Arsip Tag: Wirausaha baru

Ajang Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri Digelar untuk Percepat Peningkatan Rasio Kewirausahaan

Solo:(Globalnews.id)– Setelah menjaring lebih dari 6.000 pendaftar, ajang Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri telah resmi digelar sebagai salah satu upaya Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) dalam mempercepat penumbuhan dan peningkatan rasio kewirausahaan di Indonesia.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) Siti Azizah saat memberikan sambutan dalam Kick off Program Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri, di Solo, Minggu (25/09) mengatakan, program tersebut merupakan implementasi Perpres Nomor 2 Tahun 2022 tentang pengembangan kewirausahaan nasional dengan tujuan meningkatkan rasio kewirausahaan 3,95 persen di tahun 2024.

“Kami percaya bahwa program ini dapat melahirkan _agent of change_ di antara generasi muda yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, inovatif, memiliki keinginan untuk tumbuh secara berkelanjutan, dan mampu menciptakan lapangan kerja,” kata Siti Azizah.

Siti Azizah menjelaskan, saat ini pelaku usaha di Indonesia didominasi oleh usaha mikro sebesar 99 persen, sedangkan rasio kewirausahaan Indonesia saat ini berkisar di angka 3,47 persen.

Rasio kewirausahaan Indonesia itu masih di bawah beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand melampaui 4 persen, bahkan Singapura telah mencapai 8 persen.

“Pemerintah berupaya menambah jumlah wirausaha dan menaikkan skala pelaku usaha kecil ke usaha menengah agar struktur ekonomi menjadi lebih kuat. Diperlukan penambahan sekitar 1 juta wirausaha sampai tahun 2024,” ucap Siti Azizah.

Penambahan jumlah tersebut, kata Siti Azizah, untuk tujuan menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu dibutuhkan wirausaha yang berkualitas serta produktif terutama dari kalangan generasi muda atau millenial hingga mereka dari kalangan berpendidikan tinggi yang juga memiliki potensi tersebut.

Melalui program Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri akan diberikan sesi konsultasi kepada para calon wirausaha sesuai dengan kebutuhan masing-masing, mulai dari aspek pengembangan proses bisnis, penentuan target pasar, pemasaran digital, dan akses keuangan.

Azizah menerangkan hal itu tak lepas dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan KemenkopUKM sebelumnya, bahwa pelatihan atau workshop kerap tak berdampak besar karena tak sesuai dengan kebutuhan para calon wirausaha. Oleh karena itu, kali ini pelatihan benar-benar difokuskan pada apa yang dibutuhkan oleh peserta.

“Selain itu, program ini juga akan fokus pada wirausaha pemuda, wirausaha perempuan, dan wirausaha desa,” kata Siti Azizah.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan program pelatihan yang digelar semestinya beriringan dengan keinginan para pelaku UMKM untuk berubah dan berkembang menjadi lebih baik.

Menurutnya, pelaku UMKM harus mengubah pola pikir mereka dari upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga menjadi pengusaha sejati. Dengan menjadi pengusaha, mereka juga akan membuka lapangan kerja lebih luas lagi dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian.

“Kami harapkan teman-teman UMKM bercita-cita untuk jadi pengusaha. Jika cita-citanya pengusaha, mereka pasti mau memperbaiki ketika mendapat pendampingan,” kata Ema.

Tak sampai situ, ia juga meminta agar jangan hanya pelaku UKM yang didampingi, tetapi tim konsultan juga wajib mendapat pendampingan. Dengan begitu, tim pendamping akan memahami betul soal regulasi kewirausahaan dan bisa mengaplikasikannya dalam proses pendampingan UMKM.

“Jadi, acara ini sekaligus memberikan pengetahuan bagi teman-teman pendamping atau konsultan karena mereka ada di garda terdepan. Pascapelatihan, mereka juga harus terus dipasok dengan pengetahuan agar bisa mengikuti tren usaha yang berkembang saat ini,” ucap Ema.

Program Pahlawan Tumpuan Ekonomi Negeri menghadirkan kegiatan seperti konsultasi bisnis dan pendampingan usaha secara hybrid yang tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk konsultasi bisnis diikuti oleh 700 wirausaha, dibagi dalam 17 kelompok yang melibatkan 17 konsultan atau pakar di bidangnya. Kegiatan ini terdiri dari sesi konsultasi wirausaha dengan para pakar sesuai dengan masalah bisnis yang dihadapi melalui kegiatan konsultasi online, open consultation (ask me anything), dan juga konsultasi offline.

Sedangkan kegiatan pendampingan usaha diikuti oleh 2.400 wirausaha di 12 lokasi dengan fokus kepada wirausaha perempuan, pemuda, dan desa, serta melibatkan 90 pendamping usaha. Kegiatan ini terdiri dari sesi inspirasi usaha, pendampingan intensif secara hybrid, hingga kunjungan tempat usaha.

Program itu diawali dengan Open Call pada Februari 2022, assessment jiwa kewirausahaan yang meliputi motif, sikap, perilaku, pengetahuan dan keterampilan. Tahapan ini berhasil menjaring 3.100 peserta yang akan mengikuti kegiatan konsultasi bisnis dan pendampingan usaha selama 2 bulan.(Jef)

KemenKopUKM Gelar Workshop PKN di Medan Ciptakan Lebih Banyak Wirausaha Baru

Medan:(Globalnews.id)- Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) kembali melanjutkan rangkaian Workshop Pengembangan Kewirausahaan Nasional (PKN) di Medan, Sumatera Utara, setelah sukses melaksanakannya di Kabupaten Sukabumi, Kota Serang, dan Kota Kendari pada pekan lalu dalam upaya menciptakan lebih banyak wirausaha baru di tanah air.

