Arsip Tag: LPDB KUMKM

Inkubasi Koperasi Menggerakan Ekonomi Pondok Pesantren

Yogyakarta:(Globalnews id)-Inkubasi Koperasi yang dilakukan oleh inkubator mitra LPDB-KUMKM yakni Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq melalui Alif learning center (ALEC) selama tahun 2022, berhasil menginkubasi koperasi-koperasi pondok pesantren di wilayah Yogyakarta dan Solo.

Pola close loop inkubasi yang diterapkan oleh ALEC berhasil mewujudkan panen raya melon inthanon dengan kualitas tinggi dan kepastian masuk ke dalam pasar modern dengan harga tinggi.

Inkubasi yang dilakukan ALEC sepanjang tahun 2022 berhasil menciptakan nilai ekonomi baru bagi pondok pesantren. Sehingga peran sentral pondok pesantren sebagai penggerak ekonomi umat makin dirasakan manfaatnya. Salah satunya untuk memupuk jiwa entrepreneur di kalangan santri millenial untuk terjun memperkuat sektor pertanian modern.

Presiden Direktur ALEC, Irvan Sadikin menjelaskan, program inkubasi dari ALEC terus diperkuat, dan akan meng-influence pondok pesantren lainnya, seiring dengan ikut sertanya ALEC dalam Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM Tahun 2022.

Perkuatan itu dilakukan dengan menggandeng mitra strategis seperti Progamma Uitzending Manajer (PUM) Netherlands Senior Experts dan Japan International Cooperation Agency (JICA), serta Bank Indoensia guna menghadirkan materi pelatihan maupun praktikum yang bermanfaat bagi kemandirian ekonomi pesantren.

Irvan menjelaskan, saat ini ALEC tengah melakukan inkubasi budi daya buah melon kepada para tenant yang merupakan pondok pesantren dari anggota Himpunan Bisnis Pesantren (Hebitren) yakni Pondok Pesantren Assalafiyyah, Sleman, Darul Qur’an Wal Irsyad, Gunungkidul, Kyai Ageng Selo, Klaten, dan Darul Qur’an, Sragen.

Kopontren tersebut merupakan empat dari 25 pondok pesantren yang tergabung dalam Batch I program inkubasi ALEC tahun 2022 yang berasal dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung.

Adapun, inkubasi yang ALEC lakukan terbagi dalam beberapa tahapan yakni pertama budi daya, kemudian pasca panen, selanjutnya penanganan pasca panen dan pemasaran baik secara teori maupun praktik di lapangan dengan model inkubasi close loop.

Harapannya, dengan model inkubasi close loop yakni pelatihan secara menyeluruh dari aspek hulu ke hilir sektor pertanian saling keterkaitan, maka akan memberikan kemandirian ekonomi bisnis pesantren melalui pertanian modern.

“Kunci pengembangan bisnis adalah sumber daya manusia yang unggul, dengan ini kami lakukan inkubasi dan permagangan selama 14 hari terkait budi daya yang baik dan benar,” kata Irvan.

Hadirkan Dampak Ekonomi

Sementara itu, salah satu wujud nyata dalam pengembangan kemandirian ekonomi bisnis pesantren melakui inkubator wirausaha adalah keberhasilan Pondok Pesantren Kyai Ageng Selo, Klaten melakukan panen buah melon inthanon yang merupakan hasil inkubasi dari ALEC.

“Hasil panennya dengan 1.000 pohon itu sekitar 70-80 persen dengan luas lahan 500 meter persegi yang digunakan untuk green house program dari Bank Indonesia, hasil panen ini langsung dikirim ke Kopontren Al-Ittifaq,” ujar Mohamad Mahfud perwakilan dari Pondok Pesantren Kyai Ageng Selo.

Mahfud mengungkapkan, pihaknya sangat tertarik dengan program inkubasi yang dilakukan oleh ALEC untuk komoditas buah melon, selain memberikan manfaat berupa pengetahuan, manfaat lainnya adalah memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi pesantren.

“Alhamdulillah programnya itu untuk kemandirian pesantren dengan program itu bisa menunjang operasional pesantren, membantu untuk bayar listrik, operasional harian, konsumsi santri, sekolah, dan biaya ajar mengajar itu banyak sekali manfaatnya. Harapannya dengan yang kita dapat ini terus berlanjut,” kata Mahfud.

Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo mengatakan, LPDB-KUMKM akan fokus melakukan inkubasi kepada koperasi sektor riil khususnya di sektor pangan guna memodernisasi dan mengagregasi korporatisasi petani, agar pertanian semakin efisien dan berkontribusi pada perekonomian nasional.

Menurutnya, selain pembiayaan, program inkubasi kepada koperasi juga sangat diperlukan, agar pembiayaan dana bergulir bisa tepat sasaran, sesuai dengan prinsip LPDB-KUMKM yakni Tri Sukses, sukses penyaluran, sukses pemanfaatan, dan sukses pengembalian.

“Diharapkan dengan program inkubator ini, akan semakin banyak koperasi yang mengakses dana bergulir, dan semakin meningkatkan kontribusi koperasi maupun UMKM terhadap perekonomian nasional,” ujar Supomo.

Senada dengan Supomo, Direktur Umum dan Hukum LPDB-KUMKM Oetje Koesoema Prasetia menambahkan, Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM akan terus berjalan dan makin diperkuat.

“Kami bisa meyakinkan Tri Sukses berjalan dengan baik salah satunya melalui program inkubator, karena tahapan akhirnya adalah pembiayaan, dengan inkubator kami dari awal sudah dapat mendampingi dan melakukan penilaian terhadap tenant itu sendiri,” ujar Oetje.

Menurutnya, dengan pembiayaan yang murah, mudah, dan ramah dari LPDB-KUMKM, maka harus dipastikan dana bergulir yang disalurkan untuk pemanfaatan yang memberikan dampak ekonomi dan juga koperasi.

“Pembiayaan di LPDB-KUMKM itu rate-nya cukup kompetitif dan murah sekali, kami menginginkan program ini tepat sasaran, koperasi boleh mengakses pembiayaan yang rate-nya kompetitif, tetapi mereka juga harus masuk kriteria yang layak kami biayai,” kata Oetje.

Adapun, pada tahun 2022 ini Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM menyasar 150 tenant inkubasi dengan pelaksanaan inkubasi selama enam bulan, dengan target akselerasi 200 tenant Koperasi dan startup, serta lima koperasi mengakses dana bergulir dari LPDB-KUMKM.(Jef)

Banyak Koperasi Potensial, LPDB-KUMKM Siap Tingkatkan Penyaluran Dana Bergulir di Kalimantan Barat

Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) siap meningkatkan penyaluran dana bergulir di Provinsi Kalimantan Barat.

