oleh MenKopUKM Teten Masduki bersama Mendag M Lutfi, Direktur Utama PT Sarinah (Persero) Fetty Kwartati, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN Loto Srinaita Ginting dan Founder Inaproduct.com sekaligus Ketua Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah di gedung Smesco, Kamis (28/10). Perhelatan launching ini juga disertai MoU (Memorandum of Understanding) antara Inaproduct.com dengan Kemenkop, Kemendag, Kemenperin dan Sarinah.

Dalam sambutannya, MenKopUKM Teten Masduki mengatakan, MoU dengan InaProduct.com bertujuan untuk mendukung digitalisasi promosi dan pemasaran produk UMKM, melalui inisiasi platform direktori produk Indonesia InaProduct.com.

“Inaproduct.com bisa menjadi jembatan menghubungkan UMKM kepada buyer tak hanya di dalam tapi juga luar negeri. Situs direktori ini penting dalam mewujudkan UMKM benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi nasional,” katanya.

Selain itu, sambung MenKopUKM, situs direktori ini diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi UMKM, untuk dapat menyajikan produk andalan sesuai kebutuhan langsung dari tangan pertama, memberikan kemudahan bisnis, serta mendorong ekosistem bisnis yang kondusif, business matching, pelatihan, dan pameran online dan offline.

“Kami bersyukur harapan punya direktori ini terwujud. Tadinya kami pikir direktori ini bisa dibuat sendiri di KemenKopUKM, tapi lebih pas memang dibuat oleh swasta agar lebih sustain. Sehingga UMKM lebih produktif dan memiliki daya saing,” ujarnya.
 
Dari data idEA September 2021, potensi ekonomi digital di Indonesia cukup menjanjikan, transaksi di e-commerce meningkat selama pandemi sebanyak 54 persen, lebih dari 3 juta transaksi per hari. Pendapatan ekonomi digital mencapai 44 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 640 triliun meski ditengah pandemi, dan potensi ekonomi digital Indonesia senilai 124 juta dolar AS, atau sekitar Rp 1.700 triliun di tahun 2025.
 
MenKopUKM Teten mengapresiasi kerja sama yang diinisasi oleh PT Ina Produk Indonesia dengan KemenKopUKM, Kemendag, Kemenperin dan Sarinah. Ia berharap ajang ini dapat memanfaatkan potensi ekonomi digital Indonesia secara maksimal, oleh UMKM yang bertransformasi digital.

Senada dengan hal tersebut, Mendag M Lutfi mengatakan, sejak dulu hingga saat ini perjuangan UMKM tak pernah berhenti. Ia menyebut ada tiga permasalahan utama yang kerap kali dihadapi UMKM. Yakni UMKM kurang berpengalaman sehingga sulit beradaptasi, kurang jaringan dan kurang pendanaan.

“Dengan inaproduct.com ini bisa menjembatani permasalahan UMKM dari sisi networking. Mudah-mudahan begitu situs ini berjalan, bisa langsung menjual produk UMKM yang lebih baik dan berdaya saing,” imbuh Lutfi.

Mendag menyatakan, pihaknya siap berkomitmen bersama KemenKopUKM untuk bisa mengelola UMKM bukan hanya dari sisi supply side tetapi juga demand side. Tak hanya itu, Kemendag bersama KemenKopUKM juga bersama-sama membina pasar industri halal, dan menjadikan Jakarta sebagai kiblat fesyen muslim dunia melalui produk lokal.

“Saya siap bersama di belakang pak Teten panglima tempur UMKM, untuk mendorong UMKM menjadi jagoan regional dan global,” tegasnya.

*Pendataan UMKM*

Founder inaproduct Budihardjo Iduansjah mengatakan, akibat situasi pandemi, muncul keinginan untuk membantu ekonomi nasional dengan cara mendata pelaku & brand lokal termasuk UKM, kemudian membuatkan ekosistem untuk menjadi tuan rumah di dalam negeri sendiri dan ekspor.

“Agar pemulihan ekonomi bisa dipercepat maka inaproduct.com hadir sebagai start up baru yang dilandasi idealisme nasionalisme, untuk membantu pemerintah dan seluruh pelaku lokal. Platform Direktori Produk Indonesia inaproduct.com ditargetkan bisa mendata sekitar 5.550 usaha besar, 45.000 usaha menengah dan 193.000 usaha di seluruh Indonesia,” terang Budiharjo.