Deputi Bidang Kewirausahaan, KemenKopUKM, Siti Azizah mengatakan Program Pengembangan Kewirausahaan Nasional akan dilaksanakan secara masif dan bertahap melalui “Campaign Movement Manager” yang dimulai dari Agustus sampai dengan Desember 2022.

“Kegiatan ini merupakan implementasi dari Perpres Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional tahun 2021-2024 dengan tujuan utama mempercepat pencapaian target RPJMN 2020-2024 berupa rasio kewirausahaan 3,95 persen dan penumbuhan wirausaha sebesar 4 persen pada tahun 2024,” kata Azizah ketika membuka acara Workshop Pengembangan Kewirausahaan Nasional secara virtual yang dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/9).

Kegiatan ini diikuti oleh 100 pelaku UMKM binaan PLUT KUMKM, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Utara, Dinas KUKM Kota Medan, Dinas KUKM Kabupaten Deli Serdang, Mahasiswa Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, dan Komunitas Tangan Di Atas (TDA).

“Hal ini hanya dapat terwujud jika ada ekosistem kewirausahaan yang didukung oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan yang di dalamnya termasuk dunia pendidikan, dunia industri, dan komunitas wirausaha,” kata Siti Azizah.

Lebih lanjut, menurutnya salah satu upaya untuk mengakselerasi kewirausahaan yakni dengan percepatan UMKM masuk dalam ekosistem digital, termasuk diantaranya percepatan UMKM onboarding pada e-katalog dengan target 40 persen pengadaan barang dan jasa pemerintah yang diprioritaskan untuk produk-produk dalam negeri dan usaha mikro dan kecil.

Siti Azizah menegaskan pelaku UMKM harus memanfaatkan kesempatan ini. Sebab dengan mengikuti workshop, mereka dapat memperbaiki kualitas produk dan meningkatkan kapasitas usaha mereka.

“Pelaku usaha harus mampu memanfaatkan kesempatan ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas produk, serta memperbaiki tata kelola usaha termasuk di dalamnya adalah meningkatkan kualitas SDM agar memiliki daya saing,” katanya.

Senada disampaikan Direktorat Advokasi Pemerintah Daerah, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Hengky Rizky yang menuturkan workshop ini merupakan langkah nyata untuk percepatan UMKM masuk ekosistem digital dengan cara onboarding di E-Katalog lokal dan nasional.

Di tempat yang sama, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, Pembangunan, Aset, dan SDA Provinsi Sumatera Utara, Agus Tripriyono menambahkan, jumlah UMKM di Provinsi Sumatera Utara telah mencapai 2,8 juta unit.

Dia mengatakan dengan adanya workshop ini bisa menjadi bukti perhatian pemerintah dan dukungan dalam upaya peningkatan kualitas dan produktivitas pelaku UMKM.

“Harapannya dengan workshop ini, UMKM di Sumatera Utara dapat memperoleh inspirasi untuk memanfaatkan peluang bisnis yang ada dan dapat memberi semangat dan motivasi dalam meningkatkan kesuksesan, kualitas, mampu mengatasi permasalahan UMKM, serta memajukan ekonomi kerakyatan,” ucap Agus.

Dalam kesempatan ini, hadir pula Founder dan CEO KEPUL Abdul Latif Wahid Nasution yang memberikan inspirasi pengembangan usaha. KEPUL merupakan startup di Kota Medan yang melakukan inovasi dalam upaya optimalisasi jual beli sampah yang dapat didaur ulang.

“KEPUL merupakan aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat yang ingin menjual sampah kepada para pengepul. Mereka yang bermata pencaharian dengan membeli sampah dari masyarakat untuk kemudian dijual kembali kepada pengepul besar, ataupun pabrik daur ulang sampah. Di KEPUL, masyarakat bisa menjual lebih dari 60 jenis sampah sampah organik dan non-organik,” ujar Abdul.

KEPUL berhasil memberdayakan masyarakat Medan. Saat ini KEPUL memiliki 50 karyawan yang terdiri dari driver yang berasal dari profesi pengepul sampah.

Sementara itu, Merchant Operations Ast Manager Grab Sumatera Utara Maulidya Novi Sucita memberikan tips dan trik untuk meningkatkan volume penjualan melalui strategi branding dan konten digital.

Dia membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada para peserta dengan menghadirkan foto produk yang menarik agar bisa onboarding di platform Grab sehingga dapat bersaing di pasar yang lebih luas.(Jef)

Akselerasi Rasio Kewirausahaan, KemenKopUKM Gelar Workshop di 3 Daerah

Sukabumi:(Globalnews.id) – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) menggelar Workshop Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang dilaksanakan secara serentak di tiga tempat yakni Kabupaten Sukabumi, Kota Serang, dan Kota Kendari untuk mengakselerasi rasio kewirausahaan 3.95 persen dan penumbuhan wirausaha empat persen sampai tahun 2024.

Asisten Deputi Ekosistem Bisnis Deputi Bidang Kewirausahaan KemenKopUKM, Irwansyah Putra mengatakan jumlah wirausaha di Indonesia masih belum mencapai angka yang ideal untuk bisa menjadi negara maju.