Peningkatan penyaluran dana bergulir di Kalimantan Barat dalam rangka memberikan dukungan dari sisi pembiayaan atau permodalan kepada koperasi-koperasi di Kalimantan Barat untuk meningkatkan kapasitas usaha dalam melayani dan menyejahterakan anggotanya.

Salah satu langkah LPDB-KUMKM adalah dengan melakukan upaya jemput bola, yakni berkunjung langsung ke koperasi potensial di Kalimantan Barat.

Seperti yang dilakukan LPDB-KUMKM beberapa hari yang lalu dengan berkunjung ke salah satu Koperasi Simpan Pinjam (KSP) terbesar di Kalimantan Barat yakni KSP Credit Union (CU) Keling Kumang di Kabupaten Sintang. Kabupaten Sintang merupakan kabupaten yang dilewati oleh garis khatulistiwa dan terletak di sebelah timur provinsi Kalimantan Barat, dengan luas wilayah terbesar ketiga di Provinsi Kalimantan Barat setelah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu.

Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo mengatakan, KSP CU Keling Kumang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Kalimantan Barat, karena memiliki layanan usaha koperasi yang dekat dengan masyarakat dan telah memiliki 67 kantor cabang.

“Ini upaya kami LPDB-KUMKM sebagai entry point, untuk meningkatkan penyaluran dana bergulir di Provinsi Kalimantan Barat,” kata Supomo.

Supomo menambahkan, jika ke depan KSP CU Keling Kumang maupun anak usaha hasil spin-off Koperasi CU Keling Kumang bisa menjadi mitra LPDB-KUMKM, maka akan menjadikan contoh bagi koperasi-koperasi lain untuk bermitra dengan LPDB-KUMKM.

“Kami ini lembaga pemerintah, siapapun boleh bermitra dengan LPDB-KUMKM selama sesuai dengan aturan dan persyaratan yang berlaku. Kami tidak pandang suku, agama maupun ras, selagi bermanfaat bagi masyarakat ayo kita berkolaborasi,” kata Supomo.

Selain itu, lanjut Supomo, karakteristik dari sebagian koperasi-koperasi di daerah yang belum menjadi mitra LPDB-KUMKM adalah cenderung melihat hasil atau contoh yang sudah berhasil di wilayahnya dalam memanfaatkan dana bergulir dari LPDB-KUMKM.

“Banyak koperasi ini menunggu contoh yang sudah berhasil jika menggunakan dana bergulir, dan kami memang sebagai lembaga negara terus berupaya melayani koperasi dan meyakinkan publik dengan melakukan transformasi layanan yang semakin baik, transparan dan akuntabel,” kata Supomo.

Selama ini, Supomo mengakui portofolio penyaluran dana bergulir LPDB-KUMKM masih belum maksimal, dengan demikian dilakukan upaya jemput bola kepada koperasi-koperasi potensial di Kalimantan Barat. Sebab saat ini sudah banyak Koperasi Simpan Pinjam atau Credit Union yang memiliki kinerja yang cukup baik di Kalimantan Barat.

“Ini menjadi entry poin bagi LPDB-KUMKM untuk wilayah Kalimantan Barat, dan memang portofolio LPDB-KUMKM di Kalimantan Barat belum maksimal, sehingga mudah-mudahan dengan entry point kita di KSP CU Keling Kumang ini bisa menular ke koperasi-koperasi lainnya,” papar Supomo.

Selain siap meningkatkan penyaluran dana bergulir di Kalimantan Barat, LPDB-KUMKM juga siap berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan sosialisasi, maupun bimbingan teknis terkait proses pengajuan proposal pembiayaan maupun mekanisme penyaluran dana bergulir kepada koperasi-koperasi potensial di Kalimantan Barat.

“Akan sangat baik dan menguntungkan bagi koperasi untuk memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari pemerintah, karena cepat, mudah, dan murah,” tambah Supomo.

Tercatat, berdasarkan data LPDB-KUMKM penyaluran pinjaman atau pembiayaan Provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008 sampai dengan 2022, per 20 Mei 2022 mencapai Rp90,51 miliar, dengan rincian penyaluran melalui pola konvensional sebesar Rp85,16 miliar dan melalui pola syariah sebesar Rp5,35 miliar.

Sedangkan untuk total penyaluran dana bergulir seluruh provinsi sejak awal penyaluran di tahun 2008 sampai dengan 2022 mencapai Rp14,52 miliar, dengan total penyaluran khusus di tahun 2022 sebesar Rp555,03 miliar.

Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan KSP CU Keling Kumang Stefanus Masiun menyambut baik upaya jemput bola yang dilakukan oleh LPDB-KUMKM untuk memberikan dukungan pembiayaan kepada KSP CU Keling Kumang.

“Saya berharap ini adalah babak baru, yang memungkinkan gerakan CU Keling Kumang makin tumbuh dan semakin cepat berkembangnya karena mendapatkan dukungan dari pemerintah melalui dana bergulir LPDB-KUMKM. Kalau untuk pengembangan KSP CU Keling Kumang sudah aman, tetapi untuk anak-anak usahanya atau spin-offnya itu kami membutuhkan dukungan dana untuk pengembangannya, juga ada beberapa rencana pengembangan yang membutuhkan dananya besar,” ungkap Stefanus.

Stefanus berharap, pihaknya dapat memanfaatkan fasilitas pembiayaan untuk koperasi yang telah disediakan pemerintah.

“Kami melihat ada kemungkinan yang sangat besar untuk kami bisa memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang disediakan oleh LPDB-KUMKM. Harapannya, anggota kami semakin bertambah dan asset pun bertambah, sehingga harapannya koperasi dapat berkembang lebih baik lagi. Ke depan, akan dipantau lagi kebutuhan bisnisnya dan ruang pengembangannya untuk dapat scale up bisnis dari koperasi,” pungkas Stefanus.(Jef)

LPDB-KUMKM Siap Perkuat Ekosistem Bisnis KSP CU Keling Kumang

Sintang:(Globalnews.id)- Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) siap memperkuat ekosistem bisnis dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Credit Union (CU) Keling Kumang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Adapun perkuatan ekosistem bisnis KSP CU Keling Kumang ini akan dilakukan oleh LPDB-KUMKM melalui anak usaha KSP Keling Kumang yang bergerak di sektor riil yakni Koperasi Konsumen Keling Kumang Union yang merupakan hasil pemecahan entitas usaha baru (spin-off) dari KSP CU Keling Kumang.