Lebih lanjut ia menyatakan, seiring dengan program pemerintah digitalisasi dan hilirisasi serta program BBI (Bangga Buatan Indonesia) maka direktori digital sangat diperlukan. Budihardjo berterima kasih atas dukungan berupa MoU dari KemenKopUKM, Kemendag, Kemenperin, dan PT Sarinah yang membantu mengembangkan produk dan brand Indonesia termasuk UKM, yang diwujudkan dalam MoU bersama pada hari ini dan mendukung SMESCO, sebagai pusat produk dan brand Indonesia juga UKM melalui berbagai pameran, pelatihan-pelatihan dan aktivitas lainnya.

Di kesempatan yang sama, Staf Ahli Bidang Keuangan dan Pengembangan UMKM Kementerian BUMN Loto Srinaita Ginting menuturkan, kehadiran inaproduct.com mampu mendorong pemasaran produk lokal secara lebih luas dan efisien, sehingga memberikan peluang transaksi lebih besar lagi.

“Kementerian BUMN bersama BUMN telah ikut mendigitalisasi UMKM lewat Pasar Digital (PaDi) UMKM. Di mana saat ini terdapat 58 BUMN yang telah tergabung dan hingga akhir tahun ditargetkan sebanyak 98 BUMN, dengan transaksi mencapai Rp 13,8 triliun sebanyak 188.000 transaksi yang melibatkan 11.818 UMKM. Secara garis besar, sangat memungkinkan PaDi ini juga tergabung dan berkolaborasi dengan platform inaproduct.com,” pungkasnya. (Jef)

Sinergi Dekranas dan KemenkopUKM Kembangkan Pengrajin Wastra Lombok NTB

Mandalika:(Global news.id) –  Rangkaian sinergi program antara Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dengan Kementerian Koperasi dan UKM di lima destinasi wisata super prioritas, berlanjut di Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Ini adalah rangkaian sinergi terakhir tahun 2021 setelah dilaksanakan di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur, Borobudur Magelang, Danau Toba Sumatera  Utara, dan Likupang Sulawesi Utara. 

Sinergi antara Dekranas dan Kemenkop UKM ditujukan untuk melaksanakan berbagai program peningkatan sumber daya pengrajin wastra agar lebih berdaya saing dan mampu bertahan dalam kondisi era baru.

“Saya mengapresiasi sepenuhnya kegiatan Sinergi Program/Kegiatan Kementerian Koperasi dan UKM Bersama Dekranas  yang berkomitmen untuk mendorong usaha mikro, kecil dan menengah agar lebih berdaya saing dan mampu bertahan dalam kondisi era baru. Kegiatan ini merupakan wujud peran aktif Dekranas untuk berpartisipasi dalam mendorong perekonomian Indonesia,” kata Ketua Dekranas Bidang Manajemen Usaha Suzana Teten Masduki, dalam sambutan acara Sinergi Program/Kegiatan Kementerian Koperasi dan UKM Bersama Dekranas yang membawa tema “Wastra Lombok Sumbawa”, Selasa (26/10/2021) di Mandalika, Nusa Tenggara Barat.

Turut hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Slovakia  Adityawidi Adiwoso Asmady,  Duta Besar Chile untuk Indonesia Gustavo Ayeres,  Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Argentina untuk Indonesia Gustavo Arturo Torres,  Konsul Kehormatan Monaco untuk Indonesia Karlina Damiri, Gubernur Nusa Tenggara Barat yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Lalu Gita Ariadi, Ketua Dekranasda Provinsi Nusa Tenggara Barat,  Niken Zulkiflimansyah, Deputi Usaha Kecil dan Menengah Kemenkop UKM Hanung Harimba, Deputi Usaha Mikro Eddy Satriya, serta Deputi Kewirausahaan Siti Azizah.

Suzana menyampaikan bahwa Dekranas turut berperan dalam pengembangan wastra dengan mendorong para pelaku UMKM untuk membentuk kelembagaan koperasi. Karena melalui koperasi, pengrajin wastra akan memiliki daya tawar, akses permodalan yang mudah ke lembaga pembiayaan, serta pengembangan pasar.