“Maka dari itu, perlu upaya untuk mewujudkan ekosistem kewirausahaan yang mendukung di antaranya melalui sinergi lintas sektor, standardisasi, dan integrasi pelaksanaan program baik di tingkat pusat maupun daerah, serta mengembangkan proses bisnis dalam ekosistem kewirausahaan,” ucap Irwansyah Putra dalam Workshop Pengembangan Kewirausahaan Nasional di Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (17/9).

Lebih lanjut, Irwansyah menambahkan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan kewirausahaan di tanah air, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden nomor 2 tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional.

Workshop kali ini juga merupakan salah satu langkah sosialisasi Perpres nomor 2 Tahun 2022 dan pendampingan UMKM untuk masuk ke dalam ekosistem digital.

“Ini merupakan kolaborasi dari berbagai pihak, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk bersama-sama mendorong peningkatan kompetensi UMKM dan transformasi UMKM menjadi wirausaha yang inovatif dan berkelanjutan,” ucap Irwansyah.

Irwan mengatakan, keinginan kuat dari pelaku usaha untuk naik kelas, dukungan berbagai program dan insentif dari pemerintah, serta sinergi dengan berbagai pihak diharapkan dapat mendorong lahirnya wirausaha yang tidak hanya tangguh dan inovatif tapi juga mampu menyerap banyak tenaga kerja sekaligus menjadi penggerak lahirnya wirausaha-wirausaha baru.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sukabumi, Yulipri menuturkan bahwa jumlah UMKM di Kabupaten Sukabumi mencapai 201 ribu dan yang sudah memiliki NIB sebanyak 46 ribu.

“Dari angka tersebut, 40 persen pelaku UMKM di Kabupaten Sukabumi ialah pedagang eceran, 30 persen sektor produksi dan selebihnya bergerak di sektor jasa,” kata Yulipri.

Dengan hadirnya Workshop Pengembangan Kewirausahaan Nasional ini dikatakannya akan sangat membantu pelaku UMKM di Kabupaten Sukabumi untuk mempunyai daya saing tinggi, mendapatkan pengetahuan dan informasi terkait legalitas usaha seperti NIB, PIRT, hingga Sertifikat Halal agar produk UMKM bisa masuk ke pasar lebih luas.

“Karena selama ini hanya dijual di warung saja harapannya bisa masuk ke ritel modern hingga sampai ekspor,” katanya.

Selain itu, keberadaan PLUT KUMKM Sukabumi dan para konsultan PLUT juga dikatakan sangat membantu pelaku UMKM dari hulu ke hilir, mulai dari memberikan pendampingan hingga pemasaran produk.

Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda (LPSE), UKPBJ Kabupaten Sukabumi M. Ali Subhan Pramana menambahkan, saat ini pihaknya memberikan kemudahan untuk menjadi penyedia di e-katalog lokal Kabupaten Sukabumi.

Menurutnya, proses untuk onboarding lebih mudah hanya membutuhkan KTP, NPWP, dan NIB. “LPSE siap mendampingi para pelaku UMKM onboarding di e-katalog lokal,” kata Ali.

Sementara itu, Perwakilan dari Tokopedia Dany Laksana memberikan tips dan trik untuk membuat produk UMKM memiliki nilai jual yang lebih, mulai dari foto produk yang menarik, membuat konten digital, dan onboarding di platform Tokopedia agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas.

Dalam kegiatan di Kabupaten Sukabumi kali ini, Tokopedia bertugas untuk membantu mengedukasi UMKM di bidang literasi digital hingga pendampingan untuk onboarding di platform Tokopedia.

Sedangkan di Banten dan Kendari hadir perwakilan dari marketplace Shopee dan Plaza Banten (platform lokal) serta peningkatan literasi hukum bagi UMKM. (Jef)

MenKopUKM Ajak Mahasiswa Berwirausaha dan Berkoperasi

Depok :(Globalnews.id) – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengajak mahasiswa untuk mulai membangun usaha dan berkoperasi.

“Sebab usaha yang dikembangkan bersama-sama di dalam wadah koperasi akan berpeluang besar untuk bisa mencetak generasi yang unggul dan mandiri di masa depan,” kata MenKopUKM Teten Masduki saat memberikan kuliah umum di hadapan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat pada Jumat (16/9) dengan tema ‘”Peluang dan Tantangan Koperasi Menghadapi Ekonomi Global”.

Hadir mendampingi MenKopUKM, Deputi Bidang Perkoperasian Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi dan Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB-KUMKM), Supomo.

Menteri Teten menjelaskan koperasi menjadi simpul kekuatan bagi pelaku UMKM untuk bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan bersatu dalam wadah koperasi para pelaku UMKM khususnya dari kalangan mahasiswa akan bisa saling menguatkan.

“Koperasi itu penting sekali, kita optimistis koperasi bisa menjadi salah satu cara UMKM untuk scalling up. Sebab kalau mau naik kelas sendiri-sendiri itu susah sekali, sehingga koperasi jadi metode yang tepat untuk naik kelas dan maju bersama,” kata Menteri Teten.

Dijelaskan bahwa meski koperasi menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteraan, namun sayangnya belum banyak dilirik oleh masyarakat. Tingkat partisipasi penduduk Indonesia yang menjadi anggota koperasi baru sekitar 8,41 persen. Padahal rata-rata dunia sebesar 16,31 persen.