Untuk memastikan ekosistem bisnis dari anak usaha KSP CU Keling Kumang berjalan dengan baik, Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo bersama Direktur Bisnis LPDB-KUMKM Krisdianto, serta Kepala Divisi Bisnis III LPDB-KUMKM Arief Hartanto melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pusat KSP CU Keling Kumang.

Kemudian, rangkaian kunjungan dilanjutkan dengan meninjau 3 (tiga) anak perusahaan KSP CU Keling Kumang, yakni Koperasi Konsumen Keling Kumang Union, Koperasi Jasa Ladja Tampun Juah, dan Koperasi Produsen Keling Kumang Agro. Ketiga koperasi tersebut tersebar di wilayah Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.

Dalam kegiatan tersebut, Supomo mengatakan bahwa kunjungan ke KSP CU Keling Kumang ini merupakan rangkaian lanjutan dan upaya tindak lanjut dari kunjungan kerja Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki beberapa waktu lalu ke Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Menurutnya, LPDB-KUMKM sebagai kepanjangan tangan pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan kepada koperasi-koperasi di seluruh Indonesia, termasuk berkunjung ke koperasi-koperasi potensial yang belum menjadi mitra LPDB-KUMKM seperti KSP CU Keling Kumang.

“Kami sengaja datang kesini bersama Tim Bisnis LPDB-KUMKM untuk melihat secara langsung kondisi lapangan. Dengan begitu, kami dapat mengetahui apa yang bisa kami follow up dari KSP CU Keling Kumang ini,” kata Supomo di Kantor KSP CU Keling Kumang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Rabu (18/5/2022).

Sebagai salah satu KSP terbesar di Provinsi Kalimantan Barat, Supomo mengakui bahwa dari sisi kinerja KSP CU Keling Kumang sudah berjalan dengan baik. Selain itu, dari sisi citra atau image, koperasi ini juga telah dikenal baik oleh masyarakat di Kalimantan Barat.

“Setelah kami keliling, KSP CU Keling Kumang ini bagus, baik sisi image maupun kinerja. Kami juga telah mengkonfirmasi ke beberapa instansi disini, memang koperasi ini tercatat memiliki image yang baik, sehingga Tim LPDB-KUMKM datang untuk menganalisa seluruh unit usahanya dan mendapatkan hasil positif (baik),” kata Supomo.

Setelah melakukan kunjungan lapangan, LPDB-KUMKM melalui Direktorat Bisnis akan melakukan verifikasi maupun analisa bisnis terhadap dokumen-dokumen maupun legalitas dari anak usaha KSP CU Keling Kumang.

“Kunjungan lapangan sudah dilakukan, maka dilanjut dengan pengecekan dokumen-dokumen yang diperlukan serta legalitasnya. Saya kira ini adalah prospek yang baik untuk bisnis LPDB-KUMKM dan KSP CU Keling Kumang untuk maju bersama,” lanjut Supomo.

Dalam pertemuan tersebut, Supomo menegaskan bahwa LPDB-KUMKM siap mendukung pengembangan bisnis sektor riil daripada anak usaha KSP CU Keling Kumang untuk tumbuh dan berkembang dalam memajukan perekonomian masyarakat.

“Untuk sektor simpan pinjam tidak kami support dulu untuk saat ini, namun untuk sektor riil-nya mudah-mudahan bisa kami dukung dari segi perkuatan permodalan,” kata Supomo.

Hal ini dilatarbelakangi, salah satu spin-off KSP CU Keling Kumang yakni Koperasi Konsumen Keling Kumang Union bergerak dalam bisnis sektor riil yakni penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan) dari petani kelapa sawit, pembibitan, hingga pusat Demontration Plot (Demplot) yang merupakan metode penyuluhan pertanian yang ditujukan kepada petani.

“Itu semua perlu didukung dari sisi pembiayaan, oleh sebab itu LPDB-KUMKM hadir untuk mensupport. Koperasi membutuhkan modal kerja yang tidak sedikit untuk perputaran bisnisnya, dan kami bisa memperkuat ekosistem bisnis yang sudah terbentuk,” jelas Supomo.

Sebagai informasi, sejak Maret 2021, Keling Kumang Group (KKG) bertransformasi menjadi Gerakan Credit Union Keling Kumang dengan menjadikan KSP CU Keling Kumang menjadi induk dari semua Gerakan termasuk spin-off (pemecahan entitas usaha baru) KSP CU Keling Kumang.(Jef)

Kolaborasi dengan PUM Belanda, Inkubator ALEC Perkuat Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM

Jakarta:(Globalnews.id)- Program Inkubator Wirausaha Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) terus diperkuat dengan kerja sama antar pihak yakni antara Inkubator Alif Learning Center (ALEC) dengan Progamma Uitzending Manajer (PUM) Netherlands Senior Experts.

PUM Netherlands Senior Experts merupakan salah satu lembaga non pemerintah dari Belanda yang konsen terhadap pengembangan UMKM dan kewirausahaan di berbagai negara termasuk Indonesia.

Direktur Utama LPDB-KUMKM, Supomo menyambut baik kerja sama yang dilakukan oleh ALEC sebagai salah satu inkubator yang tergabung dalam Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM Tahun 2022 yang juga merupakan Inkubator Wirausaha dari mitra LPDB-KUMKM yakni Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al-Ittifaq.

Menurut Supomo, perkembangan model bisnis agrikultur daripada Kopontren Al-Ittifaq sudah sangat baik dan menjadi role model atau contoh pengembangan bisnis pondok pesantren dengan prinsip syariah dengan badan hukum koperasi di Indoesia.

“Inilah pengembangan model bisnis yang berkesinambungan antara aspek hulu hingga hilir, fungsi ekonomi dari pada koperasi menjadi optimal, dan fungsi pembinaan dijalankan melalui lembaga inkubator. Bahkan hal ini dijadikan contoh bagi pertanian di Indonesia, yaitu korporatisasi pertanian dan holding melalui pesantren,” ujar Supomo di Jakarta.

Selain itu, dengan tergabung Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM, maka Inkubator Alif Learning Center bisa terus berkembang, dan melakukan inkubasi kepada koperasi-koperasi maupun tenant-tenant untuk meningkatkan kapasitas bisnis atau usahanya dan diharapkan kedepan bisa mengakses pembiayaan dana bergulir dari LPDB-KUMKM.