“Jika pengrajin wastra berjalan sendiri-sendiri akan lambat untuk berkembang. Oleh karena itu Kelembagaan koperasi berfungsi menjadi agregator, mengakses modal,   serta menjangkau pasar yang lebih luas. Sehingga produsen wastra tidak lagi berpikir bagaimana menjual produknya karena fungsi itu dilaksanakan koperasi. Pengrajin hanya berpikir tentang kualitas produk dan model yang harus dikembangkan,”  ujar Suzana.

Suzana juga menuturkan terkait perlunya promosi wastra terus menerus pada berbagai platform digital untuk menyasar pasar anak muda. Dikatakan, anak muda ternyata menyukai wastra dengan caranya sendiri. Hal tersebut terbukti dengan kompetisi foto wastra melalui media sosial yang menghimpun lebih dari 3.000 foto wastra dengan peserta mayoritas anak muda.

“Peran anak muda untuk mengembangkan wastra sangat perlu, agar wastra sebagai warisan bangsa terus berlanjut dan menjadi kebanggan anak bangsa,” tutur Suzana.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah Hanung Harimba mengatakan melalui sinergi bertemakan Wastra Lombok Sumbawa ini diharapkan mampu meningkatkan citra produk kerajinan hasil karya pengrajin di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sehingga Wastra Lombok Sumbawa dapat bersaing di pasar lokal maupun global.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia UMKM Pengrajin di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk kerajinan unggulan daerah yang berbasis kearifan lokal dan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan,” ungkap Hanung. 

Sementara itu Gubernur Nusa Tenggara Barat melalui sambutannya yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Lalu Gita Ariadi mengapresiasi sinergi yang dilakukan oleh Dekranas dengan Kemenkop UKM. Khususnya terkait dengan pengembangan UMKM Pengrajin Wastra yang kali ini dilaksanakan di Mandalika sebagai salah satu destinasi wisata super prioritas sekaligus termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Dukungan dari berbagai Kementerian/Lembaga kepada Mandalika sebagai KEK juga diberikan oleh Kemenkop UKM, salah satunya melalui Bazaar UMKM Mandalika. Selain itu, dukungan juga diberikan oleh Dekranasda melalui pengembangan sentra-sentra di Kawasan Mandalika yang menjadi bentuk kepedulian terhadap kekayaan Wastra,” sambut Lalu.

Ketua Dekranada Provinsi Nusa Tenggara Barat Niken Zulkiflimansyah juga mengungkapkan dukungan serta apresiasinya pada sinergi ini. kegiatan yang memiliki tujuan untuk membantu pengrajin dalam mengelola usaha Wastra ini diharapkan dapat terus terjalin kedepannya.

“Budaya Wastra bukan hanya di Pulau Lombok tetapi juga di Sumbawa. Sehingga saya berharap kegiatan semacam ini dapat terus terjalin dan berkelanjutan agar seluruh daerah mendapat kesempatan yang sama terkait pengmbangan usaha mulai dari sisi produk hingga teknik pemasarannya,” pungkas Niken. (Jef)

MenKopUKM Sambut Penyelenggaraan Banyuwangi Muslim Fashion Festival 2021 Jadi Lokomotif Fesyen Muslim Dunia


Banyuwangi:(Globalnews.id)-Pesatnya perkembangan fesyen muslim di Tanah Air, membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pusat fesyen muslim dunia. Bahkan potensi ini juga didorong dengan menjamurnya desainer muda fesyen muslim yang inovatif dan berkualitas.

Menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, karya-karya desainer Indonesia terbukti sudah mendunia dan membuat Indonesia juga menjadi kiblat fesyen muslim dunia.

Untuk itu, penyelenggaraan Banyuwangi Muslim Fashion Festival 2021 diharapkan mempercepat Indonesia menuju pusat fesyen dunia, serta menjadi lokomotif sekaligus pendorong industri halal.

“Wakil Presiden Ma’ruf Amin pernah menyatakan, Indonesia menjadi produsen produk halal terbesar di dunia pada 2024. Dimulai dengan fesyen muslim dan modest wear. Hal ini hanya bisa dicapai dengan kolaborasi berbagai pihak antara UMKM, pelaku kreatif, industri, dan pemerintah,” ucap Teten dalam sambutannya pada Banyuwangi Muslim Fashion Festival 2021, di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (23/10/2021).