Di sisi lain tantangan koperasi adalah masih rendahnya produktivitas dan nilai tambah koperasi di Indonesia. Selain itu juga mutu dan SDM serta tata kelola koperasi masih perlu ditingkatkan.

“Inilah yang menjadi PR kita, oleh sebab itu kita serius ingin membenahi koperasi agar lebih baik. Kita ingin koperasi mulai masuk ke sektor produktif dan inisiatif ini sudah kita lakukan salah satunya seperti di Koperasi Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Bandung yang menjadi koperasi pangan modern,” ucap Menteri Teten.

Lebih lanjut, dalam upaya meningkatkan SDM kompeten untuk koperasi, Menteri Teten mengapresiasi inisiatif dari Universitas Indonesia yang mewajibkan mahasiswa FEB untuk mengambil mata kuliah Perkoperasian. Menurutnya mata kuliah tersebut menjadi cara untuk memberikan pengetahuan yang benar terhadap para mahasiswa tentang koperasi.

“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kepada FEB UI yang ternyata menjadi satu-satunya Fakultas Ekonomi di Indonesia yang mewajibkan mahasiswanya belajar tentang koperasi,” kata Menteri Teten.

Pada kesempatan yang sama Dekan FEB UI Teguh Dartanto menjelaskan mata kuliah wajib tentang Koperasi diwajibkan agar mahasiswa memahami teori dasar koperasi sehingga kedepan bisa mencetak SDM yang kompeten di bidang perkoperasian. Dengan begitu diharapkan mahasiswa nantinya dapat menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperbaiki citra koperasi yang selama ini dinarasikan sebagai Soko Guru Ekonomi Nasional.

“Sebagai mata kuliah yang kekinian, kita melihat koperasi menjadi lembaga yang strategis untuk menuju SDGs (Sustainable Development Goal). Secara historis peran koperasi sangat penting sehingga perlu kita perkenalkan sejak dini,” kata Teguh Dartanto.

Dia memahami kondisi koperasi di Indonesia saat ini yang tidak semuanya sesuai dengan tujuan awal pendirian koperasi. Oleh sebab itu, FEB UI ingin memberikan pemahaman yang konkret kepada mahasiswanya terkait fakta koperasi di lapangan dengan teori dasar koperasi. Dia menjelaskan untuk mendorong kebangkitan koperasi di Indonesia perlu ada kebijakan afirmatif yang konsisten dilakukan pemerintah.

“Sebenarnya koperasi itu menjadi alat untuk maju bersama, namun masih ada PR yang harus kita lakukan sehingga kita ingin ke depan koperasi nantinya benar-benar menjadi soko guru ekonomi demi kesejahteraan masyarakat di Indonesia,” katanya.(Jef)

MenKopUKM Percepat UMKM Go Digital dan Tumbuhkan Wirausaha Muda Inovatif

Jakarta:(Globalnews.id) – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki berupaya mempercepat UMKM go digital dengan meningkatkan literasi dan iklim bisnis yang kondusif serta terus menumbuhkan lebih banyak wirausaha muda yang kreatif dan inovatif.

“Beberapa hal yang kami lakukan salah satunya dengan menciptakan ekosistem usaha yang baik dan sehat melalui Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional 2021-2024,” ucap MenKopUKM Teten Masduki dalam Webinar G20 bertajuk DEWG 2022 Digitalizing Indonesia’s Informal Economy, secara daring, Selasa (6/9).

Lebih lanjut, kata Menteri Teten, dukungan lain yang diberikan oleh pemerintah adalah dengan membuka akses pasar terhadap produk UMKM dan koperasi, melalui skema 40 persen belanja pemerintah atau sebesar Rp400 triliun untuk tahun 2022 yang dialokasikan khusus untuk menyerap produk-produk UMKM dan koperasi.

Selain itu, KemenKopUKM juga menyediakan fasilitasi pembiayaan melalui KUR dan LPDB. Tak hanya itu, platform digital juga telah dibangun untuk memberikan pelayanan bagi UMKM seperti ODS, OSS, SKOPI (financial hub dan credit scoring), Lamikro, ISSMEI (integrasi perijinan UMKM), Kampus UKM, LHKPN, Smesta, dan Katalog UKM.

Menteri Teten menegaskan, KemenKopUKM mendukung percepatan transformasi digital secara holistik dengan memprioritaskan digitalisasi pada 7 aspek, yaitu akses pasar, pemantauan kualitas produksi, akses keuangan dan pembiayaan, manajemen organisasi, kapasitas produksi, pasokan, dan distribusi atau logistik.

“Selain itu, kami juga memiliki strategi dalam pemulihan transformatif melalui program transformasi usaha informal ke formal dengan target 16 persen usaha mikro informal bertransformasi ke formal dan 26,5 persen sampai 30,8 persen proporsi UMKM dapat mengakses kredit lembaga keuangan formal,” ucap Menteri Teten.

“Ada juga program transformasi ke dalam rantai pasok. Targetnya 15,7 persen sampai 17 persen persentase kontribusi UKM terhadap ekspor non migas. Lalu modernisasi 500 koperasi. Terakhir program pertumbuhan wirausaha produktif dengan target 2,5 persen sampai 4 persen persentase pertumbuhan wirausaha serta penumbuhan 500 startup,” katanya.