“Sektor pertanian bukan seperti kue yang bisa langsung dicetak dan terlihat hasilnya, melainkan harus matang disiapkan dari sisi SDM yakni petani, juga dari sisi komoditi dan teknologi budidayanya dan sidang sangat tepat bekerja sama dengan PUM Belanda, dan ini semakin memperkuat program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM,” kata Supomo.

Terkait peningkatan kapasitas bisnis dari Kopontren Al-Ittifaq ke depan, lebih lanjut Supomo menjelaskan, LPDB-KUMKM akan selalu hadir mendampingi dari sisi bisnis dan kelembagaan koperasi sehingga dibentuklah Alif Learning Center (ALEC), sehingga akses pasar bukan hanya disupport dari sisi Ittifaq sendiri, namun juga dari pesantren-pesantren lain agar kemitraan dapat berkembang.

“Yang perlu kita lembagakan di antaranya cara bercocok tanam dan cara budi dayanya agar sama dan seragam dapat diserap oleh market,” jelas Supomo.

Selain dukungan kelembagaan, LPDB-KUMKM juga melakukan bimbingan teknis (bimtek) secara langsung, baik pendampingan secara administratif, maupun pendampingan dari sisi bisnis.

*Kerja Sama Strategis*

Sementara itu, Irvan Sadikin, Chief Financial Officer (CFO) Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Al Ittifaq mengatakan, kerja sama dengan PUM Belanda sudah terjalin erat sejak tahun 2017 lalu antara Kopontren Al-Ittifaq dengan PUM Belanda.

“Kemudian di tahun 2019 kami juga berkunjung langsung ke belanda untuk melihat dan belajar bagaimana pengelolaan bisnis proses sektor pertanian dari hulu ke hilir terkait . Dan tahun 2020 Al-Ittifaq membentuk Alif Learning Center (ALEC) dan kerja sama itu berlanjut hingga melakukan remote coaching atau pelatihan jarak jauh terhadap para tenant inkubator Alec mulai dari semangat kewirausahaan, manajemen prngembangan bisnis, hingga teknik budidaya pertanian dengan total 16 pertemuan dengan para ahli dari PUM Belanda dan Alif Learning Center,” ungkap Irvan.

Kemudian, pada 2022 ini dengan tergabungnya Inkubator ALEC ke dalam Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM semakin memperkokoh kerja sama tersebut dalam hal pendampingan dan transfer knowledge.

“Dengan PUM Belanda, dan juga LPDB-KUMKM, serta Bank Indonesia, kerja sama ini ditargetkan para pondok pesantren mitra dari Kopontren Al-Ittifaq mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang lengkap dari para ahli. Goalsnya dari kerja sama ini adalah memberikan pelatihan dan pendampingan secraa lengkap termasuk perdagangan agar para tenant inkubator ALEC dan juga mitra Kopontren Al-Ittifaq bisa meningkatkan kapasitas bisnisnya dan menjadikan kemandirian ekonomi pesantren menjadi terwujud,” papar Irvan.

Irvan berharap, kedepan kemdirian ekonomi pesantren bisa terwujud dan membuktikan diri bahwa ekonomi pondok pesantren juga bisa berkembang dengan pesat dengan sentuhan teknologi terkini, dan manajemen bisnis yang baik dan optimal.

“Harapannya kedepan bagaimana kedepan pesantren bisa berkembang secara bisnis dan juga berkembang dari sisi pengetahuan dengan teknologi terkini, dan juga berkesinambungan,” ujar Irvan.

*Kunjungan Bisnis*

Kemudian, pada pertengahan Tahun 2022, Kopontren Al-Ittifaq, bersama Inkubator ALEC, LPDB-KUMKM, dan juga Bank Indonesia akan melakukan lawatan bisnis ke Belanda.

Lawatan ke negara kincir angin tersebut untuk melakukan bussiness deals antara Kopontren Al-Ittifaq dengan perusahaan pembibitan terbesar di dunia, dan juga mengaktifkan kegiatan vokasi yakni pembelajaran di Belanda.

“Vokasi ini untuk memperdalam secara lengkap dan menyeluruh terkait manajemen bisnis dan budidaya pertanian. Jadi kunjungan bisnis dan transfer knowledge ini untuk memperdalam pengembangan bisnis pertanian dari hulu hingga hilir,” jelas Irvan.(Jef)

Gelar Silahturahmi Idulfitri 1443 H, Dirut LPDB-KUMKM Pesankan Jaga Sinergitas dan Etos Bekerja

Jakarta:(Globalnews.id)- Memasuki hari perdana aktif bekerja setelah libur hari raya Idulfitri 1443 Hijriah, Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menggelar acara silahturahmi yang dihadiri oleh seluruh pegawai di LPDB-KUMKM Jakarta, Senin (9/5/2022).

Kegiatan ini diselenggarakan setelah seluruh pegawai dan para tenaga alih daya (outsourcing) di lingkup LPDB-KUMKM melaksanakan rapid test antigen yang dilakukan oleh tim dokter dan tenaga medis dari Klinik Pratama LPDB-KUMKM.

Dalam acara silahturahmi tersebut, Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo menyampaikan bahwa kegiatan tahunan ini merupakan momen yang sangat tepat dalam rangka meningkatkan sinergitas, integritas, dan kekompakan antar pegawai di lingkup LPDB-KUMKM.

“Allah telah memberi kesempatan bagi kita untuk menjalani, merenungkan, dan memaknai sikap dan perbuatan kita melalui ibadah di bulan Ramadan. Kita juga diberi kesempatan untuk mensyukuri berkah di hari kemenangan Idulfitri, kendati sampai saat ini pandemi Covid-19 masih hadir di tengah-tengah kita,” ujar Supomo.

Supomo mengatakan, pemerintah terus mendorong sektor-sektor perekonomian khususnya UMKM di Indonesia agar kian pulih dan membaik. Indikator-indikator perbaikan dan pertumbuhan ekonomi juga semakin terlihat dari tingginya antusias masyarakat untuk merayakan hari raya di kampung halaman, sehingga secara tidak langsung hal tersebut menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi baik di daerah maupun nasional.