Dilansir Global Islamic Indicator, modest muslim fashion merupakan salah satu fesyen unggulan dari Indonesia dengan point indicator sebesar 34.26, mengungguli rata-rata point global di angka 17.55.

“Capaian tersebut bisa didukung lewat kegiatan di Banyuwangi hari ini. Tahun lalu saat mulai pandemi, secara gobal nilai belanja produk muslim ikut berdampak dan turun 2,9 persen, menjadi 268 miliar dolar AS, atau senilai Rp3,9 triliun. Namun angka ini diprediksi pulih di 2021 dan terus tumbuh hingga 2024. Nilainya diprediksi mencapai 311 miliar dolar AS atau setara Rp4,5 triliun,” rinci MenKopUKM.

Untuk itu, tren baik tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi Indonesia. Selanjutnya, untuk menjadi pusat mode muslim dunia, Indonesia juga perlu melakukan promosi terpadu seperti event Banyuwangi Muslim Fashion Festival 2021 ini.

“Semoga acara ini secara konsisten hadir dan lebih besar lagi skalanya. Bahkan saya harap bisa menjadi kalender dunia untuk fesyen muslim,” harap Teten.

Ia juga meminta agar event tersebut menjadi wadah untuk memetakan agregator dan enabler sekaligus, sebagai pendampingan terhadap pelaku UMKM pelaku di sektor produk pakaian, menghubungkan dengan produsen berkualitas, meningkatkan produknya menjadi berstandar global, menghadirkan pembiayaan mudah dan murah, sampai mempertemukan dengan buyer potensial.

“Sehingga transaksi fesyen muslim bisa terdongkrak. Saya berpesan, mari kita tingkatkan belanja produk lokal. Dengan begitu, UMKM akan bertumbuh serta mendukung perbaikan ekonomi nasional. Semoga ikhtiar bersama ini juga dapat membuahkan hasil dan berdampak sepenuhnya bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkas MenKopUKM.

Di kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas mengatakan, kehadiran Banyuwangi Muslim Fashion Festival 2021 semakin mendorong fesyen muslim di Banyuwangi bangkit, yang sebelumnya ikut terpuruk akibat pandemi.

“Kami juga menyasar wisata halal yang kini sangat berkembang di dunia. Kami akan sambut peluang besar ini di Banyuwangi. Bagaimana super big market wisata halal bisa kita ambil dan manfaatkan dengan UMKM,” imbuhnya.

Tak hanya itu, sambung Ipuk, pihaknya juga aktif menjalin kerja sama dengan GAPHURA (Gabungan Perusahaan Haji dan Umrah Nusantara), yang melihat potensi wisata dan ekonomi Banyuwangi.

“Mereka siap untuk mempromosikan Banyuwangi di Timur Tengah agar bisa lebih dikenal,” katanya.

Ia juga yakin, dunia fesyen muslim merupakan sektor industri yang bisa menyedot sumber ekonomi dengan cepat.

“Karena setiap orang butuh. Apalagi kaum wanita, tak cukup lebih dari satu model. Ini yang kami sebut sebagai market,” ujar Ipuk.

Dirinya bermimpi karya UMKM serta desainer Banyuwangi mendunia. Ipuk menyambut baik hasil kolaborasi Banyuwangi dengan Bank Indonesia (BI) Jatim dalam mendorong UMKM dan desainer Banyuwangi agar cepat naik kelas.(Jef)

MenKopUKM: Kerajinan Batu dan Kayu Fosil Tulungagung Sukses Dilirik Pasar Global

Tulungagung-(Globalnews.id)- Satu lagi produk kerajinan premium bernilai tinggi terdapat di Indonesia yaitu produk batu dan kayu fosil asal Tulungagung, Jawa Timur. UD Karya Indonesia, UKM penghasil kerajinan meja, wastafel, dan bathtub (bak mandi) dari batu dan kayu fosil ini telah memiliki buyer tingkat global.

Pada Jumat (22/10/2021), UD Karya Indonesia bahkan melepas ekspor produknya ke Hamburg, Jerman senilai Rp400 juta. Ekspor ini menjadi pembuktian bahwa UKM Indonesia tetap memiliki pasarnya sendiri di luar negeri.