Di tempat yang sama, Direktur Ekonomi Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika I Nyoman Adhiarna mengatakan saat ini masih terdapat tantangan untuk mendigitalisasi pelaku UMKM. Tantangan ini datang dari para pelaku UMKM yang masih memiliki keraguan untuk mengadopsi teknologi digital.

“Dari survei yang kami lakukan, penyebab keraguan ini karena berbagai hal. Faktor umur menentukan, juga ketidakpercayaan terhadap digital menjadi faktor lainnya. Ini berpengaruh terhadap adopsi teknologi digital,” kata Nyoman.

Padahal, menurut dia, adopsi digital ini membawa banyak manfaat bagi pelaku UMKM. Keuntungan yang didapat dikatakannya akan lebih banyak jika UMKM mengadopsi teknologi digital.

Maka dari itu, dia menekankan sangat penting diberikan literasi digital kepada masyarakat sehingga pelaku UMKM punya keyakinan tinggi terhadap pemanfaatan teknologi digital.

Sebagai salah satu contoh pemanfaatan teknologi digital untuk membawa keuntungan bagi pelaku UMKM datang dari platform GoToko. CEO GoToko Gurnoor Singh Dhillon mengatakan pertumbuhan warung merupakan tujuan utama dari pihaknya, sehingga sangat krusial bagi GoToko untuk memahami kebutuhan warung dan memberikan solusi terbaik untuk menyikapi operasional bisnis yang kurang efisien.

“Nilai GoToko yang berorientasi pada pelanggan, membuat kami memiliki proposisi untuk tak hanya ingin mengembangkan bisnis warung secara kuantitatif, melainkan juga menciptakan dampak sosial dengan bergandeng tangan bersama mendorong transformasi digital warung, sehingga mereka tidak tertinggal dalam melayani pelanggannya,” ucap Gurnoor.

Saat ini, platform GoToko telah mengekspansi layanan ke Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali guna membantu warung agar semakin berkembang dan meningkat bisnisnya, terutama di masa sulit akibat pandemi.

Sementara itu, Kepala Ekonomi Digital UMKM Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini memberikan rekomendasi kepada pemerintah agar dapat merangkul para pelaku UMKM untuk masuk ke ekosistem digital.

“Rekomendasi yang perlu dilakukan untuk mengikutsertakan UMKM informal ini sebagai bagian yang bisa menerima benefit digitalisasi yakni memperbaiki skill internal para pelaku UMKM informal, meningkatkan inovasi dan entrepreneurship UMKM, meningkatkan akses pembiayaan, dan meningkatkan infrastruktur digital,” kata Eisha.(Jef)

Kolaborasi KemenKopUKM, Telkomsel, dan Emtek Ciptakan Ekosistem Wirausaha yang Kondusif

Jakarta:(Globalnews.id)- Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) berkolaborasi dengan Telkomsel dan Emtek Group sepakat untuk menciptakan ekosistem kewirausahaan yang kondusif, untuk mendukung penumbuhan calon wirausaha menjadi wirausaha pemula dan akhirnya menjadi wirausaha mapan sebagaimana amanat Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional Tahun 2021-2024 yang telah diundangkan pada tanggal 3 Januari 2022.

“Ini merupakan peluang besar yang perlu kita manfaatkan. Untuk mencapai hal ini tentu kita perlu meningkatkan literasi digital UMKM baik dari proses produksi, distribusi, hingga pemasaran,” kata Asisten Deputi Pengembangan Ekosistem Bisnis Deputi Bidang Kewirausahaan KemenKopUKM Irwansyah Putra, pada acara Kick Off Digital Creative Entrepreneur (DCE), secara daring, di Jakarta, Rabu (24/8).

Oleh karena itu, lanjut Irwansyah, diperlukan adanya enabler dalam hal ini adalah ekosistem pendukung yang dapat memberikan pendampingan kepada UMKM secara menyeluruh. “Sehingga, dapat mengoptimalkan potensi untuk mendapatkan hasil berupa pertambahan nilai,” kata Irwansyah.

Bagi Irwansyah, literasi digital diperlukan tidak hanya untuk menghasilkan pertambahan nilai, tapi juga untuk mentransformasi UMKM menjadi wirausaha.

Terlebih lagi, Presiden Jokowi telah mengamanatkan untuk mendorong percepatan transformasi digital UMKM Indonesia dengan 30 juta UMKM ditargetkan onboarding ke ekosistem digital pada 2024 serta 1 juta UMKM onboarding platform pengadaan barang dan jasa pemerintah (LKPP).

Selain itu, Kementerian/Lembaga dan BUMN juga diminta untuk memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri.

“Hal ini menjadi panduan bagi kami dalam mempersiapkan program-program transformasi digital yang utuh, dari hulu ke hilir, serta melibatkan semua stakeholder terkait,” ucap Irwansyah.

Menurut Irwansyah, kegiatan ini sebagai bentuk nyata kolaborasi pemerintah, dunia usaha, serta berbagai pihak, untuk mendukung peningkatan kompetensi UMKM Indonesia. “Khususnya, dalam transformasi digital,” katanya.

Di waktu yang sama Vice President Corporate Communication Telkomsel Saki Bramono menyampaikan melalui program DCE ini bisa menjadi penyemangat bagi para entrepreneur untuk terus tumbuh menginspirasi dan menghadirkan inovasi dalam setiap proses bisnis yang akan dilakukan.

“Pentingnya digital pola pikir untuk mendorong kemajuan dan akselerasi pertumbuhan UMKM terutama dalam era transformasi digital,” kata Saki.

