Petani Kopi Kintamani dilengkapi Alat Sortasi dari Korea

Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didampingi Bupati Bangli I Made Gianyar dan Ketua Koperasi Tani MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Kintamani Bali, I Dewa Made Raka, meninjau alat baru sortasi kopi (pemilihan biji kopi) bantuan dari Korea Selatan , di Kintamani, Bali, Jumat (3/3).
Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga didampingi Bupati Bangli I Made Gianyar dan Ketua Koperasi Tani MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Kintamani Bali, I Dewa Made Raka, meninjau alat baru sortasi kopi (pemilihan biji kopi) bantuan dari Korea Selatan , di Kintamani, Bali, Jumat (3/3).

KINTAMANI:(Globalnews.id)-Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga meninjau langsung alat baru pemilahan biji kopi (sortasi) bantuan dari Korea Selatan untuk Koperasi Tani MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Kintamani Bali, di Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Jumat (3/3).

“Agar operasional alat sortasi ini berjalan optimal, Kemenkop akan mendorong pihak Korea untuk memberikan pelatihan operasional alat ini kepada operator mesin. Sehingga, nantinya, dengan alat sortasi itu bisa dihitung dengan jelas berapa kilogram kopi, berapa perhari, berapa perjam, yang bisa dihasilkan dengan alat bantuan Korea itu”, kata Puspayoga kepada Ketua Koperasi Tani MPIG Kopi Kintamani Bali, I Dewa Made Raka, yang didampingi Bupati Bangli I Made Gianyar.

‎Hal itu dikatakan Puspayoga menanggapi keluhan Made Raka atas belum pahamnya cara mengoperasikan alat sortasi itu. Meski sudah ada buku manualnya dalam bahasa Indonesia, namun tetap kesulitan dalam memahami. “Apapun kendala dan kekurangan dari optimalisasi alat sortasi itu, Kemenkop dan UKM harus membantu agar semuanya bisa berjalan lancar”, tandas Menkop.

Yang jelas, lanjut Puspayoga, bantuan kongkrit dari Korea itu sebagai tindaklanjut dari MoU (Nota Kesepahaman) yang sudah ditandatangani Kemenkop dan UKM dengan pihak Korea di New York, USA, pertengahan tahun 2016 lalu. ‎Sejumlah kerjasama itu diantaranya pendirian Indonesian Korea Technology Exchange Center (IKTEC) dimana Korea siap memberikan alih tehnologi atau R&D (Reserach and Developtment), pembiayan (financing)  dan tenaga ahli.

Selain itu, kerjasama dalam bidang pengembangan kewirausahaan pemula (start up), dimana pihak Korea siap memberikan pelatihan, pendampingan bagi pengusaha start up Indonesia. Juga kerjasama pelatihan produk  bakeri dan kopi, sampai pendirian mini Korea Town di Jakarta. ‎”Yang di Kintamani ini wujud dari janji Korea yang akan membantu pengembangan produk kopi di Kintamani, Bali”, kata Puspayoga.

Di samping itu, Menkop berpesan kepada Ketua Koperasi Tani dan sejumlah petani kopi yang hadir untuk tidak merusak tanah lahan yang ada, hanya demi menambah jumlah produksi kopi.

“Biar saja produksi kopi seperti ini, jangan ditambah bila harus merusak lingkungan dan tanah. Dampak kerusakan alam itu takkan sebanding dengan yang dihasilkannya. Selain itu, harus juga tetap mempertahankan kopi organik denga pupuk kandang kotoran sapi, jangan sampai menggunakan bahan-bahan kimia”, ‎tukas Puspayoga.

Puspayoga juga berharap kekhasan produk kopi di Kintamani‎ bisa dijadikan sebagai sebuah destinasi wisata baru berupa Agro Wisata Kopi Kintamani. “Bisa kerjasama dengan pihak pariwisata seperti biro perjalanan, hotel, dan sebagainya. Potensinya besar, karena penikmat kopi di seluruh dunia itu sangat besar jumlahnya. Sehingga, Kopi Kintamani semakin terkenal dan mendunia”, papar Menkop lagi.

Dalam kesempatan itu, Ketua Koperasi Made Raka menjelaskan bahwa koperasi yang didirikan pada 2012 itu sudah memiliki mitra dengan sejumlah eksportir sehingga produk kopi Kintamani bisa memasuki pasar Korea, Jepang, dan Australia.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami sudah mengekspor kopi ke tiga negara itu sebanyak 200 ton. Saya berharap dengan bantuan alat sortasi dari Korea dan kerjasama dengan Kemenkop dan UKM, termasuk alat kemasan produk, kami bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kopi”, kata Made Raka.

Menurut Made Raka, Kopi Arabika Kintamani sudah dikenal karena memiliki karakteristik dan aroma yang khas serta cita rasa yang enak. “Pada 2008, produk kopi arabika dari Kintamani sudah mendapat Sertifikat Indikasi Geografis (Produk IG) yang pertama di Indonesia”, ungkap dia.

Sedangkan Bupati Bangli I Made Gianyar menandaskan bahwa saat ini koperasi tak bisa melepaskan diri dari kemajuan teknologi dalam memasarkan produk yang dihasilkannya.

“Harus sudah mulai memasuki dunia marketing e-commerce. Dengan begitu, kalau kita punya produk yang bagus, maka pasar yang akan mencari kita. Kopi dan juga jeruk memang produk unggulan Kabupaten Bangli”, pungkas I Made Gianyar.(jef)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.