Diakui Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, hasil produk buatan UD Karya Indonesia ini memang bernilai tinggi alias premium. Jadi wajar saja, produknya dilirik banyak buyer luar negeri.

“Ini sangat berbeda dan saya lihat sendiri memang kualitasnya internasional. Produk custom seperti ini bukan mass product, jadi memang sangat otentik. Saya harap Tulungagung bisa jadi sentra produksi kerajinan batu dan kayu fosil,” katanya saat mengunjungi workshop sekaligus ramah tamah dengan Pemilik UD Karya Indonesia Nanang Setiawan di Tulungagung, Jatim, Jumat (22/10/2021).

Ekspor ke Hamburg oleh UD Karya Indonesia, kata Teten, membuktikan bahwa meskipun pandemi membuat logistik terganggu dan biaya pengiriman kontainer mahal, minat pasar luar negeri tetap tinggi. Terutama permintaan produk home decor.

Untuk itu, sambungnya, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar usaha ritel semacam ini bisa dibantu sistem logistiknya.

“Konsolidasi bisa lebih mudah menembus pasar luar negeri,” ucap Teten.

Mengutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), MenKopUKM menyebut, nilai ekspor Indonesia September 2021 mencapai 20,60 miliar dolar AS (Rp291,7 triliun) naik sebesar 47,64 persen. Ekspor nonmigas September 2021 mencapai 19,67 miliar dolar AS (Rp278,5 triliun) tumbuh 48,03 persen dibanding ekspor nonmigas September 2020.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-September 2021 naik 35,40 persen dibanding periode yang sama tahun 2020. Demikian juga ekspor hasil pertanian naik 6,37 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 76,29 persen.

Berdasarkan provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–September 2021 berasal dari Jawa Barat dengan nilai 24,67 miliar atau setara Rp348,9 triliun (15,02 persen). Diikuti Jawa Timur 16,93 miliar dolar AS atau setara Rp239,4 triliun (10,31 persen) dan Kalimantan Timur 16,11 miliar dolar AS atau setara Rp227,8 triliun (9,80 persen).

“Jatim termasuk terbaik kedua ekspor setelah Jabar. Potensi ekspor Jatim ini bisa kita lihat sangat besar,” ujar MenKopUKM.

Pemilik UD Karya Indonesia Nanang Setiawan menuturkan, buyer produk-produknya datang dari Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Kanada, Belanda, dan Arab Saudi.

Bahkan sebelum pandemi Covid-19, bathtub buatannya dihargai 2 juta dolar AS atau setara Rp28,2 miliar. Pembelinya adalah Raja Arab Saudi.

Nanang yang mantan pegawai Telkom ini pun dipanggil langsung ke Arab Saudi untuk menceritakan proses pembuatannya. Sehingga bathtub buatannya tersebut meraih Guiness Book of Record sebagai produk termahal.

Nanang menceritakan, produk custom buatan UD Karya Indonesia yang paling banyak diminati adalah wastafel dan coffee table dari kayu fosil. Ketika pandemi Covid-19, ia hanya melakukan ekspor 1 kontainer ke AS. Tahun ini, ia baru mengirim 1 kontainer lagi ke Hamburg, Jerman sebanyak 1 kontainer senilai Rp400 juta.

“Karena kendala pandemi hanya bisa kirim 1 kontainer saja. Saya berharap, ke depan pemerintah bisa menstabilkan harga logistik dan kelangkaan kontainer,” harapnya. (Jef)

Tekan Impor, MenKopUKM Teten Masduki Luncurkan Cangkul Merah Putih Berlabel SNI

Tulungagung:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi kinerja Koperasi Produsen Angudi Logam Abadi, yang akhirnya sukses menghasilkan produk cangkul buatan dalam negeri dengan brand Cangkul Merah Putih. Cangkul tersebut telah mendapat sertifikasi layak mutu dari SNI.

“Saya bersyukur, Cangkul Merah Putih sekarang punya label SNI. Akhirnya kita mampu swasembada cangkul sendiri yang saat ini bahan bakunya di-support oleh BUMN, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan dukungan pembiayaan dari PT BRI (Persero) Tbk,” ucap Teten dalam launching produk SNI Cangkul Nasional Merah Putih sekaligus Pelepasan Ekspor Batu Fosil ke Hamburg, Jerman di Pendopo Bupati Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (22/10/2021).