“Kami harap DCE dapat menjadi referensi akselerasi transformasi digital sektor UMKM sekaligus menjadi dampak positif untuk pemberdayaan UMKM dan tumbuh berkembangnya entrepreneur di Indonesia,” ucapnya.(Jef)

MenKopUKM: Inkubator Bisnis Jadi Mesin Pencetak Wirausaha Baru dari Kampus

Jakarta:(Globalnews.id)- Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan inkubator bisnis menjadi mesin pencetak wirausaha baru dari kalangan kampus atau perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan jumlah pengusaha di dalam negeri.

“Kami di Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) bersama kementerian/lembaga lainnya sedang bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dalam menghadirkan inkubator bisnis di kampus. Inkubator bisnis ini menjadi mesin dalam mencetak entrepreneur baru yang kompetitif dan inovatif,” kata MenKopUKM Teten Masduki dalam sambutannya di acara Kongres VI Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia bertajuk ‘Meneguhkan Kiprah Alumni UPI Membangun Negeri,’ secara daring, Rabu (24/8).

MenKopUKM mengatakan, penciptaan wirausaha baru dari kampus, tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional. “Ini perlu dierami, ditetaskan, dan dibesarkan dalam inkubator bisnis,” katanya.

Sehingga upaya ini yang menurut Menteri Teten penting dibahas dalam kongres ini, bagaimana UPI bisa memiliki inkubator bisnis yang bisa mencetak anak-anak muda menjadi entrepreneur.

Di saat yang sama, Pemerintah juga sedang mendorong digitalisasi, ditambah pembangunan infrastruktur internet yang terus dilakukan. “Bahkan laporan dari e-commerce, sekitar 97 persen wilayah Indonesia sudah bisa dilayani e-commerce. Target 30 juta UMKM terhubung digital di 2024 diharapkan bisa terwujud, karena saat ini baru 19,5 juta UMKM,” ucapnya.

Diakui Menteri Teten, pandemi COVID-19 mempercepat akselerasi UMKM Indonesia untuk go digital yang sebelumnya hanya 8 juta selama usia 10 tahun e-commrerce ada di Tanah Air. “Dengan pandemi lebih cepat, naik hingga 130 persen UMKM go digital hanya dalam waktu 2,5 tahun,” kata MenKopUKM.

Namun sayangnya di sisi lain, produk yang diperjualbelikan di e-commerce itu banyak merupakan produk impor. Sehingga bagaimana pendidikan bisa melahirkan entrepreneur bukan hanya pedagang tapi juga harus kuat di sektor produksi.

“Memang dulu ini sarekat dagang bukan sarekat produksi, tapi itu harus diubah saat ini mindset-nya sekarang kita ini juga sarekat produksi. Kita harus mengambil peluang ekonomi digital Indonesia yang diprediksi tahun 2030 menjadi terbesar di dunia atau mencapai Rp4.500triliun,” kata Menteri Teten.

Hal tersebut kata Menteri Teten, menjadi pengungkit agar kongres VI Ikatan Alumni UPI sehingga mampu memperkuat kolaborasi antara alumni dan perguruan tinggi, guna membangun ekosistem pemuda pengusaha yang mampu meningkatkan inovasi dan keragaman produk usaha.

MenKopUKM mencontohkan, Indonesia bisa belajar dari Nottingham Trent University yang memfasilitasi para mahasiswa untuk belajar membangun _sustainability in Enterprise_.

“Terutama ranah UMKM serta memberikan dana hibah kepada kelompok alumni yang mendirikan usaha berlandaskan ekonomi hijau dan produk berkelanjutan,” ucapnya.

Selain itu, bisa juga menjadikan University of Melbourne sebagai praktik terbaik yang telah menghadirkan Business Innovation Lab yang berfokus pada pengembangan UMKM, serta pelatihan desain _thinking_ bagi para mahasiswa untuk mengembangkan usahanya. Mulai dari studi kelayakan bisnis, pengembangan produk, hingga international shipping atau ekspor yang didukung oleh alumni sebagai mentor.

Berbagai dukungan dari UPI dan para alumni dibutuhkan, guna mendukung lahirnya kreativitas dan inovasi berbagai produk dan model bisnis UMKM yang berkelanjutan.

“Saya kira UPI sudah banyak alumninya yang menjadi pebisnis seperti Pak Enggartiasto Lukita yang juga mantan Menteri Perdagangan ini, untuk sama-sama kita membangun inkubator bisnis, dengan mengambil benchmark beberapa contoh sukses kampus luar negeri seperti Nottingham maupun University of Melbourne,” ucap MenKopUKM.

Tak hanya itu, dukungan ini kata Menteri Teten, diharapkan mampu meningkatkan peringkat Indonesia dalam Global Innovation Index tahun 2021, di mana Indonesia menempati posisi 87 dari 132 negara dalam inovasi wirausaha.(Jef)

Jaring Wirausaha Dari Kampus, MenKopUKM Unggulkan Inkubator Usaha

Cirebon:(Globalnews.id) – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki berupaya menjaring dan mencetak lebih banyak wirausaha dari kampus melalui inkubator usaha yang dikembangkan di lingkungan kampus.

