Menu
Bank DKI Salurkan Beasiswa Pendidikan Dari Yayasan Beasiswa Jakarta - PETA JALAN EKONOMI KERTHI BALI: LANGKAH AWAL TRANSFORMASI EKONOMI INDONESIA - Menteri Teten Apresiasi 3 Startup Indonesia, Pemenang Event Korea – ASEAN Business Model Competition 2021 on Digital Economy for SDGs - Nasho Brand Lokal Siap Gandeng Investor Internasional pada Ajang IFF 2021 - Sinergi KemenKopUKM dan Perguruan Tinggi Ciptakan Enterpreneurship Melalui Inkubasi - Kukuhkan Diri Sebagai Bank Kampus: Kali ini BNI dukung IPB University Dorong Percepatan Campus Financial Ecosystem melalui Aplikasi IPB Cashless - Holding Perkebunan Nusantara Raih Penghargaan Sebagai "BUMN yang Mempekerjakan Penyandang Disabilitas" dari Kemenaker - MUI dan Kominfo Bahas Keamanan dan Kehalalan Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil dan Menyusui - Menteri Teten : Jangan Ragu Memulai Usaha, KUR Siap Mendukung - KemenKopUKM Tingkatkan Kolaborasi Lintas Pilar dalam The 2nd ASEAN Regional Workshop on Creative Economy (ARWCE)

Ekonom Prediksi Pertumbuhan Kredit 2017 Masih Konservatif

Desember 21, 2016 | ekbis

20161221_141436-1-1

JAKARTA (Globalnews.id)  Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada 2017 diprediksi sekitar 10 persen.

Pertumbuhan ini masih cenderung belum begitu baik karena pada kuartal I 2017 kondisi perekonomian masih akan banyak tantangannya, terutama pascaterpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Investasi pada semester I 2017 diprediksi masih wait and see terutama untuk investasi di sektor riil. Menurut David, minat investasi sebetulnya banyak namun investor cenderung menunggu karena berbagai pertimbangan. “Semester II 2017, investasi mungkin mulai tumbuh dan kita berharap banyak pada investasi langsung sehingga dapat menggerakkan perekonomian,” kata David, dalam Media Sharing Session di menara BCA, Rabu (21/12).

Ia melanjutkan, pada kuartal pertama tahun depan diperkirakan perekonomian masih belum bergerak. Namun, setelah Trump mulai memperlihatkan apakah akan merealisasikan janji kampanyenya atau tidak barulah perekonomian akan terpengaruh.

Jika kebijakan Trump direalisasikan, maka ekspektasi inflasi akan mengalami kenaikan. Kalau tidak, perekonomian Indonesia akan terkoreksi. Walaupun demikian, hal ini masih aman bagi Indonesia karena likuiditas pada tahun ini jauh lebih baik dibandingkan 2015.

Di sisi lain, menurutnya likuiditas perbankan memang akan menurun. Alasannya adalah program tax amnesty yang menyita dana tebusan hingga Rp100 triliun. “Itu sama saja pemerintah menyerap likuiditas yang ada di perbankan sebesar Rp100 triliun,” katanya.

Berita baiknya, ia memperkirakan seharusnya S&P menaikkan rating Indonesia pada bulan April 2017 menjadi investment grade atau layak investasi. Kenaikan rating ini seharusnya sudah terjadi pada tahun ini. Namun, lembaga pemeringkat internasional itu urung melakukan upgrade rating karena kredit macet (non-performing loan/NPL) perbankan Indonesia dianggap masih tinggi.

Konsumsi masyarakat menurutnya akan tumbuh 5,1 persen pada 2017. Namun investasi masih akan wait and see menunggu periode tax amnesty ketiga berakhir pada kuartal pertama tahun depan. Investasi, menurutnya, baru akan masuk pada kuartal kedua 2017.

Senada dengan investasi, pertumbuhan ekonomi juga baru akan melaju pada kuartal kedua 2017. David mengatakan lebih optimis memandang perekonomian tahun 2017 dan memperkirakan ekonomi akan tumbuh 5,2-5,3 persen.

Bank sentral AS The Fed, menurutnya akan menaikkan suku bunga paling banyak dua kali pada 2017. Kenaikan pertama diperkirakan akan terjadi pada kuartal kedua sedangkan kenaikan kedua akan terjadi di akhir tahun 2017. (jef)

 

Related For Ekonom Prediksi Pertumbuhan Kredit 2017 Masih Konservatif