Di kesempatan yang sama, MenKopUKM mengunjungi pabrik sekaligus tempat produksi cangkul Merah Putih di kawasan Tulungagung, Jawa Timur. MenKopUKM didampingi Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, Deputi Perkoperasian KemenKopUKM Ahmad Zabadi, Deputi Bidang UKM KemenKopUKM Hanung Harimba Rachman, dan Ketua Koperasi Angudi Logam Abadi Suharyono.

Teten mengatakan, di awal dirinya menjabat sebagai menteri, ramai impor cangkul menyeruak. Dirinya pun lantas diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mencari solusinya. Ketika itu bahan baku menjadi isu utamanya.

“Akhirnya kami menempuh jalan untuk memperkuat koperasinya terlebih dahulu, kemudian bermitra bersama BUMN untuk ketersediaan bahan baku,” jelas MenKopUKM.

Cangkul Merah Putih, sambungnya, merupakan program lokalisasi kolaborasi KemenKopUKM bersama Kementerian Perindustrian, LPDB-KUMKM, dan BUMN untuk menekan impor cangkul. Saat ini, kualitas cangkul Merah Putih telah terstandarisasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri nasional dan daerah.

Ia mengatakan, Cangkul Merah Putih fokus mengisi market dalam negeri, terutama terhadap kebutuhan alat-alat pertanian yang sebagian besarnya masih impor. Namun, ia tidak menutup kemungkinan cangkul ini bisa juga merambah pasar internasional.

Teten menegaskan, langkah selanjutnya yang kini perlu dilakukan adalah mengembangkan koperasi logam penghasil cangkul ini, agar bisa memproduksi alat pertanian lainnya. Dalam memperkuat koperasi industri logam ini, KemenKopUKM menekankan beberapa faktor.

Pertama, memastikan ekosistem cangkul ini cukup baik melalui supply logam dari Krakatau Steel dengan harga yang kompetitif. Kedua, akses pasar produk ini dengan cara diserap pemerintah, kementerian, dan lembaga sehingga koperasi bisa meningkatkan produknya dari sisi kualitas dan kuantitas.

“Akses pasar telah dibuka sebanyak 40 persen belanja pemerintah lewat LKPP, salah satunya alat-alat pertanian. Belanja UMKM pun sudah diatur dalam Undang-Undang Cipta Kerja. Program alokasi pengadaan barang dan jasa pemerintah dari UMKM saat ini mencapai Rp188,96 triliun atau sekitar 42,19 persen dari total target Rp447,2 triliun,” ucap Teten.

Ketiga, KemenKopUKM terus memperkuat akses pembiayaan lewat LPDB-KUMKM. Termasuk KUR dengan bunga yang sangat rendah dari perbankan dan disubsidi oleh pemerintah.

Selain di Tulungagung, koperasi sektor logam dengan produk cangkul juga fokus dikembangkan di Sukabumi, Klaten, dan Tegal.

“Saya optimis industri logam, terutama cangkul ini terus berkembang. Karena selama dua tahun ini, isu impor cangkul sudah tak ada lagi. Bahkan dari segi kualitas, saya sudah coba adu sendiri dengan produk impor, cangkul Merah Putih punya kita ini kuat,” yakin MenKopUKM

Di kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Angudi Logam Abadi Suharyono mengatakan, saat ini koperasinya mampu memproduksi 4.000 cangkul per bulan. Ia bersyukur, produk Cangkul Merah Putih kini mendapat sertifikat SNI.

“Ikhtiar ini agar kita mudah jika ingin menembus pasar ekspor dan berjejaring dalam rantai nilai global (global value chain),” imbuhnya.

Bupati Tulungagung Maryoto Birowo juga menyatakan dukungannya. Ia bilang, momentum ini sebagai bentuk keberpihakan pemerintah pusat dan daerah dalam rangka peningkatan daya saing UMKM di tingkat nasional dan global. Terutama di Tulungagung, kata dia, banyak produk-produk UMKM yang bisa dijadikan unggulan ekspor.

“UMKM di Tulungagung jadi penguat ekonomi di daerah dan mampu membuka lapangan kerja yang lebih baik,” tandasnya.(Jef)