“Saat ini perlu bagi seluruh kampus di Tanah Air, untuk memiliki kurikulum yang mendidik mahasiswa-mahasiswanya untuk menjadi wirausaha muda dengan menciptakan lapangan kerja, sehingga bukan lagi sebagai pencari kerja melalui inkubator usaha di kampus,” kata MenKopUKM Teten Masduki saat memberikan pembekalan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) bagi Dosen dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Young Entrepreneur Wanted di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/7).

Dalam kesempatan tersebut hadir Rektor UMC Arif Nurrudin, anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron, serta ratusan mahasiswa UMC.

Menteri Teten mengatakan, Cirebon menjadi salah satu kawasan yang memiliki banyak sentra UMKM. Untuk itu, sudah selayaknya banyak wirausaha lahir dari Kota Udang ini. Seiring dengan hal tersebut, Pemerintah juga sedang menyiapkan program Sejuta Wirausaha Mapan baru dalam rangka meningkatkan rasio kewirausahaan nasional.

Diketahui, rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,18 persen. Di mana untuk menjadi negara maju setidaknya rasio kewirausahaan harus mencapai minimal 4 persen. Menteri Teten mengatakan, Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) saat ini berkeliling kampus di Indonesia, untuk menyiapkan mahasiswa sebagai pencipta kerja.

Salah satunya yang sudah berjalan adalah, kerja sama antara KemenKopUKM dengan Universitas Prasetya Mulia, di mana mahasiswa yang turun di lingkungan masyarakat lewat Kuliah Kerja Nyata (KKN) ke desa-desa, membantu pelaku UMKM untuk memperbaiki kemasan dan menyusun business plan.

Dari pengalaman itu, kata Menteri Teten, selain berdampak menambah pengetahuan UMKM dalam mengembangkan bisnisnya, ternyata banyak mahasiswa setelah KKN justru mempunyai ide bisnis. Untuk itu katanya, penting bagi kampus dalam menyiapkan inkubator mahasiswa.

“Kami ingin menciptakan wirausaha yang punya jiwa kompetitif. Terutama berbasis SDM berkualitas supaya produk UMKM tak kalah bersaing,” ujarnya.

Menurut MenKopUKM, setiap tahun, ada sekitar 1,7 juta sarjana baru yang mencari kerja. Sementara total angkatan kerja baru mencapai 3,5 juta sarjana baru namun yang terserap hanya 2 juta sarjana. Mengingat pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen, setiap 1 persennya hanya mampu menyerap 400 ribu pekerja. Sisanya jika tak ingin menjadi pengganguran harus mulai dari sekarang menyiapkan kurikulum untuk _enterpreneur_.

“Lapangan pekerjaan sebesar 90 persen disiapkan oleh UMKM. Syukur Alhamdulillah, dari survei yang ada, sekitar 73 persen anak-anak muda tak ingin jadi pegawai mereka ingin jadi pengusaha. Untuk itu, harus diubah kurikulum di kampus jangan mencetak pegawai tapi cetak pengusaha, inkubator siapkan menjadi pelaku usaha,” kata MenKopUKM.

Melalui penerapan kurikulum kampus merdeka saat ini, kata Menteri Teten, mahasiswa diharapkan dapat hadir di tengah-tengah masyarakat terutama untuk menjadi seseorang yang kreatif, adaptif, dan mampu membantu memecahkan permasalahan di tengah masyarakat (Kemdikbud, 2021).

“Pemuda adalah aset setiap negara. Studi McKinsey Global Institute menyebutkan bahwa pemuda yang merupakan 16 persen dari populasi global, merupakan kunci dari masa depan suatu negara untuk tetap tumbuh melahirkan inovasi, implementasi pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron mengatakan, sebagai mitra kerja dari KemenKopUKM, Komisi VI berkomitmen untuk mendukung upaya kementerian dalam mendorong Sejuta Wirausaha Mapan baru dari kampus. UMKM sebagaimana kehadirannya berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat.

“Banyak ide dan gagasan menarik dari KemenKopUKM namun mesti diakui anggarannya terbatas. Ke depan, kami harap ide dan gagasan bisa dikolaborasikan dengan _resource_ yang ada di Komisi VI, sehingga mempermudah akses teknologi dan permodalan bagi UMKM. Jangan sampai yang terjadi justru persaingan antar UMKM,” katanya.

Herman menyatakan, kemampuan UMKM untuk pulih dan bertahan dari krisis patut diapresiasi. Upaya KemenKopUKM dalam membina serta mendorong wirausaha dari kampus ke kampus pun perlu mendapat dukungan penuh berbagai pihak.

Menteri Teten juga berharap, Komisi VI DPR memiliki _resources_ yang cukup besar untuk memperkuat UMKM. “Jika kita sinergikan seluruh sumber daya yang ada, porgram inkubator di kampus ini menjadi model yang baik, untuk dalam menghubungkannya ke pembiayaan dan market,” katanya.(Jef)

MenKopUKM Gaungkan Revolusi Kewirausahaan Cetak Entrepreneur Tangguh Inovatif

Bandung:(Globalnews.id) – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki terus menggaungkan semangat Revolusi Kewirausahaan untuk mencetak lebih banyak entrepreneur yang tangguh, inovatif, dan berbasis teknologi.

“Upaya ini bertujuan untuk melahirkan wirausaha yang tangguh, inovatif, kreatif, serta berbasis teknologi dan riset,” kata MenKopUKM Teten Masduki pada acara Silaturahmi dan Halal Bihalal Alumni Universitas Padjajaran (Unpad), di Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (3/7).