“Pemerintah menetapkan libur nasional pada hari raya Idulfitri 1443 Hijriah dan cuti bersama, termasuk tambahan libur akhir pekan berjumlah 10 hari. Oleh sebab itu, di hari pertama bekerja pada hari ini menjadi momen yang sangat baik untuk meningkatkan kinerja bagi seluruh pegawai sebagai bentuk kontribusi bagi pemulihan ekonomi nasional. Khususnya saat ini, pemerintah gencar melaksanakan berbagai program dan stimulus kebijakan, serta regulasi yang tentunya harus kita dukung penuh,” lanjut Supomo.

LPDB-KUMKM sebagai satuan kerja Kementerian Koperasi dan UKM memegang peranan penting bagi para pelaku koperasi dan UMKM di seluruh Indonesia, khususnya dalam rangka memberikan perkuatan permodalan bagi koperasi.

Lebih lanjut Supomo menyampaikan, koperasi dan UMKM sebagai sokoguru perekonomian nasional diharapkan mampu bergerak dan pulih bersama seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kehadiran dan kerja nyata LPDB-KUMKM sebagai lembaga pembiayaan kepada koperasi sangat dibutuhkan khususnya di masa transisi ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Supomo berharap, mampu menjalankan amanah dimana LPDB-KUMKM semakin diperhitungkan dengan program-programnya, khususnya program pemberdayaan ekonomi pesantren. Mengingat ke depan banyak tantangan-tantangan yang harus dihadapi LPDB-KUMKM, Supomo mengimbau untuk seluruh jajaran, baik level direksi hingga staf untuk tetap fokus terhadap target penyaluran. Oleh sebab itu, dibutuhkan sinergi, kekompakan, dan integritas dari seluruh pegawai LPDB-KUMKM untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Mengakhiri acara silahturahmi, Supomo memohon maaf kepada seluruh pegawai LPDB-KUMKM dan berpesan untuk terus menerapkan protokol kesehatan di lingkungan kerja.

“Tingkatkan terus semangat dan etos bekerja sehingga kita mampu memberikan kinerja terbaik kepada LPDB-KUMKM khususnya dalam upaya mencapai target yang ditetapkan, juga sebagai bentuk kontribusi dalam upaya meningkatkan perekonomian nasional,” tutup Supomo.(Jef)

Kehadiran LPDB-KUMKM Nyata Manfaatnya Bagi Koperasi dan UMKM

Jakarta:(Globalnews.id)–Penyaluran dana bergulir dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) melalui koperasi merupakan salah satu upaya dalam menjangkau permodalan UMKM di seluruh Indonesia, sehingga melalui koperasi yang telah diberi permodalan tersebut pada akhirnya dapat menjangkau UMKM diseluruh  daerah.

Pada tahun 2022 LPDB-KUMKM menyasar koperasi-koperasi sektor riil di daerah, khususnya wilayah yang masih rendah penyaluran dan terutama koperasi-koperasi baru yang belum merasakan manfaat bermitra dengan LPDB-KUMKM. Salah satu caranya adalah dengan gencar mencari mitra baru. Selain memberikan dukungan permodalan, LPDB-KUMKM juga akan mengoptimalisasi program inkubator wirausaha.

Strategi ini merupakan upaya menjaring mitra-mitra baru, khususnya pelaku UMKM yang nantinya akan diinkubasi untuk bergabung dalam wadah koperasi, sehingga kedepan seluruh koperasi di Indonesia dapat merasakan manfaat dari pembiayaan LPDB-KUMKM, ungkap Dirut LPDB-KUMKM, Supomo, dalam keterangan tertulisnya (24/4).

Menurut Supomo, LPDB-KUMKM bermitra dengan koperasi-koperasi di seluruh Indonesia termasuk Koperasi Produsen Osseda Faolala di Kota Gunungsitoli, Kepualauan Nias, Sumatera Utara.

“Harapannya adalah dana bergulir dapat sukses disalurkan, sukses dimanfaatkan, dan sukses dikembalikan, sesuai dengan prinsip Tri Sukses LPDB-KUMKM,” ujar Supomo.

Selain itu, Supomo juga mengatakan bahwa LPDB-KUMKM mengedepankan prinsip pelayanan termasuk pendampingan kepada koperasi agar bisa dan mampu mengajukan proposal pembiayaan kepada LPDB-KUMKM. Ia berharap koperasi-koperasi  yang memiliki potensi besar dapat meningkatkan tata kelola kelembagaan dan manajemen bisnisnya khususnya sebagai wadah pengembangan ekonomi melalui pelaku UMKM.

Diketahui salah satu mitra dari LPDB-KUMKM yang berada diwilayah minim penyaluran adalah Koperasi Konsumen Osseda Faolala yang memiliki usaha pengembangan produk Virgin Coconut Oil (VCO) atau yang lebih dikenal dengan nama Osse-Co, training centre dan usaha simpan pinjam. Koperasi Konsumen Osseda Faolala merupakan koperasi pertama di Pulau Nias yang menjadi mitra LPDB-KUMKM.

Menurut pengakuan Amani Lahagu, General Manager di Koperasi Konsumen Osseda Faolala, koperasinya telah merasakan manfaat nyata atas kehadiran LPDB-KUMKM.

“Sejak bulan Juni tahun 2021, kami sudah menjadi mitra LPDB-KUMKM dengan jumlah modal pinjaman sebesar Rp5 milyar dan dalam jangka waktu pengembalian selama 60 bulan,” ujar Amani.

Amani mengungkapkan, modal dari LPDB-KUMKM tersebut seluruhnya disalurkan untuk mendukung permodalan usaha anggota yang bergerak dibidang UMKM. Dengan adanya penambahan modal usaha tersebut, terlihat jelas kemajuannya, ungkap Amani.

Menurutnya, modal usaha tersebut dialurkan kepada 339 orang anggota dengan penyaluran yang berpariasi. Mulai dari Rp6 juta hingga Rp20 juta, tergantung klasifikasi usaha mereka, lanjut Amani menjelaskan.

Amani juga menerangkan, terkait hal penyaluran tersebut mereka menerapkan sistem dengan beberapa persyaratan yang diantaranya sudah terdaftar sebagai anggota minimal 1 tahun, memiliki usaha, mempunyai track record yang baik serta memiliki agunan.

“Persyaratan itu sangat penting untuk meminimalisir resiko kemacetan dalam pengembalian modal, terbukti sampai sekarang kami belum menemukan kendala” tandas Amani.

Dengan keberhasilan tersebut dan merasakan dampak positif dari penyaluran dana bergulir tersebut, Amani menegaskan koperasinya akan kembali melakukan pengajuan pembiayaan dana bergulir kepada LPDB-KUMKM.

