Menu
Bank DKI Salurkan Beasiswa Pendidikan Dari Yayasan Beasiswa Jakarta - PETA JALAN EKONOMI KERTHI BALI: LANGKAH AWAL TRANSFORMASI EKONOMI INDONESIA - Menteri Teten Apresiasi 3 Startup Indonesia, Pemenang Event Korea – ASEAN Business Model Competition 2021 on Digital Economy for SDGs - Nasho Brand Lokal Siap Gandeng Investor Internasional pada Ajang IFF 2021 - Sinergi KemenKopUKM dan Perguruan Tinggi Ciptakan Enterpreneurship Melalui Inkubasi - Kukuhkan Diri Sebagai Bank Kampus: Kali ini BNI dukung IPB University Dorong Percepatan Campus Financial Ecosystem melalui Aplikasi IPB Cashless - Holding Perkebunan Nusantara Raih Penghargaan Sebagai "BUMN yang Mempekerjakan Penyandang Disabilitas" dari Kemenaker - MUI dan Kominfo Bahas Keamanan dan Kehalalan Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil dan Menyusui - Menteri Teten : Jangan Ragu Memulai Usaha, KUR Siap Mendukung - KemenKopUKM Tingkatkan Kolaborasi Lintas Pilar dalam The 2nd ASEAN Regional Workshop on Creative Economy (ARWCE)

Rasio Kewirausahaan Diharapkan Jadi 4 Persen di Akhir 2017

September 28, 2017 | koperasi dan ukm

BANDUNG:(Globalnews.id)- Sekretaris  Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Agus Muharram berharap rasio wirausaha di Indonesia bisa bertambah menjadi 4 persen pada akhir 2017. Hal itu disampaikan Agus pada Grand Launching of Binus  Bandung, Jabar, Rabu (27/9/2017).

Berdasarkan data sensus ekonomi BPS tahun 2016 saat ini jumlah wirausaha sebanyak 7,8 juta jiwa atau sebesar 3,1 persen dari jumlah penduduk. Rasio ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen, maupun AS 12 persen. “Tahun ini rasio  wirausaha kita kalau bisa bertambah menjadi 4 persen,” ujar Agus.

Untuk itu, Agus meminta perguruan tinggi ikut berperan membantu pemerintah dalam menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan khususnya di kalangan generasi muda. Dengan semakin banyaknya perguruan tinggi berperan, ke depan generasi muda Indonesia akan semakin mandiri.

“Jadi minimal ke depan lulusannya, bisa menolong dirinya sendiri, dan tidak membebani orangtua dan negara. Itu yang paling penting. Mampu membuka dan menciptakan peluang usaha kepada orang lain,” kata Agus.

Agus Muharram, mengingatkan supaya perguruan tinggi jangan hanya bergerombol mengambil program studi  konvensional saja, namun harus jeli juga melihat tantangan jaman, agar mahasiswanya tidak terkungkung pada lapangan pekerjaan yang sifatnya formal. Dalam hal ini sebagai “Karyawan dan PNS,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Koordinator Kopertis Wilayah IV Jabar, Prof. DR. Uman Suherman,  berharap dosen jangan hanya mengajar, tetapi juga harus bisa menyiapkan karakter bangsa yang memiliki keyakinan dan kepercayaan diri.

“Memiliki ilmu dan keterampilan. Paling tidak bukan hanya bersaing, tetapi memenangkan dalam setiap persaingan. Hingga mahasiswa itu tidak hanya jadi penonton tetapi jadi pemain. Agar setelah menjadi alumni bukan jadi peminta tetapi jadi penderma,” kata Uman. Agar mahasiswa bisa berdiri sendiri, jelas Usman Suherman, mahasiswa dengan bantuan dosennya harus berdikari agar bisa memenuhi kekuatan otonomi dan kekuatan ekonominya.

“Bukan hanya memiliki daya saing, tetapi mahasiswa juga harus memiliki nilai ekonomi. Ekonomi kreatif ini kan dibangun seperti itu,” tutupnya. Hadir dalam kegiatan ini antara lain, Direktur Pengembangan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ridwan, Koordinator Kopertis Wilayah IV Usman Suherman, Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Ketua Yayasan Binus Bernard Gunawan dan Rektor Binus Bandung Andreas Chang. (jef)

Related For Rasio Kewirausahaan Diharapkan Jadi 4 Persen di Akhir 2017