Tak hanya itu, Menteri Teten juga terus menerapkan berbagai program untuk mendongkrak rasio kewirausahaan di Indonesia yang saat ini masih berada di level 3,18 persen. Salah satu programnya adalah menciptakan satu juta wirausaha baru di Indonesia.

“Padahal, untuk bisa disebut sebagai sebuah negara maju, rasio kewirausahaan minimal harus 4 persen,” kata MenKopUKM, di hadapan Rektor Unpad Prof Rina Indiastuti dan ratusan alumni Unpad yang sebagian besar diantaranya adalah para pelaku UMKM.

Lebih dari itu, MenKopUKM juga terus memperkuat kapasitas dan kualitas produk UMKM di pasar digital. “Produk UMKM kita harus membanjiri seluruh e-commerce yang ada dengan produk yang kompetitif,” kata Menteri Teten.

Untuk mewujudkan itu semua, Menteri Teten mengakui tak bisa berjalan sendiri. “Kita gandeng banyak pihak, termasuk perguruan tinggi dan inkubator bisnis. Dan saya mengapresiasi Unpad yang telah menjelma menjadi Kampus Sahabat UMKM dengan banyak melakukan pembinaan dan pendampingan,” kata MenKopUKM.

Menteri Teten pun berharap perguruan tinggi mampu mengubah pola pikir lulusannya, dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja dengan menjadi seorang enterpreneur. “Kita akan terus mengembangkan ekosistem wirausaha di Indonesia, termasuk akses kepada pembiayaan,” kata MenKopUKM.

Lokomotif Besar

Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir sepakat bahwa seluruh stakeholder harus menjaga ekosistem bisnis di Indonesia tetap kondusif. “Kita butuh lokomotif besar untuk meningkatkan performa UMKM,” kata Erick.

Erick menambahkan, pihaknya sudah melakukan refocussing bank-bank pemerintah. Misalnya, Bank BRI yang semula 80 persen porsi kredit untuk korporasi, kini sudah 85 persen untuk segmen UMKM. Bahkan, khusus untuk UMKM, dibangun holding antara Bank BRI, PNM, dan Pegadaian

“Ada potensi ekonomi digital sebesar Rp5.400 triliun yang bisa dinikmati pelaku UMKM. Itu terbesar di Asia Tenggara, dan kita jangan terus-menerus menjadi pasar bagi produk dari luar,” kata Erick.

Sementara Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menekankan bahwa potensi ekonomi digital bisa dimanfaatkan untuk membesarkan UMKM. “Lewat digital, kita bisa memperluas pasar hingga ke pasar global,” kata Arsjad.

Bagi Arsjad, untuk menuju pada Indonesia Emas 2045, dibutuhkan beberapa kondisi yang harus terpenuhi. “Kita perlu adanya kepastian hukum lewat UU Cipta Kerja, stabilitas politik dan ekonomi, serta kolaborasi lintas sektor,” kata Arsjad. (Jef)

Perkuat Pendanaan Startup, KemenKopUKM Gelar Matchmaking Entrepreneur Financial Fiesta

Jakarta:(Globalnews.id)- Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) mengadakan sebuah inisiasi penjaringan bagi wirausahawan berbasis inovasi teknologi sebagai bentuk upaya pemberdayaan, serta pengembangan UMKM.

Program bertajuk Matchmaking Entrepreneur Financial Fiesta (EFF) merupakan program penjaringan bagi seluruh wirausaha berbasis inovasi teknologi (Startup) di seluruh Indonesia untuk memfasilitasi entrepreneur mendapatkan sumber daya pendanaan.

“Upaya ini diharapkan dapat mempercepat proses penciptaan wirausaha menuju wirausaha mapan,” kata Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan UKM Siti Azizah, dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (16/6).

Kegiatan ini menyasar langsung kepada startup pada ekonomi kreatif di 7 sektor strategis pertanian (agrikultur), perikanan, edukasi, kesehatan, pariwisata, maritim, dan logistik.

“Ini dalam rangka agenda pemulihan atau transformative recovery berfokus pada pengembangan usaha yang ramah lingkungan,” kata Azizah.

Menurut Azizah, Program Matchmaking tersebut untuk memfasilitasi wirausahawan Indonesia (inovasi teknologi/startup). “Saya mengajak seluruh stakeholder, wirausahawan, maupun investor, untuk turut serta dalam Program Matchmaking EFF 2022,” imbuh Azizah.

Caranya, dengan melakukan registrasi pada 16 Juni 2022 melalui website effstartup.id.

Program tersebut terdiri dari 6 tahapan. Pertama, penjaringan 500 startup menjadi 10 wirausaha terpilih hasil kurasi berdasarkan kualifikasi.

Kedua, pelatihan matriks secara daring oleh expert berpengalaman (Metrics Coaching dan Iterasi Coaching).

Ketiga, pendampingan menuju matchmaking oleh para tenaga ahli. Keempat, fasilitasi akses pendanaan lokal dan internasional. Kelima, fasilitasi Startup Showcase bagi pelaku usaha berunjuk gigi di depan para investor. “Dan keenam, berkesempatan bersinergi dengan KemenkopUKM,” papar Azizah.

Azizah menambahkan, Program Matchmaking EFF 2022 menjadi salah satu agenda dalam mendukung pemulihan transformatif sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 2 tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional. “Salah satunya mendorong pembiayaan UMKM bergeser dari sektor perdagangan ke sektor riil,” pungkas Azizah.(Jef)