“Setelah melakukan pelunasan,  kami berencana akan membuat pengajuan dengan jumlah yang lebih besar agar semua anggota dapat merasakan manfaat secara  langsung dari LPDB-KUMKM ” tandas Amani.

Anggota Binaan Koperasi Konsumen Osseda Faolala

Kantor pusat Koperasi Konsumen Osseda Faolala memberi kepercayaan kepada kantor cabangnya di wilayah Nias Selatan 1 untuk mengelola dana dengan jumlah Rp911 juta.

“Adapun, penempatan dana itu seluruhnya disalurkan kepada anggota  yang bergerak disektor UMKM sesuai dengan kriteria yang sudah disepakati,” ujar Irawati Zebua, Kepala Cabang Koperasi Konsumen Osseda Faolala untuk wilayah Nias Selatan 1.

Irawati mengatakan, setelah koperasi yang dikelolanya mendapat pinjaman dana dari LPDB-KUMKM, antusias masyarakat untuk bergabung menjadi anggota mengalami peningkatan yang signifikan. Saat ini, kata Irawati, jumlah anggota untuk wilayah Nias Selatan 1 ada berkisar 1.500 orang dan kemungkinan besar menurutnya akan terus mengalami peningkatan.

Menurut Irawati, salah satu faktor yang mempengaruhi keadaan tersebut dikarenakan bunga pinjaman anggota yang lebih kecil. Dari yang sebelumnya 2%, sekarang menjadi 0,9 %, dan Ia mengakui bahwa bunga kecil itu baru bisa diterapkan setelah bermitra dengan LPDB-KUMKM.

Senada dengan itu, Suci Hati Saoyiago yang merupakan salah satu anggota binaan Koperasi Konsumen Osseda Faolala yang memiliki usaha dibidang menjahit mengatakan bahwa Ia sangat terbantu dengan dana pinjaman berbunga kecil yang disalurkan oleh koperasinya.

Suci yang sudah 3 tahun menjadi anggota koperasi mengaku mendapat tambahan modal pinjaman sebesar Rp20 juta, kini Ia sudah memiliki usaha tambahan yakni usaha jual sembako setelah mendapat penambahan modal.

“Sebelumnya penghasilan saya dari menjahit hanya sekitar Rp2,5 juta/bulan, sekarang bisa bertambah menjadi Rp.4-5 juta/bulan dan dengan bunga yang relatif kecil, saya tidak pernah sekalipun terlambat dalam pengembalian modal”  tandas Suci.

Tak jauh berbeda dengan Suci, anggota Produsen Osseda Faolala, yang berada di wilayah Nias Selatan 2, Liami Lase mengaku sangat terbantu dengan modal pinjaman berbunga yang lebih murah dari yang sebelumnya yang diberlakukan koperasinya.

Dengan modal pinjaman sebesar Rp10 juta, Liami dapat memberi tambahan modal usaha suaminya untuk menjalankan usaha dibidang kerajinan tangan dari tanah liat, meski Liase mengakui membutuhkan modal yang lumayan besar untuk membeli peralatan pendukung yang harganya lumayan mahal. karena saat ini Ia mengaku kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. (Jef)

Salurkan Rp 500,3 Miliar di Triwulan1 2022, LPDB KUMKM Mulai Garap Ekosistem Pertanian di Kopontren

JAKARTA:(GlOBALNEW.ID)- Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB KUMKM) hingga triwulan pertama 2022 berhasil menyalurkan dana bergulir sebanyak Rp500,3 miliar dengan rincian Rp300 miliar disalurkan melaui pola konvensional dan 203 miliar melalui pola syariah.

“Penyaluran pada triwulan 1/2022 ini melebihi target yang ditetapkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebesar Rp450 miliar,” kata Direktur Utama LPDB KUMKM, Supomo usai acara Berkah Ramadhan di Jakarta, Kamis (21/4).

Seharusnya, kata Supomo, pada triwulan pertama 2022 penyaluran bisa mencapai Rp600 miliar. Namun, karena pada Februari lalu ada kendala Covid-19 varian Omicron yang cukup tinggi maka penyaluran agak terganggu. “Tapi Alhamdullilah masih di atas target Kemenkeu,” katanya.

Supomo optimistis target penyaluran dana bergulir hingga tahun sebesar Rp1,8 triliun dapat tercapai. Salah satunya penyaluran dana bergulir ke koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) khususnya pesantren yang memiliki santri diatas 10 ribu santri

“Di pesantren rata-rata juga bergerak di sektor riil. Salah satu Kopontren yang sukses dibina adalah Kopontren Al Ittifaq Bandung yang kini memasok kebutuhan sayur2an di ritel modern.

LPDB KUMKM telah menyalurkan bantuan dana bergulir kepada Kopontren Al-Ittifaq sebesar Rp6,2 miliar pada 2020 dan Rp6,8 miliar pada tahun ini.

Bantuan ini dimanfaatkan oleh Kopontren Al-Ittifaq untuk pengembangan investasi baik dari areal tanam, teknologi pertanian modern, pelatihan dan perluasan rantai pasok dengan melibatkan pesantren-pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Lampung.

“Tambahan bantuan dana bergulir ini diberikan untuk penguatan Kopontren secara permodalan, mengingat permintaan modern market yang terus meningkat dari sebelumnya hanya 2 ton per hari menjadi 7 ton per hari untuk seluruh komoditas,” ungkapnya.

Selain permodalan, LPDB-KUMKM disebutkan Supomo, juga memberikan pendampingan, mulai dari laporan keuangan, teknik, hingga marketingnya untuk memperluas market.

“Sesuai arahan Pak Menteri Koperasi dan UKM, LPDB-KUMKM tidak boleh asal memberikan pembiayaan, tetapi harus melakukan pendampingan dan membantu plan bisnis hingga memastikan setiap koperasi penerima dana bergulir berkembang dan berdaya saing,” ucap Supomo.

Sejumlah Ponpes dengan jumlah santri banyak sudah dibidik untuk dijadikan ekosistem ekonomi pertanian, diantaranya Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo dan Tambak Beras Jombang, ketiganya berada di provinsi Jawa Timur.(Jef)

LPDB-KUMKM Dukung Pengembangan Komoditas Pertanian di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara

Jakarta:(Globalnews.id)-Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) siap mendukung pengembangan ekosistem komoditas pertanian yakni cabai merah melalui koperasi di Kabupaten Bara, Provinsi Sumatera Utara.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo saat menerima audiensi Bupati Kabupaten Batu Bara Zahir bersama Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Batu Bara Arif Hanafiah di Kantor LPDB-KUMKM, Jakarta, Rabu (13/4/2022).

“Ini bagus karena ada komitmen dari pemerintah daerah bahwa sebenarnya kalau sudah jalan bisnis ini, sudah matching dan ekosistemnya jalan, mereka tidak ragu lagi untuk mengeluarkan APBD-nya untuk membuat pabriknya, yang istilahnya factory sharing, jadi dia akan berjalan (ekosistem),” ujar Supomo.

Supomo menjelaskan, pemerintah daerah Kabupaten Batu Bara dapat mendukung ekosistem komoditas cabai dengan mengucurkan dana APBD untuk pembangunan pabrik pengolahan cabai.

Sedangkan LPDB-KUMKM bisa masuk kepada kebutuhan modal kerja dari koperasi yang menaungi para petani-petani cabai.

“LPDB-KUMKM akan masuk untuk working capitalnya atau modal kerja, memang yang terjadi di Kabupaten Batu Bara
ini supply chainnya bagus tetapi di hilirnya ini belum bagus,” kata Supomo.

Supomo menegaskan, LPDB-KUMKM dalam memberikan pembiayaan dana bergulir saat ini harus memastikan pembiayaan tersebut sesuai prinsip Trisukses LPDB yakni tepat penyaluran, tepat pengembalian, dan tepat pemanfaatan.

“Kami dalam memberikan pembiayaan harus ada analisa bisnisnya yang jelas dan lengkap, mulai dari tahap produksi, offtakernya, hingga para pengurus koperasinya, jadi kami jelas untuk memberikan pembiayaan ini, dan ini ayo kita kolaborasikan bersama,” tegasnya.

*Factory Sharing Komoditas Cabai*

Sementara itu, Bupati Kabupaten Batu Bara Zahir menjelaskan, saat ini Kabupaten Batu Bara merupakan wilayah sentra produksi cabai merah terbesar di Provinsi Sumatera Utara, setelah Kabupaten Karo.

“Kami bangun klaster bersama cabai merah karena ini pengaruh utama terhadap inflasi, dan saat ini saya ke LPDB-KUMKM mengharapkan koperasi di wilayah kami bisa mendapatkan permodalan dari LPDB-KUMKM,” kata Zahir.

Menurutnya, selain untuk pengendalian laju inflasi, pengembangan factory sharing ini juga dalam rangka membebaskan para petani cabai dari jeratan para tengkulak yang cenderung dominan memainkan harga cabai saat panen raya dan juga memberikan permodalan dengan bunga yang tinggi.

“Ini juga merupakan cara sebagai upaya melepaskan petani dari jeratan tengkulak, dan kami butuh pendampingan dari sisi pembelinya atau marketnya dari LPDB-KUMKM, ketika semua sudah inline dari hulu ke hilir, LPDB-KUMKM bisa masuk memberikan pembiayaan kepada koperasinya,” jelas Zahir.

Zahir berharap dengan dilakukannya audiensi dengan LPDB-KUMKM maka akan memberikan sinergi program komoditas pertanian yang lebih baik dan berkembang.

“Kami berharap pembinaan terhadap pencari buyer, jadi nanti ditemukan siapa offtakernya, kita punya jenis produk pertanian yakni cabai merah dan kita minta pendampingan dari LPDB-KUMKM untuk mencari siapa offtakernya, sehingga nanti bukan hanya untuk Kabupaten Batu Bara tetapi juga di Provinsi Sumatera Utara.(Jef)

LPDB-KUMKM Dorong Proses Pengalihan Dana Bergulir di Jawa Timur

Surabaya:(Globalnews.id)-Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) terus mendorong proses pengalihan dana bergulir yang disalurkan LPDB-KUMKM pada periode 2000 hingga 2007.

Untuk Provinsi Jawa Timur sendiri, total dana bergulir yang terserap pada periode 2000 hingga 2007 mencapai Rp379,52 miliar.

Sedangkan progress pengalihan ke rekening LPDB-KUMKM secara keseluruhan di Provinsi Jawa Timur baru mencapai 18,85 persen yakni sebesar Rp71,53 miliar dari total plafon yang dikucurkan kurang lebih sebesar Rp. 379,52 miliar.

Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo mengatakan, kedepan agar perbankan dan juga dinas koperasi dan UKM untuk membantu proses pengalihan dana yang masih di rekening penampungan atas nama koperasi ke rekening LPDB-KUMKM.

“Sehingga koperasi yang sudah lunas dan masih berjalan dengan baik dapat juga memiliki kesempatan untuk mengakses pembiayaan dari LPDB-KUMKM,” ujar Supomo saat Rapat Koordinasi Pengalihan Dan Bergulir di Kediri, Jawa Timur.

Supomo menambahkan, untuk penyaluran dana bergulir di Provinsi Jawa Timur sampai dengan 18 Maret 2022 sudah mencapai Rp2,44 triliun yang disalurkan kepada 603 mitra.

Selain itu, lanjut Supomo LPDB-KUMKM memiliki tanggung jawab dalam pelaksanaan pengalihan dana bergulir dari koperasi yang menerima bantuan program Kementerian Koperasi dan UKM Tahun 2000–2007 ke LPDB-KUMKM yang merupakan amanat dari Kementerian Koperasi dan UKM kepada LPDB-KUMKM.

Sementara itu, Direktur Keuangan LPDB-KUMKM Ahmad Nizar menambahkan, berdasarkan pencatatan data Nilai Realisasi Bersih (NRB) terdapat potensi pengalihan dana bergulir pada koperasi penerima program yang diundang saat ini, kurang lebih sebesar Rp5,88 miliar untuk Provinsi Jawa Timur.

Nizar berharap kepada bank pelaksana agar membantu dan mempermudah proses pengalihan dana bergulir dari rekening atas nama Koperasi ke rekening LPDB-KUMKM.

“Adapun kegiatan pengalihan tahun 2022 ini, kami masih tetap melaksanakan dengan skema melalui pendekatan dan bekerjasama dengan dinas yang membidangi Koperasi dan UKM Kabupaten/Kota dan Satgas LPDB-KUMKM, guna optimalisasi pengalihan dana bergulir ke rekening LPDB-KUMKM,” jelasnya.

*Permudah Akses Pembiayaan*

Menurut Supomo, di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ini, koperasi dan UMKM merupakan sektor usaha yang paling terdampak, dan juga paling teratas mampu bertahan di tengah pandemi.

“Koperasi dan UMKM telah memberikan kontribusi bagi kelangsungan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, seperti
kondisi sekarang paling kena dampak pandemi, tetapi paling bisa bertaha,” kata Supomo.

Dengan itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM tak tinggal diam dengan menerbitkan aturan berupa Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 04 Tahun 2020 tetang penyaluran dana bergulir 100 persen kepada koperasi, dan program pendampingan melalui inkubator wirausaha LPDB-KUMKM.

“LPDB-KUMKM diberikan mandat agar fokus pembiayaan kepada koperasi, dengan ini akses pembiayaan lebih mudah, murah, dan ramah dalam rangka meningkatkan kemampuan berusaha koperasi dan UMKM,” ungkap Supomo.

Diharapkan dengan alternatif instrumen pembiayaan melalui LPDB-KUMKM koperasi dapat tumbuh dan berkembang serta dapat memenuhi kebutuhan permodalan anggota.

Kemudian, meningkatkan perekonomian masyarakat melalui koperasi, mendorong percepatan kegiatan ekonomi sektor riil dan produktif masyarakat. dan mendidik masyarakat gerakan koperasi untuk bertanggung jawab terhadap pinjaman permodalan oleh pemerintah.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dinas maupun mitra perbankan atas sinergi dan kerja sama dalam proses pengalihan dana bergulir ini berjalan dengan baik,” pungkas Supomo.(Jef)

LPDB-KUMKM Dorong Pengembangan Ekosistem Sapi Perah Unpad jadi Percontohan

Bandung:(Globalnews.id)– Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) mendorong Universitas Padjajaran (Unpad) bersama koperasinya terus memperluas pengembangan ekosistem sapi perah hingga bisa menjadi percontohan atau pilot project bagi perguruan tinggi dan koperasi di Tanah Air.

“LPDB siap memberikan dukungan penuh kepada Unpad, lewat koperasinya yang baru dibentuk, baik dalam aspek permodalan, sebagai integrator maupun pengembangan model bisnisnya,” Kata Dirut LPDB, Supomo, di SPLP Unpad, Arjasari, Bandung, Senin (21/3/2022).

Supomo saat Panen Perdana Jagung untuk Pakan Ternak Sapi Perah KPBS Pengalengan itu menyampaikan, bahwa kegiatan ini merupakan realisasi dari Program Pengembangan Ekosistem Sapi Perah di KPBS Pangalengan, yang diinisiasi LPDB-KUMKM bersama Unpad dan KPBS Pengalengan sejak Juli 2021 lalu dan resmi dimulai penanaman benih jagung di lahan milik Unpad Arjasari pada 8 Desember 2021.

Pada lahan yang dijadikan demplot jagung di tanah seluas 1,3 hektare itu diperkiraan menghasilkan panen di kisaran 65 ton jagung. Jumlah produksi jagung ini ke depan akan terus bertambah sejalan dengan komitmen pihak Unpad bersama koperasinya untuk memperluas areal tanam dan mengembangan lima varietas unggulan jagung khusus pakan ternak.

“Kita dorong koperasi Unpad yang melakukan langsung pengembangan komoditas jagung ini, bahkan bisa membuat Silase jagung dengan KPBS Pangalengan sebagai offtaker-nya,” Ucap Supomo.

Supomo mengaku senang berkolaborasi dalam pengembangan ekosistem ini bersama Unpad dan KPBS Pengalengan. Hal ini lantaran hasil riset perguruan tinggi bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat dan sektor-sektor yang membutuhkan, dalam hal ini peternak sapi perah.

“Riset yang menghasilkan ya disini, sekali riset langsung membuahkan hasil dan mampu mengoptimalisasi produksi. Mudah-mudahan ini bisa menjadi piloting, karena pasti daerah lain banyak yang mau ikut meniru. Tidak hanya masyaarakat, perguruan tinggi lain pun pasti mau ikutan mencontoh,” katanya.

Lebih lanjut, Supomo juga mengusulkan Unpad untuk mengembangkan ternak sapi perah, dengan target penjualan bibitnya untuk peternak lokal. Hal ini juga bisa menjadi antisipasi jika terjadi oversupply jagung dan permintaan pakan dari peternak yang menurun.

“Sapi indukan bis akita impor dari New Zealand atau Australia, kita pelihara disini nanti anakan atau bibitnya bisa kita jual ke peternak di KPBS Pengalengan untuk pengganti sapi-sapi perah yang sudah tidak produktif. LPDB siap support ini, termasuk impor sapi indukan melalui koperasi,” katanya.

Ditempat yang sama, Dekan Fakultas Pertanian Unpad, Meddy Rachmadi menyampaikan komitmennya untuk meningkatan kerjasama dengan LPDB-KUMKM dan KPBS Pengalengan dalam Pengembangan Ekosistem Sapi Perah.

Saat ini, kata Meddy, Unpad sedang menyiapkan uji coba lima varietas unggulan jagung khusus pakan ternak yang belum dilepas. Selain itu juga akan menambah areal tanam jagung untuk meningkatkan produksi. “Kami sangat komitmen untuk pengembangan ini, apalagi disampaikan Dirut LPDB-KUMKM tadi bahwa pasar atau marketnya sudah tersedia,” kata Meddy.

Sementara itu, Ketua Pengurus KPBS Pangalengan, Aun Gunawan mengungkapkan, bahwa potensi pasar susu sangat besar, namun Indonesia baru bisa memenuhinya secara mandiri sebanyak 20 persen dari kebutuhan. Pun begitu dengan permintaan dari negara lain saat ini sedang meningkat.

Ia berharap dengan pengembangan jagung pakan ternak ini bisa meningkatkan produktivitas sapi perah khususnya di peternak KPBS Pangalengan. Apalagi, diungkap Aun, persoalan pasokan jagung sebagai pakan ternak selama ini terus berulang.

“Saya bersyukur dengan adanya panen jagung di lahan Unpad Arjasari ini bisa membantu peternak sapi di KPBS Pangalengan memenuhi kebutuhan pakan ternak, karena sapi perah itu sasarannya jagung tidak bisa yang lain. Pernah kita coba sorgum sebagai alternatif saat pasokan jagung sulit didapat dan mahal, tetapi tidak berhasil,”

Ia juga menyampaikan apresiasinya atas dukungan LPDB-KUMKM, Kementerian Koperasi dan UKM berserta Dinas Koperasi Kabupaten dan Kota Bandung atas perhatiannya terhadap peternak sapi perahan.(Jef)